www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Selasa, 23 Augustus, 2005 16:05
Lembah Karmel, Cipanas bagian kedua
oleh Admin

Disebut Lembah Karmel karena memang letaknya di suatu lembah yang ada di desa Cikarenye, tempat itu mulanya adalah pertapaan Rm. Yohanes setelah beliau pindah dari pertapaannya di Ngadireso Malang, mengenai pola hidup dan pengabdian yang dipilih oleh Rm. Yohanes bisa dibaca di bagian kesatu dari tulisan ini.

Hanya pada waktu-waktu tertentu Rm. Yohanes "turun" dari pertapaannya untuk melayani umat yang datang, sementara sehari-hari pelayanan dilakukan oleh frater-frater dari Carmelitae Sancti Eliae dibantu juga oleh umat yang lain. Menyelenggarakan retret untuk keluarga/remaja serta penyembuhan luka batin adalah salah satu bentuk pelayanan yang diberikan dan diminati oleh banyak orang. Salah satu bentuk pelayanan paling populer adalah diselenggarakannya misa khusus penyembuhan yang diadakan setiap minggu kedua dan keempat setiap bulannya. Jika pada waktu jadwal rutin tersebut bentrok dengan jadwal hari besar Katolik maka misa khusus itu ditiadakan.

images1Lembah Karmel terletak di desa Cikarenye, Cipanas, Puncak, Jawa Barat kira-kira 120km dari Jakarta. Seperti yang anda ketahui daerah Puncak yang berhawa sejuk adalah tempat rekreasi favorit bagi warga Jakarta, begitu populernya sehingga warga Jakarta ramai-ramai menanamkan asetnya didaerah ini dengan mendirikan ratusan perumahan, hotel, tempat rekreasi yang sebagian kemudian merusak lingkungan sekitarnya. Salah satu contoh "kerusakan lingkungan" adalah ikut pindahnya kemacetan dari tengah kota Jakarta ke daerah Puncak. Kemacetan ini sungguh mengganggu, bagi warga Jakarta yang sehari-hari macet mungkin hanya pasrah dan tidak begitu terpengaruh tetapi bagi warga daerah lain akan kaget melihat macetnya Puncak. Jangan coba-coba melintasi Puncak saat musim mudik atau liburan tanpa persiapan matang baik untuk kendaraan ataupun fisik dan mental, kemacetan bisa menjadi "neraka", karena anda bisa terjebak seharian.

Untuk menuju ke Lembah Karmel, ambil jalan menuju daerah Puncak, lalu ke Cipanas, kemudian keluar dari jalan raya ambil jalan menuju ke perumahan Kota Bunga atau ke taman bunga nusantara (TBN) (ada petunjuk dipinggir jalan), lokasinya kalau dari arah Jakarta tidak jauh dari resort puncak pass. Ikuti petunjuk ke arah TBN (kira-kira 13km), setelah melewati TBN terus jalan, lalu ambil belokan ke kiri, tidak jauh lalu belok kekanan naik atas untuk mencapai lokasinya. Ada banyak kendaraan umum yang melewati jalur ini karena ini adalah jalur alternatif. Ketika kami berkunjung pada hari Minggu kedua di bulan Agustus 2005, pagi-pagi sebelum jam 8, Puncak sudah macet, kemudian arah ke TBN dihadang oleh rusaknya sebagian jalan menuju ke sana, meskipun mobil sedan masih bisa melewatinya dengan mudah tapi lubang-lubang dijalan sungguh menggangu kenyamanan. Seakan itu belum cukup, anda juga diganggu oleh berbagai orang yang meminta sumbangan di sepanjang jalan, sebagian memaksa, ada juga kreatif dengan memberi bunga atau permen sebagai ganti sumbangan anda, sebagian lagi tidak bisa dihindari anda harus bayar untuk bisa lewat.

Akan tetapi semua kesulitan itu langsung terlupakan ketika anda memasuki kawasan lembah Karmel, udaranya sangat sejuk, serta mata langsung dimanjakan dengan pemandangan indah dari lanskapnya yang tertata sangat indah, rumput-rumput terpotong rapi, serta tanaman hias yang disusun serasi menghiasi kebun-kebunnya, terlihat jelas bahwa lanskapnya didisain secara profesional. Tempat parkirnya sangat luas sehingga terlihat puluhan bus besar leluasa parkir, waktu itu adalah minggu kedua dibulan Agustus sehingga banyak sekali umat yang berdatangan untuk menghadiri misa penyembuhan. Dari tempat parkir kami langsung berjalan menuju keatas, melewati bangunan-banguan kantor, kantin, toko barang rohani yang ada disebelah bawah.

