www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Senin, 27 Februari, 2006 10:46
Ziarah Satu Keluarga Dalam Yesus
oleh Admin

Keluarga Besar UNIKA Soegijapranata Semarang, Sabtu-Minggu (21-22 Mei 2005) lalu menyelenggarakan Ziarah ke Goa Maria Sawer Rahmat, Cisantana Kuningan, Jawa Barat. Berikut laporan Reporter KRONIK, Cendi.

Tidak seperti lazimnya Gua Maria lainnya di tanah air, Gua Maria Fatima Sawer Rahmat terletak di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut. Posisinya yang terletak di lereng sebelah Timur gunung Ciremai, Jawa Barat tidak mengurangi semangat ribuan peziarah tiap tahun yang berkunjung. Umumnya para peziarah mencapai Gua Maria Fatima Sawer Rahmat menggunakan dua rute. Jika datang dari Cirebon (utara), menuju Kuningan melalui Cilimus kemudian sesudah terminal bus Cirendang belok kanan sampai pertigaan kolam renang Cigugur, setelah itu belok kanan menuju Cisantana ke lokasi Gua Maria. Rute lainnya dari arah selatan, Ciamis atau Majalengka. Perjalanan melalui Cikijing, Kadugede sampai pertigaan Sukamulya, lalu belok kiri ke arah Sukamulya diteruskan hingga pertigaan kolam renang Cigugur, setelah itu belok kiri menuju Cisantana.

SEBAGAI TANDA SYUKUR
Gua Maria Fatima Sawer Rahmat sering juga disebut Gua Maria Totombok karena terletak di bukit Totombok serta terletak tidak jauh dari Gereja Maria Putri Murni Sejati, Cisantana, Cigugur, Kuningan. Gereja Maria Putri Murni Sejati sendiri yang dibangun tahun 1965 merupakan salah satu karya pastor-pastor Ordo Salib Suci (OSC) di wilayah Priangan Timur. Dalam perjalanannya Gereja Maria Putri Murni Sejati, dengan konstruksi kayu jati dan atap sirap ini yang merupakan Gereja Stasi dari Paroki Kristus Raja Cigugur, pernah dibakar orang tidak dikenal pada 4 Juli 1980 lalu.

Pemilihan kata Sawer Rahmat sendiri menurut Romo Kuppens OSC (Pastor Paroki waktu itu) berarti curahan, pemberian. Hal tersebut terkait dengan air terjun Curug Sawer dimana air terjun tersebut airnya jatuh mengenai batu dan menimbulkan riak. Itu dapat diartikan rahmat yang ada di Cisantana diharapkan dapat menyebar ke seluruh pelosok negeri. Di dalam kompleks Gua Maria terdapat bangunan lainnya seperti Taman Getsemani dan Pendopo yang biasa digunakan untuk misa atau acara pembukaan jalan salib. Gua Maria Fatima Sawer Rahmat dibangun sebagai tanda syukur atas penyertaan Tuhan selama 25 tahun di Paroki Kristus Raja Cigugur. Persiapan mulai dilakukan Pastor M. Kuppens OSC bersama dengan pemuka umat. Setelah melakukan penjajakan, perhatian kemudian tertuju kepada sebuah tempat di dekat Cisantana yakni tepatnya di kaki Bukit Ciremai yang bernama Bukit Totombok. Kebetulan, menurut Suster Francis OSC, Paroki pada waktu itu mendapatkan tempat di situ dengan harga yang lumayan miring hingga diputuskan bahwa tempat tersebut dijadikan sebagai lokasi Gua Maria. Sebagai pertanda, maka Romo Kuppens menancapkan tanda di tempat yang disebut Golgota dengan sebuah salib besar. Lalu, tanda yang satu lagi ditancapkan di sebuah tempat yang kemudian menjadi lokasi Gua Maria. Di sekitar Gua Maria terdapat air yang turun dari sumber air pegunungan. Peziarah seolah menemukan oase di padang pasir yang gersang, sehingga mereka tak menyia-nyiakan kesempatan membasuh muka bahkan banyak yang mengisi botol-botol air minum yang telah kosong untuk dibawa ke rumah masing-masing.

