www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Selasa, 11 Oktober, 2005 12:37
Gua Maria Sumber Kahuripan, bagian kedua
oleh Admin

Gua Maria Sumber Kahuripan terletak dibagian sebelah bawah dari gereja Santo Fransiskus Assisi Cibadak, sedangkan gereja tersebut terletak di sebelah belakang sekolah Mardi Yuana.

Untuk menuju kesitu sangat mudah, jika dari Jakarta ambil jalan yang menuju ke arah Sukabumi, lewati wisata danau Lido, Cidahu (sumber mata air bagi banyak perusahaan multinasional air putih kemasan), lalu Cibadak, di Cibadak cari petunjuk jalan untuk belok kekanan menuju ke daerah wisata paling terkenal di Sukabumi yaitu pantai Pelabuhan Ratu. Lewati tanda belokan pertama lalu ada tanda belokan kekanan kedua dan belok disini, hanya beberapa ratus meter kemudian anda bisa melihat papan nama gereja Katolik St. Fransiskus Asisi Cibadak. Jika memakai kendaraan umum juga sangat mudah dicapai karena ini jalur wisata menuju pantai Pelabuhan Ratu.

Bangunan depan adalah sekolah Mardi Yuana, bagi orang Jakarta atau kota besar lain, jangan bayangkan sekolah ini seperti sekolah di kota anda dimana anak-anak anda bersekolah, didaerah sini sekolah sangat sederhana, bahkan tempat parkirpun tidak ada karena memang tidak dirancang untuk menampung mobil sebab orang tua mereka jarang yang bermobil. Bus-bus harus parkir dipinggir jalan atau di kompleks bangunan diseberangnya sedang mobil bisa masuk kedalam lewat pintu sempit lalu bisa parkir dilapangan olahraga.

images1Ketika kami sampai disitu meskipun belum jam 9, ternyata sudah banyak orang datang berkunjung mungkin ini karena bulan Oktober atau memang tempat ziarah ini sudah mulai dikenal orang. Untuk menuju gua Maria harus melewati banguan gereja yang terletak di bagian belakang sekolah. Bangunannya memang megah, menghadap ke lembah dibelakang tanah lokasinya, gereja lumayan besar mungkin bisa untuk menampung 300an orang, keunikan gerejanya bisa dibaca pada bagian pertama tulisan ini. Dibagian kiri ada bangunan toilet baru yang sangat memadai untuk mengantisipasi datangnya rombongan umat dalam jumlah banyak. Untuk mencapai gua Marianya harus turun kebawah melalui tangga yang lumayan tinggi. Dibawah ada lapangan cukup besar dan ditengahnya ada patung St. Fransiskus dari Asisi (pelindung paroki), dikelilingi oleh berbagai binatang. St. Fransiskus dikenal sebagai seorang penyayang binatang dan menurut kesaksian mampu berkomunikasi dengan binatang. Dibagian bawah patung, diantara jeruji, ada bongkah batu mengkilap yang tidak jelas itu bentuk apa atau apa maksudnya ditaruh disitu.

Disamping patung itu ada jalan menuju lokasi jalan salib. Akan tetapi pagi itu sudah penuh sehingga antrian mengular panjang dan masih banyak orang duduk dirumput di lapangan terbuka menanti giliran. Melihat hal itu kami memutuskan untuk kegereja sambil menunggu misa khusus untuk penziarah yang sedianya akan diadakan pukul 11. Seperti diketahui ada kebiasaan diberbagai lokasi gua Maria untuk menyelenggarakan misa khusus untuk penziarah yang datang terlebih pada bulan Mei atau Oktober, biasanya misa dimulai jam 11, karena itu biasanya adalah waktu yang ideal bagi penziarah untuk tiba di lokasi gua Maria. Sebelum misa dibagikan lembaran itensi misa, ini merupakan khas gereja ini, itensi ini bisa diisi dengan permohonan umat untuk kemudian didoakan pada saat misa. Saat itu gereja penuh sampai perlu menambah bangku cadangan, misa di bawakan oleh pastor paroki yaitu Rm. Gatot, pada homili diceritakan tentang sejarah pembangunan gua Maria (lihat tulisan bagian pertama). Setelah itu itensi umat didoakan lalu ditaruh di wadah besi didepan altar untuk dibakar. Menurut Rm. Gatot banyak itensi misa yang berkenan dikabulkan oleh Allah sehingga membuat tempat ziarah ini menjadi populer akhir-akhir ini, tidak sia-sia berbagai upaya yang dilakukan untuk memajukan paroki ini. Setelah selesai misa, umat bisa berkumpul didepan altar membawa air, atau rosario atau lainnya untuk diberi berkat oleh pastor secara bersamaan.

