www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Selasa, 16 Augustus, 2005 13:54
Lembah Karmel, Cipanas, bagian kesatu
oleh Admin

Dikalangan komunitas Katolik nama Lembah Karmel amat sangat terkenal, bukan hanya karena sosok kharismatik Romo Yohanes Indrakusuma, O.Carm, atau biasa dipanggil Romo Yohanes saja yang mengembangkan lembah Karmel, melainkan juga karena tempatnya begitu istimewa, dimana kuasa Allah yang menaungi tempat itu juga luar biasa, suatu tempat yang tidak akan anda dapati di daerah lain.

Lembah Karmel terletak di desa Cikanyere, Cipanas, Puncak, Jawa Barat, meskipun di tempat itu terdapat gua Maria lengkap dengan perhentian-perhentian jalan salib tetapi biasanya orang yang datang kesitu tidak melakukan ziarah jalan salib seperti yang biasa dilakukan di lokasi gua Maria lain. Tempat itu lebih dikenal sebagai tempat retret, bukan tempat retret biasa akan tetapi utamanya adalah retret untuk penyembuhan batin, juga berbagai retret untuk keluarga dan remaja. Yang membuat tempat ini amat sangat terkenal adalah diselenggarakanya misa khusus untuk penyembuhan baik untuk fisik akibat sakit penyakit ataupun untuk untuk batin dan rohani.

Sejarah

images1Sejarah lembah Karmel, berkaitan dengan sejarah dan hidup Putri Karmel serta Carmelitae Sancti Eliae (CSE) yang tidak bisa dipisahkan dari inspirasi Bapa pendirinya, yaitu: Rm. Yohanes Indrakusuma, O.Carm, seorang karmelit yang memberikan bentuk hidup sehari-hari maupun pelayanan serikat ini. Pada tahun 1976, bersama seorang imam karmel lainnya, Romo Yohanes memulai suatu cara hidup yang baru di Ngroto, sekitar 30 kilometer dari Kota Malang. Satu tahun kemudian temannya meninggalkan pertapaan itu dan kembali ke Biara Karmel di Batu sehingga Romo Yohanes harus tinggal seorang diri. Pada tahun-tahun pertama di Ngroto kelihatannya memang cara hidup seperti inilah yang paling sesuai dengan kerinduannya, namun ternyata Tuhan mempunyai rencana yang lain bagi dirinya. Banyaknya tamu yang datang dan karena letaknya yang terlalu dekat dengan jalan besar yang menghubungkan Kota Malang dengan beberapa lokasi objek wisata akhirnya mendorong Romo Yohanes untuk pindah ke tempat yang lebih sunyi dan tenang, maka pindahlah ia seorang diri ke Ngadireso. Pertapaan yang baru ini diresmikan oleh Romo Provinsial Karmel waktu itu, Romo J.C.D. Poespowardojo, O.Carmel. Di tempat inilah suatu era baru pelayanan dan pengabdian Romo Yohanes Indrakusuma, O.Carm. dimulai. Ketika Romo Yohanes pindah ke Ngadireso, dalam hatinya hanya ada niat untuk hidup dalam kesunyian, mungkin dengan beberapa orang saja yang mau menjalani hidup yang serupa. Tetapi sekali lagi rencana Tuhanlah yang harus digenapi. Cara hidup itu ternyata menarik jauh lebih banyak orang daripada yang dapat dipikirkan sebelumnya oleh Romo Yohanes.

Pertama-tama memang belum ada yang serius, namun sesudahnya mulai ada beberapa putri yang serius dan kemudian memang menjadi semakin mantap mau mengikuti cara hidup tersebut. Maka pada tanggal 19 Maret 1982 berdirilah Serikat Putri Karmel, dimulai dengan dua orang suster dan seorang pemudi yang bertekad untuk mengikuti cara hidup tersebut di bawah bimbingan Romo Yohanes. Kemudian bergabung pula dengan serikat ini, beberapa orang pemudi pada tahun yang sama. Inspirasi dasar mereka jelas: cita-cita luhur para pertapa Karmel awal yang diintegrasikan dengan Pembaharuan Karismatik. Dua unsur yang saling melengkapi, Pembaharuan Karismatik membuka pengalaman akan Allah dalam kuasa Roh Kudus, sedangkan spiritualitas Karmel merupakan sarana yang sangat kaya untuk memperdalam dan mengendapkannya.

images2Baru setelah para suster Putri Karmel berkembang, mulai ada pemuda-pemuda yang tertarik untuk ikut menjalani cara hidup tersebut. Pada tahun 1985 datanglah 3 orang pemuda dan menggabungkan diri dengan Romo Yohanes dan para suster. Ketika itu belum jelas status mereka: menggabungkan diri dengan Ordo Karmel atau berdiri sendiri, namun setelah banyak berdoa memohon bimbingan Tuhan mereka mengambil keputusan untuk berdiri sendiri sebagai serikat yang otonom. Maka pada tanggal 20 Juli 1986, Hari Raya Nabi Elia, Bapa dan Inspirator para karmelit, berdirilah Carmelitae Sancti Eliae. Kelak di kemudian hari jelaslah bahwa memang serikat ini dibutuhkan dan sungguh dipakai oleh Tuhan untuk melayani umatNya. Pada permulaannya para frater menetap di Pertapaan Karmel, pada bagian yang terpisah dari para suster. Namun ketika kedua serikat ini ternyata berkembang dengan cukup pesat dengan jumlah anggota yang terus bertambah, mulailah dipikirkan suatu tempat tinggal yang baru bagi para frater. Maka dibelilah sebidang tanah di Kota Malang yang akan dijadikan biara CSE. Namun rencana Tuhan memang lain bagi mereka. Tanah ini ternyata baru akan dibangun dan digunakan bertahun-tahun kemudian karena CSE harus pindah bukan saja dari Ngadireso, tetapi juga Jawa Timur.