Setelah itu kita akan sampai dilapangan luas yang dikelilingi taman-taman yang tertata rapi sangat indah, ditengah-tengah berdiri patung Yesus yang sangat besar sedang mengulurkan tangan memberi berkat. Dibelakangnya berdiri kapel St.Maria Bunda Karmel, tidak seperti kapel (gereja kecil) yang biasa kita kenal, kapel ini sangat besar dengan langit-langit sangat tinggi seperti layaknya sebuah gereja yang besar. Tidak terdapat bangku untuk duduk melainkan disediakan bantal tipis sebagai alas serta dilengkapi meja kecil untuk menaruh buku atau bisa juga dipakai untuk duduk sambil berlutut. Dibagian belakang ada bangku diperuntukkan bagi orang tua atau orang yang tidak bisa duduk dilantai karena sakit. Diluar disebelah kapel inilah berdiri gua Maria-nya, tidak besar dan ada air mengalir dibawah patung Bunda Maria. Didepannya ada pelataran cukup luas yang biasa dipakai untuk berbagai kegiatan. Dibawahnya dibangun keran air untuk mengambil air suci dari sumber air diatas gua Maria. Disamping kapel ada deretan ruangan kecil berpintu kaca, didalamnya ada meja dan bangku, rupa-rupanya ini adalah ruangan untuk konsultasi dalam berbagai kegiatan retret.

images2Untuk misa penyembuhan hari itu, kapel yang besar inipun tidak bisa dipakai karena terlalu kecil untuk menampung ribuan umat yang datang. Untuk itu dibelakang kapel dibangun ruang serba guna, yang dinamakan ruang serba guna St. Theresia. Tidak jelas mengapa disebut ruang serba guna padahal dilihat struktur dan isinya itu boleh dibilang itu adalah gereja. Jarak dari tempat parkir kesini cukup jauh dan jalannya menanjak sehingga banyak orang tua yang tidak kuat, akan tetapi jangan kuatir karena disediakan kendaraan khusus untuk angkutan orang tua. Didepan bangunan tersebut ada patung St. Theresia yang sangat besar, disamping bangunan ada replika patung Pieta yang sangat terkenal itu. Bagi yang tidak tahu, Pieta adalah salah satu masterpiece karya Michelangelo, menggambarkan Bunda Maria sedang memangku jenazah Yesus setelah diturunkan dari salib. Bangunannya sangat besar dan luas, mirip gedung pertunjukan, umat duduk diundakan yang dibuat seperti tangga, dibagian bawah disediakan bangku khusus untuk orang tua dan didepan altar untuk misa orang juga bisa duduk dilantai beralas bantal tipis. Yang unik disediakan tumpukan kantong plastik dipintu masuk, rupanya ini untuk menyimpan sepatu atau sandal karena tidak diperkenankan memakainya didalam gedung untuk menjaga kebersihan. Seperti biasanya, hari itu ribuan umat mengisi seluruh tempat sampai penuh terisi hingga kebagian paling atas, banyak juga yang datang dengan kursi roda, beberapa tampak dalam kedaan payah. Misa dimulai jam 9:30, dan dilakukan dengan gaya karismatik yang memikat, sayang proyektor layar lebarnya kurang jelas apalagi jika dilihat dari samping sehingga teks lagu-lagu yang ditampilkan tidak jelas terbaca. Berbeda dengan biasanya, untuk menerima hosti bukan umat yang maju kedepan akan tetapi justru para frater yang datang menghampiri umat untuk membagikan hosti, ini dikarenakan struktur tempat duduknya yang menyerupai tangga sehingga lebih praktis jika frater yang menghampiri umat.

