www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Jumat, 30 Juni, 2006 13:58
Sebuah Candi Berarca Yesus
oleh Admin

Sebuah candi adalah sebuah monumen yang berhubungan dengan agama Hindu atau Buddha. Ciri-ciri arsitektural, juga ornamen-ornamen seperti relief atau arca yang melengkapinya selalu berkaitan dengan agama yang bersangkutan. Arca Syiwa atau lembu Nandini misalnya adalah penengara candi Hindu. Adapun stupa Buddha Gautama menjadi ciri candi Buddha. Apa mungkin sebuah arca Yesus diletakkan di dalam relung sebuah candi? Sebab kita tahu, Yesus adalah tokoh yang diagungkan umat Kristiani. Lebih-lebih lagi, pada candi tersebut, arca sosok yang ditampilkannya adalah Yesus yang bermahkota dan berbusana kebesaran raja Jawa.

images1Jawaban pertanyaan itu mungkin dan bisa dibuktikan bila Anda mengunjungi kompleks Gereja dan Candi Hati Kudus Tuhan Yesus di Ganjuran, Bantul. Selain gereja dan candi, ada pula Rumah Sakit Santa Elisabeth Ganjuran, Biara Suster Carolus Baromeus, Panti Asuhan Santa Maria, dan SMA Stella Duce 3. Kompleksnya berada di wilayah Dusun Kaligondang, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, DIY. Dari Kota Yogyakarta, jaraknya sekitar 17 kilometer ke selatan. Meskipun kompleks itu berada di dalam areal pedesaan, tak sulit untuk sampai ke lokasi itu. Menyusuri jalan Yogyakarta-Bantul, pada sebuah pertigaan dengan gapura bertuliskan Desa Sumbermulyo, berbeloklah ke kiri. Setelah melintasi pesawahan dan ladang tebu, tak sampai setengah kilometer, Anda akan sampai. Yang memakai kendaraan angkutan umum, ada banyak tukang becak yang siap mengantar Anda. Jalan alternatifnya bisa pula ditempuh pada jalur Yogyakarta-Parangtritis. Hanya saja, jalan masuknya lebih panjang dan berkelok-kelok.

Memasuki kompleks Gereja dan Candi Hati Kudus Tuhan Yesus di Ganjuran adalah perjalanan memasuki wilayah akulturatif di mana terdapat begitu banyak simbol perpaduan beberapa budaya dan agama. Kekayaan seperti itu menjadikan kompleks itu sangat menarik untuk dikunjungi, khususnya untuk kunjungan spiritual. Dalam tradisi Katolik di Jawa, beberapa tempat memang selalu dijadikan tempat perziarahan. Menyebut beberapa misalnya Gua Maria Sendangsono, Gua Maria "Lourdes" di Puhsarang, Kediri, dan juga Gereja dan Candi di Ganjuran itu.

images2Akulturasi yang menjadi warna dari kompleks tersebut juga tertemukan pada aktivitas orang di areal tersebut. Sebagai areal Katolik, ritual utamanya tentu saja yang berhubungan dengan agama tersebut. Gereja Ganjuran itu juga menjadi salah satu tempat perziarahan umat Katolik. Walau demikian, jangan Anda mengira yang datang ke situ melulu pemeluk agama tersebut. Aktivitas ritual, khususnya berdoa di sekitar atau di relung candi, juga dilakukan oleh orang-orang non-Katolik. Itu dibenarkan oleh Krismawan Aris Dwiyanto, Sekretaris Pelayanan di situ. "Memang ada misa dalam jadwal tertentu di candi ini. Tentu saja dipimpin salah seorang romo di sini. Tapi setiap hari, selalu saja ada orang yang berdoa di sini. Dan mereka tak selalu penganut Katolik", jelas Aris. Penjelasan itu mengingatkan saya pada aktivitas ritual serupa di Gua Maria "Lourdes" Puhsarang. Di sana juga ada misa dalam jadwal tertentu dan sebuah Misa Agung setiap selapan (35 hari). Yang berbeda hanyalah saat Misa Agung dilangsungkan. Di Puhsarang setiap malam Jumat Legi, sementara di Ganjuran Misa Agung berlangsung setiap malam Jumat pertama setiap bulannya. Aris benar saat mengatakan setiap hari selalu ada pengunjung yang datang dan berdoa di areal candi. Lebih-lebih pada hari libur atau ada jadwal misa, pengunjung yang datang sangat banyak. Saya berkunjung ke sana bukan pada hari libur dan membuktikan omongan lelaki tersebut.

