www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Senin, 30 Januari, 2006 09:59
Sumur Maria Kitiran Mas
oleh Admin

Selain gua Maria, di sekitar Yogya juga ada beberapa lokasi ziarah lain, salah satunya adalah Sumur Maria Kitiran Mas, di Pakem, Kaliurang, Yogyakarta. Ini adalah salah satu lokasi ziarah yang banyak dikunjungi setelah Candi Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus di Ganjuran, Bantul.

Sejarah

Sekitar tahun 1983, sebuah keputusan iman diambil umat Paroki Pakem, membuat sumur didalam gereja, persis di bawah patung Maria "Ibu Risang Sungkawa" (Bunda mereka yang menderita). Penggalian sumur itu bukanlah penggalian yang biasa, melainkan sebenarnya adalah puncak dari suatu peziarahan panjang, yang penuh dengan pencarian dan pengharapan. Tanpa peziarahan panjang itu tak mungkin ada sumur didalam gereja Pakem ini.

Jauh sebelum sumur digali, diadakan peziarahan mencari tujuh kembang dan tujuh mata air. Tujuh kembang yang dicari adalah kembang melati, kemuning, tlasih, kelapa, kantil, mawar, dan temon. Peziarahan itu dimaksudkan sebagai tirakatan yang dipersembahkan untuk mengenang tujuh wanita desa yang telah memberikan teladan, kebijaksanaan dan inspirasi hidup. Dalam diri ketujuh wanita itulah umat melihat dan merasakan secara nyata keprihatinan dan kesederhanaan Maria, Ibu Risang Sungkawa, Bunda Para Penderita. Ziarah tujuh kembang itu diteruskan dan dilengkapi dengan ziarah ke tujuh sumber air. Ketujuh sumber air yang dianggap keramat-suci di lereng Gunung Merapi itu adalah Tuk (Mata air) Celeng, Tuk Wengi (Malam), Tuk Sangkan Paran (Asal dan Tujuan), Tuk Rembulan (Bulan), Tuk Ulam (Ikan), Tuk Cuwo, Tuk Macan (Harimau). Air dari masing-masing sumber air itu lalu dimasukan kedalam botol dan dibawa pulang.

Peziarahan tujuh kembang dan tujuh mata air diadakan dalam kurun waktu kurang lebih satu tahun. Lalu peziarahan tersebut ditutup dengan novena pada Bunda Maria. Umat di stasi-stasi berdoa kepada Bunda Maria, agar Bunda Maria sudi memberi air kehidupan dan menunjukan di mana persisnya sumur harus digali. Umat merasa, sumur itu harus digali tepat dibawah kaki Bunda Maria, dan luas sumur tersebut harus hanya seluas satu tegel (20x20cm) saja. Penggalian itu sangat sulit dan berjalan lambat, penuh suasana tirakat dan was-was. Memang tidak mudah dan sangat menggelisahkan bahwa sumur sesempit itu harus digali persis di sebuah tegel, sementara sama sekali belum jelas apakah di bawah tegel itu akan ada sumber airnya. Apalagi penggalian ini hanya dilakukan dengan tangan saja, tak mungkin orang bisa masuk untuk menggali dalam lubang sesempit itu. Belum lagi kekhawatiran, jangan-jangan ada batu besar menghalang. Jika ada, tak mungkin batu itu dipecah atau disingkirkan. Dengan kata lain, jika batu itu ada penggalian tak mungkin diteruskan, karena lubang sumur amatlah kecil, dan hanya bisa ditangani dengan alat sederhana yang manual belaka.

