www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Senin, 10 Oktober, 2005 15:07
Gua Maria Sumber Kahuripan, bagian pertama
oleh Admin

Jika ada yang bertanya dimana gua Maria Sumber Kahuripan Sukabumi, pasti orang akan keheranan dan balik bertanya: ada gua Maria di Sukabumi? dimana? Keheranan itu juga langsung menyergap ketika ada ajakan untuk berkunjung ke gua Maria tersebut disuatu Minggu pada bulan Oktober 2005.

Pada daftar lokasi gua Maria yang umumnya merujuk pada daftar yang terdapat di website www.pondokrenungan.com gua Maria tersebut tidak ada dalam daftar, dalam website Keuskupan Bogor juga hanya sekilas disebut. Itu karena gua Maria ini relatif masih baru, dibangun pada tahun 2000 dan baru diresmikan pada tahun 2004 oleh keuskupan Bogor. Jadi masih belum dikenal, padahal kehidupan menggereja sudah ada sejak lama didaerah itu dan gua Maria ini punya keunikan tersendiri.

Sejarah

Keberadaan Gua Maria Sumber Kahuripan berkaitan erat dengan keberadaan gereja Santo Fransiskus Asisi Cibadak yang berada di paroki St. Fransiskus Cibadak, kira-kira 20km dari kota Sukabumi, wilayah ini berada dibawah Keuskupan Bogor. Paroki Cibadak mempunyai lokasi tanah yang sangat luas, mungkin di antara Paroki keuskupan Bogor tak ada bandingannya. Lokasi gereja terletak di atas tanah yang luasnya hampir dua hektar, maka dari itu tidak salah kalau di katakan bahwa Paroki Cibadak adalah Paroki kaya. Namun, dibalik itu semua bisa pula di katakan Paroki paling miskin, karena sampai saat ini jumlah umatnya sekitar 350 jiwa (data tahun 2005). Suatu jumlah umat yang paling kecil diantara Paroki se-Keuskupan Bogor.

images1Walaupun demikian, Paroki ini dapat berbangga hati, karena Paroki ini memiliki Gereja yang cukup megah. Berukuran 18x20 meter dan cukup unik. Keunikannya adalah karena bentuknya segi empat sama sisi dengan atap persegi lima dan mempunyai tangga beton sepanjang 17 meter dengan lebar 4 meter, karena letak gereja itu pada suatu ketinggian (tanah bukit), tiang depan tidak tegak lurus tetapi miring sedangkan tinggi gereja melebihi panjang dan lebar gereja itu sendiri. Mungkin gereja ini merupakan Gereja terunik di keuskupan Bogor atau bahkan mungkin diseluruh Indonesia, karena altarnya pun terbuat dari batu kali asli. Gereja ini baru selesai dibangun dan di resmikan pada tanggal 12 Juni 1994 oleh Mgr. Valentinus Kartosiswojo, Pr. yang saat itu menjabat sebagai Vikaris Jenderal. Proses pembangunan gereja ini tergolong cukup lama memakan waktu lebih dari dua tahun sejak peletakan batu pertama pada tanggal 3 Mei 1992 oleh Mgr. Ignatius Harsono, Pr.

Tidak ada catatan persis kapan mulainya gereja di Paroki Cibadak, tetapi dari catatan buku baptis, pada tahun 1961 sudah ada umat yang dibaptis di paroki ini dan menurut kesaksian sesepuh di paroki Cibadak ini, jauh sebelum tahun itu yakni sekitar tahun 1952 sudah ada kegiatan gereja. Keberadaan gereja Cibadak ini merupakan suatu mukjizat, betapa tidak? Pada tahun 1970-1980 hasil kolekte di Paroki ini berkisar antara Rp.10-15 ribu. Berarti, pada tahun 1980-1990 juga tidak jauh berbeda, karena jumlah umatnya hanya berkisar antara 100-150 jiwa. Kalau Gereja dengan jumlah umat seperti itu bisa mendirikan gereja yang megah, bukankah hal itu merupakan mukjizat? Itulah karya agung Tuhan yang patut kita puji dan syukuri.

Awal mula adanya kegiatan hidup menggereja sampai terbentuknya gereja Cibadak tidak terlepas dari kehendak Romo Tjipto untuk mendirikan sekolah di sekitar Cibadak. Pada sekitar tahun 1952-an beliau membuka Sekolah Guru (SGB) dengan meminjam tempat Di SDN I Cibadak. Selanjutnya yayasan membeli tanah dan mendirikan sekolah SGB, TK, SD dan SMP. Pada tahun 1959 SGB ditutup dan diganti dengan SPG yang pada akhirnya juga ditutup pada tahun 1990. Hingga saat ini yang masih bertahan tinggal TK, SD dan SLTP yaitu sekolah Mardi Yuana. Sekitar tahun 1960 di sekolah itu mulai diadakan perayaan Ekaristi, meskipun dengan jumlah umat yang sangat kecil, inilah awal dimulainya gereja ditempat itu.

Pada tahun 1978 paroki ini menjadi pusat pembinaan guru-guru Inpres Keuskupan Bogor. Setiap bulannya ratusan guru Inpres dari segala penjuru Jawa Barat berkumpul. Sejak saat itu pulalah paroki Cibadak menjadi banyak dikenal orang, selain sebagai tempat pembinaan guru-guru Inpres, dilokasi ini juga terdapat taman air, yaitu kolam renang yang pada saat itu merupakan satu-satunya kolam renang untuk umum di wilayah Cibadak. Melalui kolam renang itu pula paroki Cibadak menjadi semakin dikenal. Di kompleks paroki dibangun 3 pondok yang diberi nama "Wisma Samadi". Sebelumnya di lokasi tersebut terdapat banyak rumah retret, pertemuan dsb, tetapi sekarang keadaannya sudah sangat berat, tidak dapat digunakan lagi dan hampir tinggal kenangan.

