www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Senin, 27 Maret, 2006 17:57
Tempat Doa Hati Ibu yg Bahagia (Gua Maria Ratu Kenya) bag.2
oleh Admin

Nama Gua Maria Sendang Ratu Kenya lebih dikenal dari pada "Tempat Doa Hati Ibu yang Bahagia" karena nama gua Maria Ratu Kenya telah ada lebih dulu sejak lama, akan tetapi berkat upaya Kelompok Pelayanan kasih dari Ibu Yang Bahagia maka gua Maria ini sekarang menjadi tempat yang sangat memadai untuk kegiatan peziarahan umat Katolik. Namanya yang baru yaitu "Tempat Doa Hati Ibu yg Bahagia" perlu sosialisasi terus-menerus supaya bisa lebih dikenal oleh umat secara luas.

Kami melakukan kunjungan ziarah ke gua Maria Ratu Kenya setelah mengunjungi gua Maria Mojosongo di Solo karena tempatnya tidak begitu jauh, yaitu didaerah Wonogiri, suatu kota yang jaraknya cuma kira-kira 1 jam perjalanan dari Solo. Untuk menuju kesana ambil jalan ke arah selatan Solo untuk menuju ke Wonogiri, setelah masuk kota Wonogiri ambil jalan yang menuju ke selatan (arah Pacitan). Sepanjang perjalanan banyak dijumpai bus-bus arah Pacitan melintasi jalur ini, meskipun jalannya kurang mulus akibat banyaknya aspal tambal sulam tetapi umumnya jalannya cukup baik dan lumayan lebar meskipun harus berhati-hati karena bergelombang dan tidak rata. Dari Wonogiri jaraknya kira-kira 40-50km dan ada 2 jalur yang bisa ditempuh untuk menuju ke gua Maria ini. Satu lewat Ngadirejo - Baturetno - Giriwoyo, jalur ini melewati tempat wisata andalan Kabupaten Wonogiri yaitu danau/waduk Gajah Mungkur yang banyak restoran ikan bakar sepanjang jalannya dan berpemandangan indah tetapi jalannya lebih kecil atau lewat jalur utama ke Pacitan yaitu Wuryantoro - Pracimantoro - Giritontro - Giriwoyo yang menjauhi waduk tapi jalannya lebih lebar. Kedua jalur tersebut memutari waduk Gajah Mungkur kemudian bertemu di Giriwoyo lalu dari sini bisa ke Pacitan. Gua Marianya terletak antara jalur Giriwoyo dan Pracimantoro tidak jauh dari kantor kecamatan Giriwoyo, dekat gereja St. Ignatius Danan, ada papan nama kecil di pinggir jalan yang menunjukkan lokasi gua Maria Ratu Kenya. Tidak ada petunjuk jalan yang jelas untuk ke desa/kota kecil itu, bahkan papan petunjuk arah ke Gajah Mungkur-pun tidak ada, jadi pasang mata baik-baik lihat papan nama alamat sepanjang jalan dan bertanya jika diperlukan.

Dari jalan raya lokasinya cuma beberapa ratus meter saja. Bagi yang baru pertama kali kesana tentu akan heran karena jalan masuk ke tempat parkir bersisian dengan jalan salibnya. Tempat parkirnya kecil, cukup untuk beberapa mobil akan tetapi bus besar akan kesulitan jika parkir disitu. Setelah memarkir kendaraan peziarah harus jalan beberapa ratus meter kedepan lagi, kejalan masuknya supaya dapat sampai ke perhentian pertama jalan salib. Karena hujan deras, kami berteduh di pendopo diarea tempat parkir, tidak ada penjual makanan atau barang rohani disekitar situ meskipun saat itu hari libur, mungkin karena pengunjung tidak banyak. Saran kami jika berkunjung disitu, anda harus membawa bekal komplit sendiri, karena tidak ada penjual makanan memadai di sepanjang jalan yang dilalui dan area Gajah Mungkur masih jauh dari situ.