images1Setelah hampir sebulan penggalian, pada suatu malam akhirnya sumber air itu dapat ditemukan. Begitu ditemukan, pada malam hari itu juga umat datang berbondong-bondong untuk mengikuti misa yang dilanjutkan dengan upacara pemberkatan. Pada saat pemberkatan itu dimasukanlah ke dalam sumur tersebut tujuh warna kembang dan tujuh rupa air, yang diperoleh selama peziarahan. Tujuh rupa air itu kini menyatu dengan air yang ada di kaki Maria menjadi air Maria. Umat setempat menandai sumur yang ditemukan lewat pertolongan Bunda Maria dengan nama "Sumur Kitiran Mas". Dan Maria sebagai pelindung dan pemilik sumur tersehut dinamai "Sang Kitiran Kencana". Dari Sumur Maria Kitiran Mas inilah umat mengambil air, meminumnya dan mohon agar umat dapat merasakan air kehidupan yang berguna untuk hidup rohani maupun jasmani. Umat Pakem menyambut pemberian air itu dengan suka cita. Mereka merasa sumur itu diberikan sebagai rahmat atas tirakatan dan peziarahan rohani mereka. Maka tiap kali mereka berdoa di tepi sumur, mereka selalu mengenangkan kembali segala rahmat yang mereka terima ketika dulu mereka berziarah mencari air penghidupan di tujuh sumber pada lereng Gunung Merapi.

Di sekitar Sumur Kitiran Mas ini ada batu-batuan berbentuk kodok, kupu-kupu, ikan kotes, buto bajang. Benda-benda tersebut bukan sekadar hiasan tapi pralambang yang penuh dengan kenangan. Tiap pralambang itu mengingatkan peristiwa yang dahulu dialami selama peziarahan mencari mata air, yang mendahului penggalian sumur. Batu-batuan itu diambil dari dasar sumur. Bila diamati, di balik batu terlihat bekas-bekas pukulan linggis yang dulu digunakan untuk menggali sumur yang kecil itu. Bisa dibayangkan bila ditengah penggalian, batu besar itu melintang di tengah lubang pastilah penggalian tidak dapat diteruskan. Syukurlah, batu itu baru dijumpai persis ketika penggalian sudah sampai ke dasar. Maka batu-batuan itu mengingatkan, agar kita berani menembus hidup dan segala percobaannya yang sekeras batu, karena kita percaya bahwa Tuhan takkan mencobai kita melebihi kemampuan kita. Batu-batu itu juga mengingatkan akan keterbatasan kekuatan kita. Kita ini makhluk yang terbatas, kita mesti selalu menabrak dan mentog pada keterbatasan kita, pada kebuntuan hidup kita. Jadi selain mengingatkan agar kita kuat dan kukuh, batu-batuan itu juga mengingatkan agar kita juga berani mengenal keterbatasan kita.

Kodok mengingatkan agar kita berani bersikap sederhana, pasrah dan menyerah. Sebelum penggalian sumur, dulu di bawah kaki Maria dilepaskan kodok-kodok selama sembilan malam berturut-turut. Karena mau pasrah dan rendah hati seperti kodok, maka kita diberi tahu di mana sumur harus digali. Kupu-kupu adalah lambang kupu-kupu kuning, yang dulu dilihat selama penggalian sumur. Kupu-kupu kuning itu mengingatkan agar kita berani terbang dari diri kita, melupakan segala kepentingan kita, agar kita ikut dapat menjatuhkan hujan rahmat-Nya ke bumi yang kering nii. Ikan kotes mengingatkan, bahwa kita ini adalah pendosa. Kita jelek dan menakutkan seperti ikan kotes. Tapi berkat air-Nya kita bisa menjadi bersih dan indah, seperti ikan kotes yang berenang-renang indah dalam air. Buto bajang mengingatkan agar kita mau menjadi sederhana dan tulus. Dengan kesederhanaan itu kita bisa menciptakan apa saja. Buto bajang yang membawa tempurung itu juga mengingatkan kita, agar kita tidak sombong dengan akal kita dan mau menerima Allah sebagai misteri. Tidak mungkin kita menyelidiki Allah Tritunggal Maha Kudus setuntas-tuntasnya hanya dengan akalmu saja.

Sedangkan tanda yang paling penuh kenangan di atas tanda-tanda tadi adalah patung Maria yang ada di atas sumur ini. Sebelum penggalian sumur, umat Pakem ingin memiliki patung Maria. Tapi untuk membeli patung Maria ukuran besar, uang umat tidaklah cukup. Maka umat membuat sendiri patung itu dengan biaya yang sangat murah, hanya lima puluh ribu rupiah. Umat ingin agar patung itu memuat gambaran ibu-ibu pedesaan, ibu-ibu petani. Maka jadilah patung Ibu Maria, yang sangat sederhana ini. Maria, yang digambarkan dalam patung itu disebut Ibu - Risang Sungkawa, artinya dalam diri Maria tersimpanlah segala beban dan penderitaan yang harus disandang wanita-wanita pedesaan yang miskin dan sederhana. Sejak saat itu, umat sering berdoa di hadapan Maria, ibu Risang Sungkawa itu. Dan sesungguhnya ibu Maria Risang Sungkawa inilah sumber dan asal yang mendorong umat Pakem mencari air penghidupan dan akhirnya menggali Sumur Kitiran Mas. Umat menganggap sumur yang kini berada di bawah kaki Maria itu adalah milik ibu Risang Sungkawa sendiri.