Entah kenapa setiap perbuatan yang walaupun tampak baik dan benar-benar diberkati selalu mengundang dua pandangan: pro dan kontra. Putri Karmel dan CSE juga tidak terluput dari pertentangan antara dua gagasan ini. Inti persoalannya sebenarnya adalah pengintegrasian unsur karismatik dalam kehidupan pertapaan dan kehidupan para suster Putri Karmel. Walaupun dalam kenyataannya, pelayanan para suster sangat berkembang dan membawa banyak jiwa kepada pertobatan yang radikal dan sungguh-sungguh kepada Kristus, hal ini juga mengundang banyak ketidak-senangan dari pihak-pihak tertentu. Dan yang paling berat adalah ternyata Bapak Uskup Malang sendiri tidak menyetujui pengintegrasian ini dan berusaha mendesak para suster untuk melepaskan unsur karismatik dalam kehidupan, pendidikan, dan pelayanan mereka. Para suster Putri Karmel merasa bahwa mereka harus mempertahankan identitasnya sebab sebagaimana karisma pelayanan kepada orang miskin bagi para suster Misionaris Cintakasih Muder Teresa, atau tembok klausura bagi para suster karmelites, demikian pulalah arti pembaharuan karismatik bagi para suter Putri Karmel

Karena persoalan tersebut dan juga jumlah anggota kedua serikat yang semakin bertambah, jelaslah bahwa Romo Yohanes bersama para frater harus pindah dari Ngadireso. Lalu kemudian Romo Yohanes menghadap Bapak Uskup Bogor dan menceriterakan semua peristiwa serta pengalaman rohaninya itu. Akhirnya setelah mempertimbangkan segala kemungkinan dengan masak, melalui doa dan proses penegasan rohani, pilihan jatuh ke Keuskupan Bogor. Setelah beberapa persiapan termasuk mulainya pembangunan di atas tanah yang cocok untuk pertapaan baru di Keuskupan Bogor, akhirnya pada bulan Desember 1988, Romo Yohanes bersama 12 orang fraternya meninggalkan Malang menuju Bogor lalu mereka melanjutkan perjalanan sampai di tempat yang dituju: sebidang tanah yang cukup luas di Desa Cikanyere, Cipanas. Tempat ini terletak di ketinggian 800-950 m di atas permukaan laut dengan iklim yang nyaman dan sejuk, pada waktu itu suasananya masih sangat sepi. Suatu tempat yang sunyi dengan keindahan alam yang alami, bebas polusi, sungguh membantu orang untuk berdoa dan kontemplasi. Misa pertama di tempat yang baru ini dirayakan pada tanggal 14 Desember 1988. Carmelitae Sancti Eliae telah menerima suatu tempat tinggal baru yang indah dari tangan kemurahan Bapa.

Putri Karmel terus berkembang dan pada tanggal 2 Pebruari 1992, Mgr. H.Y.S. Pandoyo, O.Carm, uskup Malang, memberikan pengakuan resmi kepada Putri Karmel sebagai sebuah associatio privata. Dengan pengakuan ini, eksistensi Putri Karmel semakin diteguhkan dan pada tangal 8 Desember 2001 oleh uskup yang sama, Putri Karmel mendapat pengakuan resmi sebagai associatio publica serta disusul pada tanggal 2 Pebruari 2002, oleh uskup yang sama, Serikat Putri Karmel mendapat pengakuan resmi sebagai Serikat Diosesan. Sebagai serikat yang berspiritualitas Karmel maka pada tanggal 19 Desember 2002, Putri Karmel dan Carmelitae Sancti Eliae bergabung secara resmi (affiliasi) ke dalam keluarga besar Karmel. Pada tanggal 3 Juni 1990, pada Hari Pentekosta, Bapak Uskup Bogor, Mgr. Ignatius Harsono, berkenan memberikan pengakuan resmi kepada CSE sebagai suatu serikat associatio publica. Dengan pengakuan ini, CSE semakin mengembangkan layar perahunya. Dari hari ke hari mereka semakin berkembang dan permintaan dari umat untuk pelayanan mereka pun semakin bertambah. Mereka mulai melakukan perjalanan pelayanan sampai ke daerah-daerah lainnya di Indonesia sampai ke pelosok-pelosoknya. Bahkan akhir-akhir ini mereka, bersama-sama para suster Putri Karmel, mulai melakukan pelayanan sampai ke luar negeri.

Dalam waktu singkat banyak umat yang mulai berdatangan ke lembah Karmel ini. Banyak yang mengalami pertobatan yang mendalam serta cintakasih Allah melalui hamba-hambanya yang tidak pantas ini. Sebagai bagian dari pembaharuan yang menyebar ke seluruh dunia ini, walaupun hanya merupakan serikat kecil yang tidak berarti dari segi usia, pengalaman, maupun kuantitasnya, CSE ternyata sungguh-sungguh dipakai olehNya.

diambil dari: http://www.holytrinitycarmel.com/pkarm-cse/

dilanjutkan ke bagian kedua



copyright April 2005 - www.guamaria.com