Idealnya, kalau sekolah Mardi Yuana berkembang dengan baik gereja juga akan berkembang dengan baik. Tetapi kenyataannya saat ini, perkembangan sekolah kurang begitu pesat, sehingga perkembangan gereja juga lambat. Dari TK, SD dan SLTP sering hanya mendapatkan murid satu kelas kecil. Antara pendapatan dengan pengeluaran tidak seimbang, sehingga selalu dalam keadaan defisit, karena itu fasilitas sekolah juga memang seadanya. Namun dari keprihatinan sekolah Mardi Yuana Cibadak masih ada yang bisa dibanggakan. Hampir setiap akhir tahun pelajaran sekolah Mardi Yuana Cibadak selalu menjadi juara di antara sekolah-sekolah di sekitarnya. Inilah yang patut kita syukuri dan tetap menjadi semangat Yayasan Mardi Yuana. Kini Paroki Cibadak semakin berkembang. Jumlah umatnya memang kecil tetapi semangat hidup menggereja dan semangat kebersamaannya terus membaja.

Paroki Cibadak boleh disebut sebagai paroki yang kaya, karena memiliki tanah hampir dua hektar, tetapi merupakan paroki yang sangat kecil, karena jumlah umat dan sumber dananya sangat minim. Kini lahan yang demikian luas tidak terurus hanya karena tidak ada dana. Dapat dibayangkan seandainya lahan seluas itu didukung dengan dana yang memadai, tempat yang sejuk dengan lingkungan yang rimbun akan menjadi asset yang berharga untuk dikembangkan.

diambil dari: http://www.keuskupanbogor.org/paroki/cibadak.htm
naskah asli oleh: Agustinus Suyatno Pr.

images2Akan tetapi atas kuasa Tuhan maka ditunjukanlah jalan untuk mengembangkan gereja ini. Ada umat yang tergerak hatinya dan menyadari adanya potensi terpendam di lokasi gereja. Ia menyadari hanya kunjungan umat yang banyak dan kontinyu, utamanya dari Jakarta yang akan memberikan sumbangan yang berarti untuk pembangunan gereja dan sekolah, salah satu cara untuk mengundang kedatangan umat adalah dengan mendirikan Gua Maria. Hal tersebut diungkapkan dalam homili pada ekaristi yang diadakan khusus untuk menyambut para penziarah yang datang pada waktu kunjungan kami di hari Minggu 9 Oktober 2005. Homilinya sendiri menceritakan tentang asal mula gua Maria Sumber Kahuripan.

Gagasan tersebut dilontarkan ke pihak kegereja Cibadak, dan disambut baik oleh Romo Gatot Wotoseputro Pr, pastor paroki Cibadak. Mulanya mereka bingung mau dibangun dimana karena lahan yang tersisa adalah tempat sampah, terlebih juga dana tidak ada karena dalam setiap misa paling terkumpul 100-200 ribu saja uang kolekte. Tetapi berbekal tekad yang kuat dan dana dari donatur maka tahun 2000 dimulailah pembangunan Gua Maria di lahan sisa yang tadinya dipakai sebagai tempat sampah. Tidak ada catatan berapa lama dibangun dan kapan selesainya tetapi yang jelas tanggal 30 Mei 2004 Uskup Bogor mengunjungi Paroki St. Fransiskus Assisi Cibadak untuk meresmikan gedung pastoran yang baru dan sekaligus memberkati Gua Maria Sumber Kahuripan yang terletak di bagian bawah gereja ini.

Pada awalnya banyak kesulitan dihadapi dalam proses pembanguan dan perkembangannya, bahkan sempat ada keraguan bisa mengundang umat karena umat dari Jakarta lebih memilih berkunjung ke Lembah Karmel Cikarenye Puncak dari pada ke tempat yang lebih jauh di Cibadak, apalagi jika dibandingkan pesona Lembah Karmel tentu tempat ini tidak sebanding. Diceritakan juga beberapa masalah ketika tempat itu baru dibangun dan dikenal orang, sehingga pada suatu hari ada kunjungan beberapa bus untuk berziarah, masalah timbul karena tidak adanya toilet yang memadai sehingga orang harus antri lama, disebutkan bahwa antrian tersebut tetap ada dari sejak kedatangan rombongan sampai saat mereka bersiap pulang. Tetapi pada masa sekarang sudah terdapat toilet yang memadai.

Belum lagi begitu sederhananya lokasi jalan salibnya maupun kecilnya lingkungan gua Marianya, sanggupkah mengundang umat untuk datang? Lagi-lagi Tuhan menunjukan kuasanya dengan memberi jalan. Romo Gatot punya inisiatif untuk mendoakan secara khusus intensi misa yang ditulis umat. Karena banyak intensi misa yang dikabulkan olah Allah setelah berdoa di gereja maupun gua Marianya maka banyak umat yang menceritakannya dari kemulut-kemulut tentang banyak permohonan yang terkabul sehingga kemudian semakin menambah kepopuleran gua Maria ini.

Saat ini pihak paroki ingin mengembangkan dan memperluas gua Maria tersebut seiring dengan meningkatnya jumlah kunjungan setiap tahun. Tidak banyak yang tahu bahwa lokasi ini sebetulnya terdapat sumber air panas, mereka ingin menjadikan gua Maria Sumber Kahuripan sebagai satu-satunya gua Maria di Indonesia yang punya sumber air panas. Dengan perkenan Allah serta dukungan umat mudah-mudahan harapan itu dapat menjadi kenyataan.

dilanjutkan ke bagian kedua...



copyright April 2005 - www.guamaria.com