Kemudian banyak peziarah dari luar Pakem datang untuk berdoa dan mengambil air dan sumur tersebut. Seusai herdoa, orang-orang itu menimba air dari sumur untuk keperluan penyembuhan sakit atau berkat lainnya. Tidak semua orang kebagian air, padahal mereka sungguh membutuhkannya.

Pernah ditutup

Sumur tersebut pernah ditutup selama 15 tahun sejak tahun 1985, lalu dibuka kembali dengan diawali misa konselebrasi, pada Sabtu 6 Mei 2000 petang, dipimpin pastor paroki Romo A. Jarot dan romo Dr. GP Sindhunata SJ. Umat Katolik Paroki Pakem Sleman, merasa lega setelah permohonan mereka untuk membuka kembali Sumur Kitiran Mas di dalam Gereja Maria Assumpta Pakem, diizinkan oleh pastor paroki A. Jarot Kusno Pr dan Uskup Agung Semarang Mgr. Ign. Suharyo Pr.

Sumur kecil ini dibuat tahun 1983 saat Romo Sindhu menjadi pastor paroki. Sebelumnya sumur berdiameter 20 cm dan berkedalaman 9 meter ini diharapkan dapat melengkapi altar Maria, dengan memberi kesejukan dari air yang setiap waktu dituangkan di bejana yang terletak di sampingnya. Nama Kitiran Mas adalah nama lain dari Semar yang merupakan gambaran wong cilik, tetapi juga dewa penyelamat, yang kalau dunia kacau dia akan datang sebagai penyelamat. Dan bagi umat Katolik di Pakem yang kuat berdevosi kepada Maria, dia adalah "dewi pedesaan" yang melindungi mereka. Untuk itu mereka memberi nama yang indah Sang Kitiran Mas. Kepercayaan yang kuat dan iman yang teguh umat Katolik itulah yang beberapa kali membuat mereka yang memohon kesembuhan kemudian dapat sembuh yang lalu menumbuhkan anggapan bahwa kesembuhan itu didapat dari air sumur Kitiran Mas. Akibatnya kemudian muncul salah persepsi dari masyarakat yang menganggap sumur itu adalah sumur tiban. Sehingga berbondong-bondong warga datang dari segala penjuru semata-mata ingin mengambil air sumur tersebut. Karena sudah dirasa meresahkan sumur itu lalu ditutup. Sumur ini kemudian dibuka kembali karena umat rindu akan peziarahan kepada Maria yang dahulu sering mereka lakukan untuk memohon berkat kepada Yang Maha Kuasa lewat ibu Risang Sungkawa.

Sumur kedua

images2Kemudian sumur itu dirasa terlalu kecil untuk bisa mencukupi kebutuhan peziarah akan air. Maka lalu diputuskan menggali lagi sebuah sumur yang lebih besar, dengan garis tengah 70cm. Maka kini sumur kecil di bawah kaki Maria itu tak lagi sendiri. Di sebelahnya terdapat "anaknya", sebuah sumur yang lebih besar dan kekar. Sumur yang besar ini mempunyai sumber yang sama dengan "ibunya", sumur kecil semula, jadi keduanya berasal dan satu sumber. Bedanya dari sumur besar ini, orang dapat menimba air sepuas-puasnya. Hal mana tak dapat dilakukan pada sumur yang kecil. Maka kini Sumur Kitiran Mas dapat ditimba tanpa kekhawatiran akan kehabisan airnya. Sumur itu kemudian diberkati lagi pada Bulan Maria, persisnya pada Minggu Pon, 14 Oktober 2001. Dengan pemberkatan kembali itu umat ingin menandai dan berharap agar Sumur Kitiran Mas dapat sungguh-sungguh menjadi sumber hidup bagi siapapun. Bukan hanya bagi umat Katolik Pakem, tapi juga bagi umat manapun yang haus dan ingin menimba Air Kehidupan.