Diakhir misa adalah saat dinanti-nanti, yaitu dimulainya proses misa penyembuhan. Didepan terdapat dua orang yang tampaknya diberi kuasa roh kudus untuk melihat tangan Tuhan bekerja menyembuhkan orang-orang yang percaya bahwa hanya Tuhan yang sanggup menyembuhkan segala sakit dan penyakit. Mereka secara bergantian mengatakan si bapak ini atau si ibu itu yang duduk disebelah sana karena kepercayaannya yang mendalam maka Tuhan Allah berkenan menyembuhkan mereka. Bukan hanya sakit karena penyakit yang berhasil disembuhkan, juga penderitaan batin seseorang karena suatu masalah berhasil disembuhkan. Mereka juga mengatakan banyak orang yang sudah lama hidup tersesat atau melupakan Yesus yang datang ke gereja itu bertobat dan kembali menerima Yesus kedalam hati mereka. Dikatakan juga jika bagian tubuh yang sakit terasa ada hawa panas yang mengalir maka itu adalah tanda bahwa Allah berkenan menyembuhkan orang itu. Beberapa orang dengan penyakit tertentu disuruh berdiri sambil memegang bagian yang sakit untuk kemudian mereka memohon supaya Allah berkenan menyembuhkan mereka itu. Pada beberapa orang nyata bahwa Allah menyentuh mereka, tidak jauh dari tempat penulis, seseorang menjerit-jerit menangis karena Allah telah menyentuh dan menyembuhkan penyakitnya. Para petugas juga sibuk kesana-kemari menenangkan orang-orang yang histeria karena tersentuh entah hatinya ataupun dipulihkan dari sakitnya. Pemandangan itu sungguh menggetarkan kepada siapapun yang melihatnya, tidak mudah diterima akal sehat akan tetapi jika anda percaya maka Allah akan memulihkan apapun penderitaanmu, seperti yang kami saksikan saat itu. Setelah misa berakhir, maka orang-orang dapat maju kedepan altar untuk berdoa mohon kesembuhan, juga anda bisa minta para frater untuk membantu mendoakan, karena banyaknya peminat tetapi petugas terbatas maka umat harus antri menunggu giliran.

Setelah misa lalu kami beristirat, kemudian kami berniat melihat dimana perhentian jalan salibnya. Seperti sudah disebut didepan umat biasanya datang bukan untuk melakukan ziarah jalan salib seperti pada lokasi gua Maria lain. Perhentian jalan salibnya tersebar di taman ditengah lokasi lembah Karmel, dioramanya kecil terbuat dari kayu akan tetapi ukirannya berkualitas tinggi, ditaruh pada semacam rumah kecil beratap. Jika anda baru pertama kali kesitu maka anda bisa bingung mencari nomor urutan peristiwa jalan salib, kami harus mencari-cari urutannya karena tidak diletakan berurutan tetapi tersebar. Yang tidak biasa kami lihat juga adalah tidak terdapat lilin yang ditaruh di bawah perhentian-perhentian tersebut, mungkin karena ada misa penyembuhan sehingga seluruh taman termasuk perhentian jalan salib dibersihkan. Juga tidak ada orang lain selain kami disetiap perhentian tersebut.

Setelah perhentian ke 8 kami kehilangan perhentian ke 9, setelah mencari-cari rupanya perhentian ke 9 ada di jalan aspal menanjak yang ada disebelah paling kanan lembah Karmel, jalan itu tembus keatas sampai ke gereja St. Theresia, dan disamping jalan-jalan itu ada wisma-wisma yang biasa dipakai untuk tempat menginap pada waktu retret. Setelah melewati perhentian 11 kami berjalan terus dan mendapat kenyataan kami sampai di perhentian 13, kemana yang ke 12 (Yesus disalibkan)? tidak mungkin rasanya kami melewati perhentian penting tersebut tanpa melihatnya. Sempat dibuat bingung juga sebentar tetapi segera sadar bahwa harus memeriksa keatas bukit yang memang ada disisi jalan tersebut, benarlah bahwa angka 12nya diletakan diatas, dilereng bukit sehingga tidak mudah terlihat. Uniknya lagi tidak seperti ditempat lain, pada salibnya yang besar dan tampaknya terbuat dari stainless steel itu tidak ada patung Yesus. Disamping tempat itu ada tangga menuju keatas bukit yang diatasnya ada rumah, kesalahan kami adalah tidak memperhatikan salib itu karena cuma melihat tangganya saja. Diperhentian 9 keatas ini rupanya tidak sempat dibersihkan karena masih terlihat sisa-sisa lilin. Jalan salibnya kemudian berakhir dijalan yang menuju kearah gedung serba guna terpisah agak jauh dengan gua Marianya.

Lembah Karmel memang unik dan istimewa, terlebih dengan adanya misa penyembuhan itu, jika anda ingin disembuhkan tidak bisa hanya dengan datang sekali saja kesini, anda perlu usaha keras berdoa memohon kesembuhan setiap hari, bertobat serta menjalani hidup sebagai orang Katolik yang benar sehingga Allah barang kali berkenan mendengarkan doa anda. Jika anda berkesempatan mengikuti misa penyembuhan itu, jangan sekali-kali ada keraguan dihati, percayalah hanya Allah yang maha kuasa penguasa langit dan bumi yang dapat menyembuhkan segala sakit dan penyakit.



copyright April 2005 - www.guamaria.com