Rabu siang, saya masuk ke ruang sekretariat Dewan Paroki untuk bertemu romo atau disitu disebut Gembala Umat. Seorang staf mengatakan ketiga romo (Antonius Jarot Kusnopriyono Pr, FX Wiyono Pr, dan Gregorius Utomo Pr) sedang melakukan pelayanan keluar. Karena itu, Arislah yang mewakili mereka untuk mengantar saya berkeliling kompleks sekaligus sebagai pemberi keterangan. Dia mengajak saya ke areal Candi Hati Kudus Tuhan Yesus yang sangat luas. Sebuah candi dalam corak candi Hindu berdiri, sementara halaman berlapis batu tempel terbentang hingga ke gerbang. Pada kanan kirinya pepohanan besar berdiri. Beberapa batang cemara besar menjadikan tempat itu sangat rindang. Angin begitu sejuk ketika itu. Tak ada suara orang sehingga kerisik dedaunan terdengar menciptakan musik alam yang melodius. Meskipun areal itu sebuah lanskap yang cukup terbuka, suasana begitu tenang, nyaman, damai dan khidmat.

Sekitar belasan orang duduk terpekur didua pendapa yang berada di samping candi. Mereka menyimak Alkitab yang terbuka. Menyempal dari kumpulan orang itu, seorang wanita tua duduk bersimpuh di atas lantai halaman candi. Dengan sebuah buku doa yang terbuka, dia khusyuk berdoa. Dua orang muda, laki-laki dan perempuan tengah membasuh kaki dan tangan mereka dengan air yang memancar dari keran. Tempat bersuci yang merupakan deretan keran berada di samping kanan candi. Menurut Aris, air itu berasal dari sumber di bawah candi. Seperti di banyak tempat perziarahan, air tersebut dipercaya memiliki khasiat dan banyak orang percaya akan hal itu. Air itu disebut Tirta Perwitasari. Apa pasal? Nama itu didedikasikan pada seseorang yang menjadi orang pertama menikmati "daya sembuh" air tersebut. Namanya Perwita. Khasiat air di situ juga ditegaskan dalam khotbah Gembala Umat ketika itu, yaitu Romo EM Supranowo Pr. Lagi-lagi hal itu mengingatkan saya pada air di Gua Maria "Lourdes" Puhsarang yang airnya dipercaya berkhasiat sebagai obat. Yang pasti, air itu memang bermanfaat untuk membasuh tangan dan kaki, juga bisa dimanfaatkan orang-orang di luar areal gereja. Biasanya dengan jeriken mereka mengambil air itu untuk kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Setelah bersuci, pasangan tersebut naik ke candi setelah melepas alas kaki. Pada pintu relung candi, mereka bersimpuh, lalu khusyuk berdoa. Di hadapan mereka, duduk dalam posisi tegap sebuah arca. Siapakah sosok arca yang memakai busana kebesaran dan mahkota raja Jawa itu? Tak lain dan tak bukan, itu Yesus Kristus. Sesosok Yesus akulturatif. Ikon akulturasi lainnya adalah relief tulisan berhuruf Jawa pada dinding di atas kepala Yesus. Tulisan itu berbunyi, "Sampeyan Dalem Sang Maha Prabu Yesus Kristus Pangeraning Para Bangsa". Lihatlah, sebutan "sampeyan dalem" adalah sebutan khas untuk raja-raja Jawa bertrah Mataram. Bukti lain akulturasi pada simbol-simbol yang ada terjumpai juga pada relief yang menggambarkan proses Jalan Salib atau Kisah Kesengsaraan Yesus menuju Bukit Golgota. Relief-relief itu terbuat dari batu karsit putih yang terpacak dinding yang berbatasan dengan bangunan SMA Stella Duce. Dalam jumlah 15 stasi, sosok-sosok yang digambarkan "Jawa banget". Paling tidak pada cara mereka berbusana dan tulisan berhuruf Jawa yang menerakan tema pada tiap stasi.

