www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Selasa, 19 Juli, 2005 13:42
Ziarah Sendangsono
oleh Admin

Disela-sela tugas kantor yang kebetulan saat itu ke Yogyakarta penulis menyempatkan diri melakukan perjalanan ziarah pada akhir Mei 2005. Ini kunjungan ke Sendangsono kedua kalinya setelah lewat lebih dari 25 tahun yang lalu, kunjungan dahulu itu adalah dalam rangka tur sekolah, jadi penulis sudah lupa sama sekali gambaran tentang Sendangsono, baik lokasi daerahnya maupun keadaan tempatnya.

Gua Maria Sendangsono adalah gua Maria tertua di pulau Jawa, tahun 2004 lalu baru saja memperingati usianya yang ke 100 tahun, meskipun secara resmi dinyatakan sebagai tempat ziarah tahun 1929 akan tetapi pada tanggal 14 Desembar 1904 Romo Van Lith SJ untuk pertama kalinya membaptis 171 warga setempat memakai air yang keluar dari sendang (mata air) yang muncul diantara dua pohon sono (semacam beringin?) dari situlah nama Sendangsono ini berasal dan hitungan usia 100 tahun tempat ziarah ini.

images1Pada zaman dulu tempat itu sudah menjadi tempat perhentian sejenak istirahat orang-orang yang melakukan perjalanan dari kecamatan Borobudur (Magelang) ke kecamatan Boro (Kulon Progo) demikian juga sebaliknya. Pada masa sekarang Sendangsono terletak di Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, kira-kira 40km sebelah barat Yogyakarta. Untuk kesana bisa ditempuh lewat jalan dari yang mengarah ke Borobudur atau Muntilan, jadi setelah melewati Borobudur ikuti petunjuk yang sayangnya kurang lengkap ke arah Sendangsono. Atau bisa juga langsung ke arah barat dari Yogyakarta menuju desa Kalibawang, meskipun tidak ada petunjuk tetapi dengan bertanya orang akan dengan mudah menunjukan jalan ke Kalibawang lalu ke Sendangsono karena tempat itu sudah dikenal sejak lama. Juga anda tidak kesulitan jika memakai kendaraan umum, bahkan tersedia juga ojek motor yang bisa mengantar dari jalan raya ke dalam lokasi demikian juga sebaliknya. Jalan di desa Kalibawang cuma pas untuk mobil sehingga harus saling menepi berpapasan dengan kendaraan lebih besar, jalan lumayan mulus dengan sedikit turun naik. Sendangsono terletak beberapa kilo dari jalan raya, masuk ke jalan yang lebih kecil, dibeberapa tempat jalan rusak sedikit tetapi mobil sedan masih bisa lewat dengan mulus dan jalan turun naik lumayan tinggi. Tempat parkir lumayan besar akan tetapi jika musim ziarah atau liburan tempat itu bisa menjadi sangat padat, itu penulis alami meskipun saat itu akhir dari bulan ziarah (Mei) dan hari minggu biasa akan tetapi tempat parkir penuh dan terlihat juga bus-bus rombongan.

Memasuki jalan menuju lokasi seperti biasa dikiri kanan terdapat penjual barang-barang rohani, anda mungkin bisa membeli lilin atau jerigen atau botol berbentuk patung Bunda Maria untuk menyimpan air Sendangsono dan pedagang seperti ini juga terdapat didalam lokasi jadi tidak perlu kuatir. Ingatan penulis melayang puluhan tahun lalu, ingatan menyusuri jalan salib dari perhentian pertama sehingga terakhir, penulis mempunyai gambaran jalan salib di Sendangsono seperti jalan salib di tempat-tempat yang pernah penulis kunjungi, gua Maria Tritis atau Kaliori yang jalan salibnya sangat panjang. Seingat penulis dulu juga jalannya sangat panjang, tetapi rupanya penulis keliru, perhentian jalan salib yang dulu hanya tinggal sisanya saja, begitu masuk di sebelah dikiri ada jalan sisa jalan salib itu, dan dijalan itu hanya tersisa perhentian ke 13 atau 12 (lupa) tidak ada yang lain. Disebelah kanan dibangun jalan salib baru yang lebih kecil dalam arti jarak satu perhentian ke perhentian lain sangat dekat hanya beberapa langkah saja. Diorama-diorama kisah sengsara Yesus Kristus berbentuk kecil saja dan dinaungi semacam atap, penulis tinggal mengikuti satu grup penziarah yang melakukan doa jalan salib, lagi-lagi karena jaraknya dekat dan banyak penziarah maka kita harus sabar menunggu giliran untuk berpindah dari perhentian-perhentian jalan salib tersebut. Disekitar tempat tersebut dibuat semacam tempat-tempat duduk bertingkat dari batu, dengan maksud tempat ini bisa digunakan sebagai tempat menyelengarakan misa kudus, seperti yang pernah dilakukan pada perayaan Natal 2004.

