www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Senin, 12 Juni, 2006 10:09
Gua Maria Rosa Mystica
oleh Admin

Mawar Suci Bunda Allah Terberkati atau dalam bahasa latinnya, Sancta Rosa Mystica Mater Divinae Gratiae adalah salah satu gelar Bunda Maria, kini menjadi nama tempat ziarah umat Katolik di Indonesia.

Gua Maria yang berada di Bukit Banyuurip Kelurahan Delik Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang itu baru berusia muda. Namun, wahana kegiatan keagamaan umat Katolik itu sudah dikenal secara nasional. Tempat ziarah religius di Banyuurip tidak hanya dikunjungi umat Katolik, juga mereka yang menginginkan pemantapan iman dengan harapan mendapat berkah percaya diri untuk mengapai cita-cita. Salah satu tempat khasnya berupa Sendang Banyuurip, atau lebih dikenal dengan nama Sendang Mawar Gaib. Air di sendang itu konon bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tidak mengherankan jika setiap hari tempat itu tidak pernah sepi pengunjung dari luar kota.

Rm Yohanes Rochmadi Mulyono MSF, yang memimpin misa syukuran empat tahun Gua Maria Sancta Rosa Mystica Mater Divinae Gratiae, Minggu lalu dalam khotbahnya berpesan, sebagai tempat ziarah Banyuurip harus dikembangkan ke arah yang positif. "Gua Maria ini membantu umat untuk memperdalam iman. Kehadirannya untuk membantu pelayanan devosi umat dari berbagai daerah" tuturnya sambil menyarankan agar pembangunanya bisa memenuhi harapan umat dalam pembinaan iman.

Beberapa pengunjung berpendapat, Gua Mawar Suci itu belum sebaik tempat ziarah yang lain. Namun, memasuki usia empat tahun pengelola terus melakukan berbagai penyempurnaan bangunan. Ini dilakukan agar lokasi yang berudara sejuk itu lebih tepat sebagai tempat mendekatkan diri kepada Allah.

Menurut Ketua Panitia Pembangunan AS Sadiyanto didampingi Beny Christanto dan Herman Hartono, lokasi itu hingga akhirnya menjadi tempat ziarah bermula dari penampakan Bunda Maria dalam busana putih kekuning-kuningan dengan tiga kuntum mawar berwarna putih merah, dan kuning emas di atas jubahnya. Di gua inilah, kata dia, diletakkan patung Bunda Maria berjubah putih dengan tiga kuntum mawar menghiasi jubah atasnya. Patung tersebut sumbangan dari seorang umat dari Semarang. Patung serupa juga diletakkan di Sendang Sumber Air Kesembuhan. Dia menuturkan, air di sendang tersebut dianggap sebagai air kesembuhan karena ada legendanya. Menurut legenda, di sana ada seorang nenek yang berhasil mengobati seorang pangeran dari Surakarta dengan menggunakan air tersebut.

Gua di bukit tersebut pada zaman Belanda menjadi pos penjagaan Aniem (sekarang PLN) di Jelok. Pada zaman Jepang gua itu menjadi tempat persembunyian dan pertahanan. Di sini pula tiga putra daerah gugur dalam perang melawan penjajah.

Dalam melakukan Doa Jalan Salib, umat memulai dari Sendang Mawar Gaib menuju puncak perbukitan (berdampingan dengan Gua Maria) sejauh 250 meter. Doa dilakukan melalui jalan berkelok dan naik turun di kebun kopi.

Tempat ziarah itu telah diberkati oleh Uskup Agung Semarang Mgr Ign Suharyo Pr, namun belum diresmikan. Umat yang ingin membantu penyempurnaan bangunan sebelum peresmian bisa menyalurkan melalui rekening AS Sadiyanto, BNI Salatiga, No Rek 137.000316972.902. Umat yang telah mengirimkan sumbangan agar menyampaikan bukti pengiriman ke panitia pembangunan di Dukuh Jelok RT 3 RW 1, Kelurahan Delik, Tuntang 50733, Salatiga. Hal itu perlu dilakukan agar panitia bisa menyampaikan laporan keuangan secara terperinci dan terbuka kepada umat. (Priyonggo-63k)