Di luar itu semua, selain gereja dan beberapa bangunan khas Katolik lainnya, mengapa candi juga didirikan di situ? Keluarga Schmutzer yang mendirikan gereja sejak lama berkeinginan membuat sebuah bangunan monumental untuk mengenang penyertaan dan belas kasih Hati Kudus Tuhan Yesus yang tak lapuk oleh zaman. Bangunan itu juga harus bersifat mewakili tradisi dan kebudayaan masyarakat sekitarnya. Nah, candi sebagai tempat pemujaan orang Jawa menjadi pilihan utama, lengkap dengan semua ornamen akulturatif seperti arca Kristus Raja dalam busana kebesaran raja Jawa.

Dimanakah lagi simbol-simbol akulturasi itu? Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus-lah jawabannya. Dari candi, Aris mengajak masuk ke gereja setelah melewati Panti asuhan Santa Maria dan Biara Suster Carolus Baromeus. Dari luar, bangunan gereja memang menunjukkan arsitektur khas Belanda klasik. Tapi begitu masuk ke dalam, interiornya "Jawa banget". Lihat saja, pada altar utama, selain mimbar dan meja untuk pastor, terdapat sebuah tabernakel dengan relief Yesus tersalib. Di kanan kirinya, duduk bersimpuh dua patung malaikat, lengkap dengan sayap seperti yang dikenal dalam tradisi Kristiani. Tapi ada yang aneh pada kedua patung itu. Apa itu? Cara mereka duduk bersimpuh dalam sikap menyembah dan sebuah mahkota para pembesar kerajaan Jawa terpacak pada kepala mereka. Pada sebelah kiri, sebuah payung kebesaran kerajaan berdiri plus sebuah lentera berdesain gaya keraton Jawa.

Belum, belum semuanya untuk menegaskan bahwa gereja itu sengaja dibuat dengan ornamentasi tradisional Kejawaan. Pada dinding gereja, terpajang lukisan batik tulis yang menceritakan Kisah Kesengsaraan Yesus. Pada sisi yang agak jauh di kanan altar utama, duduk gagah arca Yesus, serupa dengan yang ada di relung candi. Adapun di sisi jauh sebelah kiri, ada arca Yesus kecil dalam pangkuan Maria. Terhadap patung tersebut, saya sempat berkomentar, "Kalau tidak di dalam gereja, figurnya lebih mirip seorang ratu yang tengah memangku pangeran kecilnya." Aris hanya tersenyum. Tapi rupanya lelaki itu punya selera humor yang bagus saat saya mengomentari arca Yesus yang mirip raja Jawa. "Dalam gambar-gambar, kita mengenal sosok Yesus berambut ikal panjang dan berjenggot lebat. Kenapa rambutnya tidak dimunculkan?". Aris menjawab sambil tertawa, "Lho kan rambutnya sudah disisir rapi?" Tapi lalu dia menambahkan, "Semuanya sudah seizin Paus. Jadi, semua simbol yang 'di-jawakan' ini sudah mendapat restu Takhta Suci."

Selain simbol-simbol perpaduan kebudayaan tersebut, gereja dan candi tersebut juga adalah bangunan tua. Gereja didirikan 16 April 1924. Pemberkatannya oleh Vicaris Apostolik Batavia Mgr JM van Velsen pada 20 Agustus 1924. Perlu diketahui, ketika itu Jakarta atau Batavia masih berupa Vikariat Apostolik dan Semarang belum menjadi keuskupan. Kalau sekarang, gereja tersebut termasuk wilayah keuskupan Semarang. Adapun bangunan candi baru didirikan tahun 1927 dan diberkati tiga tahun kemudian oleh vicaris yang sama. Ketuaan dan kekhasan arsitektural terus dipertahankan hingga sekarang. "Selain atap yang diganti, semuanya masih seperti ketika didirikan. Makanya, areal ini menjadi wilayah cagar budaya," tandas Aris.

"Rerum Novarum" Keluarga Schmutzer

Semua yang ada di kompleks Gereja dan Candi Hati Kudus Tuhan Yesus di Ganjuran bermula dari keluarga Schmutzer. Mereka adalah pemilik Pabrik Gula Gondang Lipuro, satu-satunya pabrik gula yang bukan milik Nederlandsch Indische Suiker Syndikaat (Sindikat Gula Hindia Belanda). Sebagai pengamal ajaran sosial gereja yang disebut "Rerum Novarum", mereka adalah keluarga pendevosi atau orang yang menghormati secara istimewa terhadap Hati Kudus Tuhan Yesus.

