www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Rabu, 26 April, 2006 09:23
Ziarah Berjalan...Bersama...Kedepan
oleh Admin

Hidup merupakan suatu perjalanan ziarah yang panjang, bukan saja perziarahan lahir, tetapi juga perziarahan batin dan terlebih-lebih perziarahan iman. Perziarahan itu akan saling melengkapi dan saling menguatkan dalam hidup kita, sehingga bila kelak perziarahan kita berakhir, dengan gembira kita dapat mengatakan, "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman" (2 Tim 4:7). Bunda Maria selalu setia mendampingi dan mendoakan kita sepanjang perjalanan ziarah kita, maka marilah kita tingkatkan devosi kita kepada Bunda Maria dengan ziarah ke goa Maria.

Ibu-ibu Paroki St. Yohanes Bosco pada akhir Mei 2004 ini telah menyelenggarakan "Ziarah - Berjalan... Bersama... Kedepan" yang unik, karena pesertanya terdiri dari Umat Pra-Bahagia yang memiliki bermacam-macam latar belakang seperti pemulung, tukang ojek, tukang sapu, penjaga sekolah, penjaga gereja dan lain-lain. Selain itu peserta juga datang dari berbagai paroki seperti Paroki Fransiskus Xaverius (Tg. Priok), Paroki Ratu Rosari (Lenteng Agung), Paroki St. Leo Agung (Bekasi), Paroki St. Lukas (Sunter) dan Paroki St. Yohanes Bosco sendiri. Di samping itu, turut pula 30 orang peserta yang berasal dari umat biasa.

Perjalanan ziarah ini diawali dengan doa bersama dan berkat di Plaza Bunda Maria St. Yohanes Bosco yang dipimpin oleh Pastor Noel Villafuerte SDB., dilanjutkan dengan perjalanan ke Goa Maria Kerep di Ambarawa. Goa Maria Kerep dikenal sebagai tempat yang memiliki pancaran energi yang dapat menyembuhkan banyak orang. Di sini para peserta diberi kesempatan untuk menginap di Wisma Syantikara. Sambutan yang hangat dari Sr. Ellya selaku pimpinan wisma dan lingkungan wisma yang asri membuat kerasan para peserta.

Hari kedua perjalanan ziarah dilanjutkan ke Goa Maria Tritis, Paroki Wonosari, Gunung Kidul. Goa Maria Tritis merupakan Goa Maria alami terbesar dan terindah dengan staglagmit dan staglagtitnya. Sebelum digunakan untuk kebaktian kepada Bunda Maria, tempat ini merupakan tempat yang sepi dan angker. Namun sekarang, Goa Maria yang dapat menampug 100 peziarah ini terlihat tertib, teratur dan bersih. Di Goa Maria Tritis ini para peserta berdoa dan berdevosi kepada Bunda Maria. Selain Goa Maria Tritis, para peserta juga berziarah ke Goa Maria Sendang Ratu Kenya, Wonogiri. Secara fisik, GM Sendang Ratu Kenya tidak memiliki kekhasan, karena berada di tengah tanah berbatu, yang kering dan tandus, dan di tengah masyarakat yang tidak begitu makmur. Walaupun demikian masyarakatnya sangat terbuka untuk uluran iman Allah yang penuh kasih. Ribuan penduduk yang memeluk iman Katolik bersatu dalam Paroki St. Yusuf, Baturetno. Mereka menyambut para peziarah dengan memberikan suasana Rahmat Allah yang mengalir dan memberikan kesejukan kepada siapa saja yang datang. Para peserta mempunyai kesempatan untuk berdevosi di Goa Sendang Ratu Kenya, berdoa di bawah salib Millenium, maupun di Kapel Rasul Yohanes.

Pada hari ketiga para peserta melakukan ziarah ke Sendangsono, tonggak Kerajaan Allah yang kokoh yang telah ditancapkan di Bukit Menoreh sejak tahun 1904. Sendangsono telah bertahun-tahun menjadi magnet rohani umat Katolik di Indonesia. Seluruh peserta berdoa jalan salib dengan khidmat dan penuh semangat dari Stasi I di bawah sampai Stasi XV dan dilanjutkan dengan devosi pribadi di Goa Maria.

Makam Romo Sandjaja (Richardus Kadis Sandjaja Pr.) dan GM Sendangsono merupakan satu paket ziarah dan secara tidak langsung seperti "napak tilas" tumbuhnya agama Katolik di pulau Jawa ini. Romo Sandjaja terkenal sebagai martir asli pribumi. Pemakaman di sini tidak seperti lazimnya kita lihat sehari-hari, karena jenazah para romo tidak dikuburkan tetapi dimasukkan ke dalam "laci tembok". Sebagai acara tambahan, rombongan singgah di salah satu objek wisata monumental Candi Borobudur untuk menyaksikan salah satu Candi Buddha termegah yang kita miliki. Kemudian dilanjutkan jalan-jalan di Malioboro, pusat kota Yogyakarta.