images1Didekat pintu masuk lokasi gua Maria ada sumurnya (seperti yang sudah disebutkan dalam bag.1), sumurnya dalam dan besar lingkarannya, tempatnya dinaungi semacam atap. Dari situ bisa naik langsung ke pelataran gua Maria yang cukup lebar, ada pendopo untuk berteduh didepannya. Pelataran ini tampaknya juga biasa dipakai untuk kebaktian. Seperti layaknya gua Maria ditempat yang jauh dari kota besar, lingkungannya asri dengan pepohonan yang mengelilinginya, lokasinya sendiri cukup baik terletak dilembah yang dikelilingi hutan alam. Ditengah lokasi gua Maria ada pohon besar yang menaunginya, desain lanskapnya termasuk gua buatannya sangat apik dilingkupi pepohonan yang menyejukkan mata. Dibagian bawah Bunda Maria ada juga sumber air dan juga disediakan tempat untuk membasuh kepala atau badan sebagai simbol penyucian diri. Pada pelataran yang menghadap ke Bunda Maria ada semacam gua-gua kecil tempat bernaung yang punya tempat duduk, disinilah tempat berdoa selain dibangku kayu dibawah pohon persis didepan Bunda Maria. Karena waktu itu hujan banyak orang memilih berdoa di tempat terlindung ini. Disamping gua Maria, melewati jembatan kecil yang dibawahnya mengalir sungai kecil ada lagi pelataran cukup lebar dimana terdapat sebuah salib kayu yang sangat besar. Anehnya ketika sampai disitu hujan yang dari awal perjalanan cukup besar tiba-tiba mereda seakan-akan Tuhan memberi kesempatan pada kami untuk menikmati pesona gua Maria Ratu Kenya sambil berziarah.

Dari pelataran ini kita bisa terus keatas lewat tangga yang lumayan tinggi untuk sampai ke kapel rasul Yohanes. Kapelnya kecil tetapi desainnya jika dilihat dari luar sungguh menawan. Seperti ditempat lain kapel tersebut juga tanpa bangku, tetapi lantainya dilapisi karpet tipis. Penjaga lokasi gua Maria berbaik hati datang dari bawah untuk membukakan pintu kapel yang terkunci supaya penulis bisa masuk, mungkin karena ia melihat kami mondar-mandir cukup lama disana. Lewat jalan disamping kapel yang lumayan sulit kami bisa mencapai perhentian jalan salib paling akhir, sayang tidak ada petunjuk jelas kearah sana sehingga harus mencari-cari dan jalannya bukan didisain untuk orang tua atau anak kecil karena tingkat kesulitannya. Ketika kami melihat kebawah, jalan keperhentian awal cukup curam dan jauh sehingga kami memutuskan kembali ke depan lewat kapel lalu ke tempat parkir lalu ke jalan masuk.

images2Dari samping kanan jalan masuk mobil inilah terletak jalan salibnya yang cukup lebar akan tetapi meskipun begitu jalannya tidak rata dan berbatu-batu. Menurut kami, jalan ini lagi-lagi tidak disain untuk orang tua atau anak kecil karena licin dan banyak batu yang menyulitkan untuk melangkah. Ditambah lagi jalannya menaik keatas sangat tinggi, bagi orang kota yang tidak pernah berolah-raga atau terbiasa kegiatan fisik cukup mendapat kesulitan dalam mendakinya dan bagi yang berpenyakit jantung atau asma harus hati-hati, juga diperlukan mental dan kelengkapan fisik memadai untuk mendakinya. Bagi sebagian orang lainnya inilah jalan salib yang "sesungguhnya" dan sangat cocok untuk dijalani sambil merenungi makna kesengsaraan Kristus. Diorama jalan salibnya berbentuk ukiran kayu yang diwarnai, bentuknya mirip sekali dengan diorama yang kami lihat di Lembah Karmel, Cipanas-Puncak (lihat tulisan sebelumnya). Semakin keatas jalan semakin sulit, setelah sampai di perhentian terakhir ada jalan menuju keatas lagi kepuncak bukit, kami mengira ada sesuatu diatas ternyata setelah melewati jalan yang lumayan sulit, dipuncak bukit ternyata kosong, cuma ada tanah datar sempit, akan tetapi dari sini anda bisa menyaksikan pemandangan indah yang mengelilingi daerah tersebut, jika cuaca baik bendungan Gajah Mungkur bisa terlihat. Sayang sekali tidak ada petunjuk mengenai arah turun ke kapel yang juga terletak di puncak bukit atau arah kebawah, juga anda harus berhati-hati waktu naik atau turun puncak bukit karena tidak ada pegangan memadai. Meskipun dalam sejarah pembanguan gua Maria ini disebut akan dibangun jalan salib pendek untuk orang tua atau sakit tetapi saat itu kami tidak menemukan tanda-tanda akan dibangunnya jalan salib pendek ini.

Dari sejarahnya, Gua Maria Sendang Ratu Kenya atau Tempat Doa Hati Ibu yg Bahagia memang istimewa, apalagi jika anda percaya bahwa tempat inilah yang ditunjuk secara khusus oleh Bunda Maria sebagai tempat doa atau ziarah bagi umat Katolik di Indonesia.



copyright April 2005 - www.guamaria.com