Ajaran yang diundangkan oleh Paus Leo XIII pada tahun 1891 itu intinya mengatur hubungan majikan dan buruh. Dalam undang-undang tersebut, hubungan majikan dan buruh bukan relasi tuan dan hamba, melainkan mitra. Buruh, selain mendapat upah, juga pembagian keuntungan yang adil. Ajaran seperti itulah yang dikembangkan keluarga Schmutzer dalam menjalankan pabrik mereka. Khususnya ketika dua bersaudara dari keluarga itu, Josef dan Julius Schmutzer memiliki pabrik itu sepenuhnya.

Wujud amalan "Rerum Novarum" itu dibuktikan dengan pendirian 12 Sekolah Rakyat (SR) di desa-desa sekitar pabrik. Pembiayaan semua sekolah ditanggung oleh keluarga tersebut dari hasil keuntungan pabrik. Tak semata sebuah jumlah, angka 12 dipilih sebagai lambang 12 rasul dalam tradisi kristiani.

Amalan diwujudkan pula oleh istri Julius yang bernama Caroline. Dia mendirikan rumah sakit dan sekolah untuk kaum perempuan pada tahun 1920. Setahun berikutnya, dia merintis sebuah poliklinik. Poliklinik tersebut pada masa selanjutnya menjadi RS Santa Elisabeth Ganjuran yang kini dikelola suster-suster Carolus Boromeus dan Yayasan Panti Rapih. Keluarga besar Schmutzer juga mendirikan sebuah rumah sakit di Kota Yogyakarta yang bernama Onder de Bogen yang kini dikenal sebagai RS Panti Rapih.

Pengamalan ajaran lainnya adalah pembangunan saluran irigasi dari sungai Progo (Kamijoro) ke wilayah Bantul di Kebonongan (Kretek). Itu atas izin Sri Sultan Hamengkubuwona VIII. Tujuannya adalah untuk menjaga kelangsungan hidup pabrik gula dan membantu petani di desa sekitar. Dengan begitu, Bantul bagian selatan yang menjadi areal perkebunan tebu tak lagi menjadi daerah yang kering. Pabrik gula pun jadi berkembang bagus dan keuntungannya untuk pengamalan "Rerum Novarum" lainnya.

Masih berkaitan dengan "Rerum Novarum", pada tahun 1924, mereka mendirikan gereja bernama Hati Kudus Tuhan Yesus. Beberapa tahun berikutnya, sebuah candi didirikan. Tujuan utamanya adalah sebuah monumen untuk menghormati, memuliakan, dan mengenang belas kasih Hati Kudus Tuhan Yesus. Di Belanda, monumen seperti itu banyak didirikan. Tapi bersandar pada "Rerum Novarum" dan untuk berakulturasi dengan kehidupan sekitar, sebuah candilah yang dibangun.

Atas jasa-jasa yang dalam khazanah Katolik disebut kerasulan sosial, Julius mendapat penghargaan Bintang Gregorius dari Takhta Suci (Paus). Caroline juga mendapat penghargaan bintang Oranje Nassau atas karya sosialnya. Tak lama setelah itu, Julius sakit dan harus dirawat di Belanda. Dia lalu tinggal di Arnhem. Pabrik Gula Ganjuran dipimpin seorang administratur yang ditunjuk keluarga tersebut. Tahun 1948, pabrik gula dibumihanguskan menyusul Clash II. Tetapi, gereja, candi, rumah sakit, dan sekolah-sekolahnya masih tetap kukuh hingga kini. Tahun 1954, Julius meninggal sedang Caroline sendiri baru meninggal tahun 1990.

Setelah menetap di Belanda, ada kesan keluarga Schmutzer tak bisa lagi menikmati hasil rintisan mereka di Ganjuran. Pada kenyataannya tidak begitu. Beberapa kali anak cucu Schmutzer berkunjung ke Indonesia dan pergi ke Ganjuran untuk berdoa bersama umat Katolik di situ. Dan berdasar catatan yang ada, gereja tersebut memiliki ribuan umat yang tersebar di 27 wilayah.
(Saroni Asikin-13)

diambil dari:
http://www.suaramerdeka.com/cybernews/gaya/wisata/wisata-gaya52.html



copyright April 2005 - www.guamaria.com