images2Di akhir jalan salib, kita akan memasuki pelataran yang ditengahnya dibagian bawah terdapat keran air untuk mengambil air dari mata air Sendangsono, yang terletak disebelah atasnya, sumber mata airnya yang dibentuk seperti sumur ditutup tidak bisa dilihat, di bagian depan sendang itulah dibuat gua Maria dan dihadapan gua Maria itulah terletak sepasang pohon "sono" itu. Gua Maria itu dibuat mirip dengan gua Maria Lourdes yang terkenal itu, sehingga seringkali gua Maria Sendangsono disebut Lourdes of Java. Tentu saja didepan patung Maria tersebut diletakan banyak lilin dan bunga untuk dipersembahkan. Penulis beruntung mendapat tempat strategis untuk berdoa yaitu persis ditengah-tengah pohon sono jadi persis juga didepan patung Bunda Maria. Disela-sela lilin yang dibakar diletakanlah jerigen-jerigen yang berisi air yang sebelumnya diambil dari keran di sebelah bawah, dengan maksud supaya menyucikan air tersebut dengan berdoa. Penulis juga menyaksikan seseorang mengorek-mengorek tumpukan sisa-sisa lelehan lilin yang memang banyak sekali, sisa-sisa lilin itu kemudian dikumpulkan oleh orang itu, ternyata ia adalah penduduk lokal yang diberi ijin mengumpulkan sisa lilin tersebut untuk didaur ulang, tetapi dalam suasana penuh orang berdoa seperti yang terjadi saat itu, aksinya tersebut bisa mengganggu kekusyukan berdoa. Setelah berdoa, anda mungkin bisa juga menuliskan permohonan anda di secarik kertas untuk kemudian dibakar pada sebuah wadah besar yang ada disebelah gua Maria.

Setelah berdoa, bisa dilanjutkan dengan membeli suvenir atau benda rohani pada kios yang ada dibelakang gua Maria, kios ini ramai dikunjungi mungkin karena kios ini satu-satu yang terletak di tempat paling strategis tersebut. Dibelakangnya lagi ada kapel kecil yang saat itu pintunya tertutup, di sebelahnya ada lokasi pemakaman yang di pintu masuknya diletakkan salib yang amat besar. Itu adalah makam Katolik untuk penduduk sekitar, makam tertua yang kelihatan mencolok adalah makam sepasang suami istri katekis pertama di desa Kalibawang. Yang unik ternyata bukan hanya penduduk lokal yang dimakamkan disitu, juga banyak makam orang luar dan tentu saja orang dari Jakarta. Di depan lokasi makam ada pelataran terbuka dan disinilah biasanya orang-orang beristirahat sambil membuka bekal, meskipun ada tercantum peringatan bahwa Sendangsono bukan tempat rekreasi tetapi suasana yang ditimbulkan oleh orang-orang yang melepas lelah seperti layaknya sedang berpiknik saja, bedanya mereka tidak berisik.

Disamping sering padatnya tempat ziarah ini sehingga mengurangi kekusyukan waktu melakukan ziarah, gua Maria Sendangsono adalah tempat ziarah yang "wajib" dikunjungi jika anda hendak melakukan perjalanan ziarah ke Jawa Tengah.



copyright April 2005 - www.guamaria.com