Ziarah

Kami kemudian berkunjung kesana setelah dari Kerep dan Sendangsono (lihat tulisan sebelumnya). Gereja St.Maria Assumpta, terletak di jalan raya Kaliurang, Km17. Kaliurang adalah daerah berhawa sejuk dikaki gunung Merapi, yang juga merupakan daerah wisata favorit bagi warga Yogya. Untuk menuju kesana ambil jalan kearah utara Yogya menuju daerah wisata Kaliurang, di Km17 sebelum lampu merah di jalan yang terbelah dua, disebelah kiri terletak gerejanya. Tempat parkir boleh dibilang tidak ada, bisa parkir dihalaman depan yang cuma pas untuk beberapa mobil saja atau di jalan raya.

Sumur tersebut terletak didalam gereja yang juga tidak begitu besar dan tampak biasa saja seperti gereja pada umumnya. Akan tetapi bagi yang pertama kali kesana tentu merasa sedikit janggal melihat ada sumur didalam gereja lengkap dengan timba dan genangan air disekitarnya. Ada dua sumur disitu, sumur pertama yang kecil terletak dibawah patung Bunda Maria, dilengkapi dengan timba dan ember mini. Kita bisa melihat betapa dalamnya sumur itu karena ada lampu dipasang untuk menerangi dalamnya sumur, bisa dibayangkan bagaimana sulitnya menggali sumur yang kecil itu. Meskipun ada timba dan ember kita tidak bisa lagi mengambil air di sumur itu karena dimulutnya tertutup oleh lampu. Sumur kedua lebih besar seperti sumur biasa, di sumur ini air melimpah dan mudah untuk ditimba, disediakan juga centong untuk minum air ini dan juga kendi untuk mengambil air untuk dibawa pulang. Pengunjung biasanya berdoa dulu sebelum mengambil air untuk diminum yang dipercaya bisa menyembuhkan dan memberi berkat. Airnya sendiri ketika kami minum terasa sejuk dan menyegarkan, pengunjung biasanya meminum begitu saja memakai centong setelah menimbanya dari dalam sumur.

Dari brosur tentang sumur Kitiran Mas juga dituliskan beberapa kesaksian tentang kesembuhan batin maupun jasmani yang didapat setelah berziarah ke sumur ini dan minum air darinya ataupun setelah berdoa di depan Maria. Akan tetapi perlu diingat bahwa bukan air sumur yang menyembuhkan melainkan kepercayaan akan kuasa Allah, itulah yang menyembuhkan. Simak misalnya penuturan Bu Sih dari Dusun Blembem yang disembuhkan dari penyakit ayan: "Ternyata saya sembuh, padahal dulu saya tak mempunyai harapan. Saya jadi yakin, orang boleh menimba air sebanyak-banyaknya dari Sumur Maria, tapi itu semua tak ada gunanya jika ia tak percaya. Sebaliknya, tanpa air pun orang bisa selamat, asal ķa percaya. Maka, jika sumur yang saya cintai inipun asat airnya, saya tetap percaya, bahwa Bunda Maria akan selalu menolong saya".

Jelas Sumur Kitiran Mas sama sekali bukan sumur tiban. Sumur itu hanyalah penanda yang dapat membantu umat mengenangkan kembali rahmat Tuhan selama mereka berziarah mencari air kehidupan. Ditepi sumur ini, mereka ingin selalu berdoa dengan perantaraan Maria, Sang Kitiran Kencana, agar Maria membantu mereka menimba Air Kehidupan Sejati yang berasal dari yang Maha Kuasa, yang akan memberi kesembuhan rohani maupun jasmani.

sebagian disadur dari:
1.Sejarah dari brosur tentang Sumur Maria Kitiran Mas
2.Sumur Kitiran Mas Gereja Pakem Dibuka Kembali (Koran Bernas, Senin 8 Mei 2000)
http://www.indomedia.com/bernas/2005/08/UTAMA/08sep1.htm



copyright © April 2005 - www.guamaria.com