Candi Hati Kudus Tuhan Yesus, Ganjuran, Bantul merupakan satu-satunya Candi Katolik yang kental dengan budaya Jawanya. Di Candi Hati Kudus Tuhan Yesus, kita dapat menyaksikan patung Hati Kudus Tuhan Yesus dalam pakaian kebesarannya seorang Raja Jawa, yang penuh wibawa dan Hati-Nya yang kudus tampak bernyala-nyala melukiskan Raja Semesta Alam. Tampak dalam tulisan huruf Jawa yang berbunyi "Sampeyan Dalem Maha Prabu Yesus Kristus Pangeraning Para Bangsa", sebagai bukti bahwa inkulturisasi budaya Jawa dalam gereja Katolik sudah dimulai puluhan tahun lalu. Bahan batu-batuan candi diambil dari Gunung Merapi, Candi bercorak Hindu Jawa, panduan dari Mataram Kuno dan Majapahit. Pada bulan Mei 1997 ditemukan sumber air di bawah candi yang diyakini sebagai rahmat Allah yang mengalir bagi siapa saja yang datang ziarah ke Candi dan berdoa di hadapan Candi Hati Kudus Tuhan Yesus. Banyak orang yang telah sakit bertahun-tahun disembuhkan setelah minum air dari candi tersebut, baik umat Katolik maupun yang beragama lainnya.

Puji Tuhan! Panitia berhasil menghubungi Romo Pranowo yang begitu terkesan dengan hadirnya peziarah dari umat pra-bahagia. Justru beliaulah yang mempersiapkan perayaan Ekaristi yang luar biasa, yang terasa begitu agung dan berkesan. Misa Syukur dilaksanakan di halaman candi dimana meja Altar diletakkan di muka candi, dan umat duduk bersimpuh di udara terbuka, yang dihiasi taburan bintang yang berkelap-kelip dan semilirnya angin sejuk, memberikan suasana kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa. Kelompok gamelan dan koor yang mengiringi Misa menghadirkan lagu-lagu khusus dan Mazmurnya pun ditulis dan diaransir khusus untuk rombongan Yohanes Bosco. Para petugas liturgi mengenakan pakaian adat Jawa sehingga menambah anggunnya perayaan Ekaristi. Romo yang memimpin Misa juga mengenakan pakaian kebesaran Jawa, menambah khidmat dan anggunnya perayaan Ekaristi ini. Homili Romo Pranowo, yang kalem namun mengena, menyampaikan pesan-pesan kepada para peziarah akan pentingnya komunikasi dan kasih dalam ziarah kehidupan kita sehari-hari. Selesai Perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan malam keakraban bersama peserta rombongan dengan para petugas koor, dilanjutkan dengan aneka permainan dan nyanyi bersama di Pendopo, dari kita, oleh kita dan untuk kita, diiringi dengan keyboard. Acara ini diakhiri dengan pemberian door prize sumbangan dari umat yang bersimpati dengan ziarah ini.

Patung Bunda Maria dan prasasti di Goa Maria Kaliori diberkati oleh Bapa Suci Yohanes Paulus II dalam Misa Agung 10 Oktober 1989 di Yogyakarta dan saat ini merupakan tempat ziarah terlengkap dengan fasilitas Kapel "Ratu Surga", Jalan Salib, Taman Rosario Hidup, Rumah Retret "Maria Imakulata". Goa Maria Kaliori merupakan tempat ziarah terakhir sebelum rombongan kembali ke Jakarta.

Perjalanan ziarah ini diisi dengan doa rosario, puji-pujian, sharing iman, dan saling melayani sehingga perjalanan empat hari penuh terasa begitu singkat dan penuh kenangan. Para peserta juga menyampaikan terima kasih kepada bapak/ibu donatur yang telah memberikan sumbangan untuk tur ziarah ini dan mengharapkan agar ziarah serupa dapat dilaksanakan lagi bagi teman-teman pra-bahagia yang belum mendapat kesempatan ziarah seperti ini. Panitia juga sangat berterima kasih kepada peserta lainnya yang bekerja sama dengan baik dalam ziarah ini.

diambil dari:
Majalah Bosconian edisi ke lima
Liputan - Ibu-ibu Paroki St. Yohanes Bosco
http://www.st-yohanesbosco.org/bosconian-detail.php?id=297&sub_id=110



copyright April 2005 - www.guamaria.com