GEREJA SEBAGAI UMAT TETAP EKSIS
Perkembangan Gereja Maria Putri Murni Sejati dan Gua Maria Fatima Sawer Rahmat tidak dapat dilepaskan dari dinamika masyarakat setempat. Menurut Suster Francis OSC, suster yang saat ini menjadi Pimpinan Susteran Ursulin Cisantana Cigugur, dulu, desa Cisantana cukup terbelakang. Maka selain bekerja dalam bidang pendidikan, para Suster yang berjumlah 3 orang juga memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam bentuk pendidikan menjahit, menyulam bahkan memasak.

Suster Francis OSC menjelaskan juga cikal bakal keberadaan umat di wilayah Cisantana. Dahulu kala, tepatnya tanggal 21 September 1964, Pangeran Tedjabuana Alibasa Kusuma Widjaya Ningrat, pemimpin ADS (Agama Djawa Sunda) yang juga masih keturunan Keraton Cirebon bersama dengan pengikutnya yang berjumlah 1.770 keluarga memutuskan untuk memeluk agama Katolik. Hal tersebut karena adanya larangan dari Pemerintah untuk ADS menjadi sebuah agama karena tidak memiliki kitab suci. Mereka diminta untuk memilih satu diantara 5 agama yang diakui oleh negara. Akhirnya, pilihan jatuh ke agama Katolik karena banyak memiliki kesamaan, seperti percaya adanya lambang api sebagai Roh Kudus, orang meninggal memakai peti, percaya bahwa air itu memiliki lambang kesucian/kudus, dll. Oleh karena itu, mereka kemudian mengirimkan pernyataan ke Pastoran Katolik St. Yosef Cirebon karena waktu itu belum ada gereja di Cigugur, demikian papar Suster Francis OSC.

Dua dekade berikutnya terjadi peristiwa yang sangat menggemparkan dimana pada tanggal 4 Juli 1980 dibakar oleh orang yang tidak dikenal. Gedung gereja yang dibangun dengan konstruksi kayu jati dan atap sirap ludes terbakar dan hanya menyisakan 2 buah kayu bekas atap yang disatukan membentuk salib. Salib yang menjadi saksi bisu peristiwa pilu tersebut hingga kini masih terpajang di samping altar gereja. Selain kayu yang dijadikan salib, reruntuhan kayu-kayu yang berserakan juga dimanfaatkan menjadi altar.

Romo A. Rutten OSC yang memimpin misa rombongan peziarah UNIKA Soegijapranata, dalam khotbahnya menjelaskan bahwa walaupun Gereja dibakar tetapi semangat masih tetap ada karena yang dibakar adalah gedung tetapi tidak Gereja dengan artian sebenarnya. Atau masyarakat Cisantana mengistilahkan, "Gereja sebagai gedung boleh runtuh, namun Gereja sebagai umat tetap eksis". "Umat percaya bahwa Tuhan tidak tidur dan Ia pasti memiliki rencana yang baik di balik peristiwa tersebut. Hal tersebut benar-benar terbukti. Selama kurang lebih 2 tahun, umat beribadat di kompleks sekolah Yos Sudarso. Selama itu pula, gedung gereja yang baru mulai dibangun hingga akhirnya pada tanggal 15 Agustus 1982 mulai dibuka gedung gereja yang baru dan diresmikan oleh Uskup Bandung, MGR. P.M. Arntz, OSC." ujar Suster Francis OSC. Masih menurut Suster Francis sampai saat ini hampir umat Katolik di berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Pontianak, Belitung, Flores, dan daerah lainnya pernah berziarah kesana.

Ziarah bertema Satu Keluarga Dalam Yesus diikuti 157 orang dan terbagi dalam 3 bis dilepas oleh Rektor UNIKA Soegijapranata Prof. Dr. M. Sastrapratedja, SJ dari samping Gedung Yustinus. Rute perjalanan dari Semarang hingga Cisantana Cigugur ditempuh dalam waktu kira-kira 6 jam. Saat waktu mulai beranjak siang, peserta singgah di Susteran Santa Fatima Brebes untuk makan siang. Selain makan siang, panitia juga menawarkan kepada peserta untuk memesan telur asin yang menjadi ciri khas dari Brebes untuk menjadi oleh-oleh namun diambil tidak hari itu juga tetapi besok pada waktu perjalanan pulang.