Legenda Sendang Banyuurip atau Sendang Mawar Biru

Menurut penuturan para peziarah yang pernah datang ke Gua Maria Rosa Mystica Banyuurip, dan kesaksian para tetua di sana, mereka menceritakan:

Pada jaman dahulu kala, ada seorang pangeran dari Solo yang melakukan perjalanan dengan niat menghadap Raja Pandanaran di Semarang, dikawal oleh para hambanya dengan mengendarai kuda. Perjalanan mereka menyusup hutan, naik gunung, turun jurang, melalui jalan yang belum pernah dilalui orang. Tiba-tiba kuda sang Pangeran terperosok ke dalam jurang yang dalam, dan mengakibatkan sang Pangeran meninggal dunia.

Di tengah-tengah kesedihan ditinggal tuannya, tiba-tiba mereka didatangi oleh sepasang kakek-nenek, Kyai dan Nyai Mangunsari, yang menyuruh para hamba untuk membasuh wajah sang Pangeran dengan air dari sendang di dekat jurang itu, sambil mengatakan bahwa sebenarnya sang Pangeran belum tiba saatnya meninggal dunia.

Tanpa membuang-buang waktu, seorang hamba langsung membasuh wajah sang Pangeran dengan air sendang, sesuai dengan permintaan kakek-nenek tersebut, dan seketika itu sang Pangeran menjadi sembuh dan hidup kembali. Dengan ucapan terima kasih yang tak terhingga, sang Pangeran dan para hamba bersitirahat barang sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Namun mereka menjadi terheran-heran karena kakek-nenek itu hilang seketika dari pandangan mereka.

Atas pengalaman itu, Sang Pangeran menjuluki sendang tersebut dengan nama Sendang Banyuurip, dan desa itu sampai sekarang dikenal sebagai Desa Banyuurip. Hingga kini, secara turun-temurun, jika ada orang sakit dan percaya, maka diambilkan air dari Sendang Banyuurip sebagai sarana penyembuhannya.

Sejarah Gua Maria

Pada bulan Juli 1999, umat katolik, didukung oleh masyarakat sekitar bergotong-royong membangun Gua Maria di atas Sendang Banyuurip. Para tetua desa itu mempunyai permintaan, bila dibangun Gua Maria, memohon agar sendang dibangun juga. Kebetulan sekali sendang itu dapat digunakan sebagai tempat awal/pembukaan doa Jalan Salib, yang berjumlah 14 stasi sampai di Gua Maria di atas bukit, sesuai dengan penderitaan Yesus ketika menderita sengsara sampai mati disalib di Gunung Kalvari.

Pada suatu hari ada seorang dari Sampangan Semarang, yang menanyakan dimana letak Sendang Mawar Biru. Ketika dijawab bahwa di daerah itu hanya ada Sendang Banyuurip, tamu tersebut meyakini bahwa tempat itu adalah Sendang Mawar Biru, karena situasi jalan dan daerahnya persis seperti dalam mimpinya. Setelah memandikan dan memberi minum anaknya dengan air dari sendang itu, seketika anaknya yang sudah lama sakit itu menjadi sembuh. Oleh karena itu Sendang Banyuurip kemudian juga disebut Sendang Mawar Biru.

Gua Maria yang dibangun tersebut lalu dinamai Gua Maria Rosa Mystica. Telah banyak peziarah yang mempunyai ujud-ujud khusus berdatangan ke Gua Maria Rosa Mystica, lebih-lebih di bulan Mei dan Oktober. Banyak umat katolik yang berziarah ke tempat itu percaya bahwa Tuhan berkarya melalui sendang itu. Tentu saja sebagai umat beriman kita percaya bahwa hanya Allah yang maha kuasa yang sanggup menyembuhkan segala penyakit bukan air yang keluar dari sendang.

sumber:
Suara Merdeka, Selasa, 29 Juli 2003
http://www.suaramerdeka.com/harian/0307/29/kot28.htm

(disadur dari Majalah Panyebar Semangat)
http://home.unpar.ac.id/~spukat/Zirek2005/banyuurip.htm



copyright April 2005 - www.guamaria.com