Setelah misa kami turun kebawah melakukan jalan salib, kali ini sudah agak sepi karena umat rupa-rupanya memilih melakukan jalan salib pagi-pagi sebelum misa jam 11. Lokasi jalan salibnya sederhana dan menurut penulis sangat pendek, bahkan tidak seperti dilokasi gua Maria lain, disini dua perhentian dijadikan satu. Dioramanya berkualitas tinggi dan sangat unik karena memakai kaca timah (stained glass). Bagi yang tidak tahu, stained glass adalah kaca warna-warni yang disusun sebagai mosaik dan disambung memakai timah, dulu biasanya dipakai sebagai jendela di gereja tetapi sekarang umum menjadi hiasan di beragam bangunan. Tahukah anda bahwa di daerah Parungkuda Cibadak adalah sentra pengrajin stained glass sehingga pemilihan stained glass sebagai dioramanya tidak mengherankan penulis. Yang agak aneh barangkali tidak ada tulisan angka perhentiannya sehingga untuk pedoman cuma dilihat gambarnya saja. Tempat lilin juga perlu diperbaiki karena tidak ada penampungan lelehan lilin sehingga akibatnya lelehannya berantakan dan pastinya sulit untuk dibersihkan.

images2Setelah itu sampailah kami di gua Marianya, pelatarannya kecil sehingga tampak penuh meskipun orang saat itu tidak begitu banyak. Disamping kiri gua Maria terdapat sumber airnya, ini bukan air panas tetapi air gunung biasa, yang unik adalah airnya katanya berkatagori air mineral maklum berasal dari gunung halimun yang konon merupakan sumber air terbaik di pulau Jawa, karena bisa diminum tanpa perlu dimasak. Disitu disediakan gelas untuk minum dan penulis melihat banyak orang yang minum langsung air tersebut. Disebelah kanan gua Maria ada ruang kecil untuk berdoa, dari ruang ini kita bisa melihat patung Bunda Maria dari samping.

Setelah turun kebawah, dibawah ruang kosong tangga beton, ada ruang doa kecil lagi yang ada patung Bunda Maria, disebelahnya ada kamar mandi. Betul, itu adalah kamar mandi lengkap dengan bak mandi dan gayungnya, tetapi terpampang tulisan didepan dilarang memakai sabun atau shampo untuk mandi, lho? Ini rupanya kamar mandi untuk menyucikan diri, dibeberapa tempat gua Maria, utamanya di Jawa Tengah ada kebiasaan umat untuk menyucikan diri, bukan hanya membasuh muka saja tetapi dengan menguyur seluruh badan lewat kepala, ini hal lumrah dilakukan, karena itu penulis melihat ada bangku batu didalam kamar mandi itu untuk duduk lalu menguyur kepala. Tentu saja biasanya orang mandi lengkap dengan bajunya karena ini mandi bukan untuk membersihkan badan tetapi sebagai simbol penyucian diri.

Didalam tulisan bagian pertama, ada diceritakan tentang kolam renang, karena itu kami mencari dimana sisanya. Ternyata sisanya ada dibagian sebelah bawah samping lokasi gua Maria, ada sisa bak besar dan yang memperjelas itu adalah bekas kolam renang barangkali adalah tergeletaknya patung ikan yang rusak disitu. Sedangkan untuk air panasnya kami tidak menemukan sumbernya akan tetapi menurut informasi ada mata air panas di lokasi itu dan ini yang mau dikembangkan pihak gereja.

Disamping segala kekurangannya karena baru berkembang dan diresmikan oleh Mgr. Michael C. Angkur, OFM, uskup Bogor pada tanggal 30 Mei 2004, gua Maria sumber Kahuripan (bahasa sunda yang artinya kehidupan) menyimpan potensi besar untuk dikembangkan, terlebih kalau diposisikan sebagai satu-satunya gua Maria dengan sumber air panas, karena itu mari kita dukung perkembangan gua Maria ini beserta parokinya.

Gua Maria Sumber Kahuripan
Gereja Paroki Santo Fransiskus Asisi Cibadak
Jl. Perintis Kemerdekaan No.29, Cibadak, Sukabumi 43155
Telepon: (0266) 531364
Romo Paroki: Rm. B. Gatot Wotoseputro, Pr



copyright April 2005 - www.guamaria.com