Setelah kenyang, perjalanan dilanjutkan kembali menuju ke lokasi. Seiring berjalannya waktu, bis pun merangkak lebih dekat dengan lokasi. Peserta yang kelihatan lelah dan memilih untuk tidur, berangsur bangun ketika bis masuk ke kota Kuningan. Mereka mengamati tiap-tiap sudut yang mereka lalui. Sesudah melewati terminal bus Cirendang, bis belok ke kanan hingga di pertigaan dekat kolam renang Cigugur, kemudian belok kanan menuju desa Cisantana. Sesampainya di sana, peserta mulai memasuki kamar mereka masing-masing di Asrama St. Maria Putri Murni Sejati Cisantana. Karena merasa kegerahan, maka pesertapun bergegas untuk mandi. Kamar mandi terbagi menjadi 2 yakni putra dan putri dimana masing-masing kira-kira berjumlah 8 buah. Hal tersebut mengakibatkan peserta harus mengantri di depan pintu kamar mandi. Dinginnya air membuat peserta tak jarang berteriak karena kedinginan. Karena didesak oleh waktu maka peserta tak mengindahkan jenis kamar mandi sehingga antara peserta putra maupun putri masuk di sembarang kamar mandi.

Waktu kian beranjak petang. Pada pukul 18.00 WIB tepat, dimulai misa yang dipimpin Romo Rutten OSC. Usai misa dan makan malam, peserta mengikuti acara yang telah ditetapkan oleh panitia sejak awal yakni kebersamaan dan doa malam. Peserta diajak untuk bernyanyi bersama, mengikuti permainan menarik yang telah disiapkan oleh panitia. Setelah puas bermain, peserta mulai diajak untuk doa malam sekaligus menjadi pengantar sebelum tidur yang dipimpin Hermawan Pantjasiwi (FH UNIKA).

Keesokan harinya, tepatnya sejak pukul 4 pagi, peserta sudah mulai sibuk untuk mandi karena pukul 5.30 akan diadakan jalan salib yang akan dilanjutkan dengan Ibadat Maria dan doa pribadi di gua Maria. Perjalanan antara penginapan dengan Gua Maria lumayan jauh, kira-kira 2km dan jalannya juga menanjak keatas. Di sepanjang jalan selain terdapat rumah-rumah penduduk dan sawah juga ada beberapa makam pribadi. Maklum, karena adat disana memperbolehkan keluarganya yang telah meninggal boleh dimakamkan di dekat rumah. Baru separo perjalanan, beberapa peserta sudah mulai merasakan kelelahan seperti yang dialami Octavianus Digdo H, SE, Msi, Akt (Ekonomi) yang terlihat sangat kelelahan. "Cukup melelahkan, harus pelan-pelan supaya tidak jatuh", ujarnya seraya tertawa. Saking lelahnya, ia juga mengaku kalau ia lapar lagi. Namun, ia berharap bahwa dengan nanti melakukan jalan salib, ia akan kenyang lagi.

Memang tak semua peserta dapat menempuh perjalanan yang cukup melelahkan tersebut, diantaranya Ir. Erick Bratakusumah (Arsitektur) dan DR. Leo R Gunawan, MM (Ekonomi) yang menggunakan jasa ojek. Ojek memang menjadi alternatif pilihan bagi para peziarah yang ingin lekas menuju lokasi dengan mengganti ongkos sekitar Rp.3000 hingga Rp.5000. Sesampainya di mulut jalan menuju ke Gua Maria, beberapa orang terlihat juga menyewakan tongkat sebagai bantuan dalam melakoni jalan salib. Harga yang ditawarkan sekitar Rp.2000. Akhirnya, perjalanan yang sesungguhnya dimulai yakni jalan salib untuk ikut merasakan penderitaan yang Tuhan Yesus alami semenjak dari istana Pontius Platus hingga ke Gunung Kalvari. Medan yang ditempuh boleh dikatakan sangat berat dan benar-benar sesuai sebagai tempat jalan salib karena jalannya yang terkadang terjal dan berbatu juga menanjak ke atas. Namun, karena dilandasi oleh niat ingin ikut merasakan derita yang Yesus Kristus alami maka dengan sekuat tenaga para peserta berusaha untuk sampai ke Gua Maria Sawer Rahmat.

Sebagai ungkapan syukur karena telah berhasil melakukan jalan salib maka rombongan bergegas ke pendopo untuk melakukan Ibadat Maria. Setelah melakukan ibadat Maria, beranjak ke acara berikutnya yakni sharing antar peserta. Dalam sharing tersebut, beragam pernyataan terlontar dari beberapa peserta. Diantaranya, Ant. Riastati (Psikologi) yang merasakan berkah yang sungguh melimpah karena dirinya telah sampai ke Gua Maria. Ia mengakui sudah sekitar 3-4 tahun ia tidak mengunjungi tempat ziarah sehingga ia merasakan sungguh sebuah anugerah Tuhan ia bisa sampai ke tempat tujuan.

Drs. Dadut Setiadi MM (PPRM) sempat memajang spanduk UNIKA di mulut jalan sebelum masuk ke lokasi jalan salib. Ia mengaku sangat simpatik pada respon yang diberikan oleh penduduk sekitar (pedagang) yang turut membantu proses pemajangan spanduk sehingga ia hanya tinggal melihat dari bawah sedangkan pemajangan dilakukan oleh warga. Kesan menarik juga ditangkap oleh Leo R Gunawan yang mengaku terkesan dengan kegiatan ini dimana dalam kegiatan ziarah tidak mengenal jenjang-jenjang atau status kepangkatan. "Di belakang saya itu Wakil Rektor tetapi nggak merasa Wakil Rektor kok, saat ini. Tapi, kalau di UNIKA ya tetap Wakil Rektor", ucap Leo yang kontan membuat peserta yang lain ikut tersenyum.

Serasa tidak puas jika kita tidak mendengar penuturan Ir. Erick Bratakusumah yang akhirnya sampai ke Gua Maria. Dalam kesempatan tersebut, Erick mengucapkan terima kasih kepada peserta lainnya yang turut membimbing mulai dari tanjakan mulai turunan hingga akhirnya ia berhasil sampai ke Gua Maria. Nama-nama yang disebutkannya adalah H Supriyana (FTP), Daniel Suharno(BAK) dan Dr. LMF Purwanto (Arsitektur). "Terus terang saja, saya mengucapkan terima kasih kepada panitia bahwa kesempatan ini telah diberikan kepada saya walaupun saya sudah berusia 73 tahun dan juga saya adalah salah satu dosen yang tua di UNIKA. Saya mengajar sejak UNIKA masih menjadi ITKS semenjak tahun 1968", lontarnya.

Setelah puas berdoa di Gua Maria, rombongan mulai beringsut turun menuju ke penginapan untuk makan pagi sekaligus bersiap-siap untuk meninggalkan lokasi untuk selanjutnya menuju ke Keraton Kasepuhan Cirebon untuk melihat-lihat. Dalam perjalanan ke Keraton, rombongan sebentar melihat bangunan tempat perundingan Linggarjati walaupun hanya melintas saja. Ketika berada di Keraton, dengan dipandu oleh seorang pemandu, rombongan diajak untuk berjalan-jalan melihat isi Keraton sekaligus juga museumnya. Peserta yang benar-benar puas dengan perjalanan semakin terpuaskan karena sebelum kembali ke Semarang, peserta berjalan-jalan terlebih dahulu ke pusat penjualan batik Pekalongan, sebelum akhirnya makan malam di Rumah Makan Sendang Wungu Batang dan kembali ke rumah masing-masing.

Suksesnya acara ziarah di Gua Maria Sawer Rahmat Cisantana Kuningan ini tidak terlepas dari kerja keras para panitia yang diketuai Ign Setya Dwiana (Fakultas Hukum selama 2 bulan. Dan terbukti, kerja keras mereka tidak sia-sia karena respon yang diberikan oleh peserta sangat positif dan puas atas ziarah kali ini.

diambil dari:
buletin Kronik Unika Soegijapranata, edisi 6, 27 Mei 2005



copyright April 2005 - www.guamaria.com