www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Jumat, 15 September, 2006 08:26
Gua Maria Sendang Pawitra Sinar Surya
oleh Admin

Gua Maria Sendang Pawitra Sinar Surya lebih dikenal dengan nama gua Maria Tawangmangu karena terletak di kota kecil Tawangmangu. Kota ini berjarak kurang lebih 50km timur Solo (Surakarta) dan sudah lama sekali terkenal dengan obyek wisata air terjun Grojogan Sewu serta candi Sukuh, sebuah candi berarsitektur tidak lazim dari era Hindu Jawa. Meskipun terselip di lokasi wisata yang amat populer akan tetapi gua Maria ini rupanya sudah sering dikunjungi oleh umat Katolik dari berbagai daerah.

Seperti biasa kami menyempatkan mengunjungi gua Maria Tawangamangu ditengah-tengah kesibukan kunjungan kerja kami ke Solo pada akhir bulan Agustus 2006. Untuk menuju ke Tawangmangu perlu waktu 1 jam lebih dari kota Solo dan sangat mudah dicapai karena jalan sangat mulus, cari saja petunjuk yang mengarah ketimur atau jalur kearah Surabaya/Jawa timur. Kali ini kami memakai bus umum untuk menuju kesana. Dari kota Solo berangkat dari terminal Tirtonadi yang suasananya tidak "seangker" terminal di Jakarta. Banyak bus yang menuju ke Tawangmangu, mungkin setiap 15 menit berangkat karena bus yang kami tumpangi tidak menunggu lama. Tarifnya juga cuma 7000 rupiah, sangat murah untuk jarak sejauh itu dibandingkan misalnya dengan ongkos becak dari hotel ke terminal yang tarifnya sama. Jika ingin ke candi Sukuh turunlah di terminal transit Karang Pandan tetapi jika tidak, turunlah di terminal Tawangmangu yang letaknya berseberangan dengan pasar Tawangmangu. Jalan dilereng gunung kearah Tawangmangu sempit untuk ukuran bus besar, jalannya menanjak tetapi tidak begitu curam dan dibeberapa tempat berliku-liku. Mungkin karena bukan hari libur maka lokasi wisata berhawa sejuk dikaki gunung Lawu tersebut tidak begitu ramai.

Sejarah

Nama Gua Maria Sendang Pawitra Sinar Surya berhubungan erat sekali dengan sejarahnya. Nama dusun Sendang (lokasi gua Marianya) didapat dari sendang (sumber air) didekat situ yang pada zaman dulu sering dipakai empu untuk membuat keris. Seperti lazimnya orang Jawa, umat Katholik diwilayah Tawangmangu juga sering melakukan tirakat disekitar lokasi ini sebagai bagian dari penghayatan iman untuk mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Kuasa, sehingga lama kelamaan dirasa perlunya suatu tempat khusus untuk berdoa. Tradisi tirakat itu sudah berlangsung sejak tahun 60an akan tetapi baru pada tahun 1984 diperoleh semacam penglihatan adanya cahaya dari langit diatas gunung Tempurung menyorot kesebuah pohon. Dalam perjalanan dikemudian hari kesebelah selatan pusat wisata itulah mereka melihat pohon seperti yang tampak dalam penglihatan waktu tirakat, sehingga menambah keyakinan mereka bahwa itulah tempat yang ditunjuk oleh Bunda Maria. Tanah kosong cuma seluas 200 meter persegi itu kemudian dibeli oleh umat Katholik paroki St. Pius X Karanganyar stasi Tawangmangu secara patungan. Lalu perlahan-lahan mulailah dibangun untuk dijadikan tempat perziarahan dengan peletakan batu pertama oleh Pastor A.Y. Hardjosudarmo SJ pada tahun 1986, tidak ada data kapan tempat ini diresmikan. Nama Pawitra yang dalam bahasa Sansekerta berarti tempat untuk menyucikan diri kemudian ditambahkan sehingga nama lengkapnya menjadi Gua Maria Sendang Pawitra Sinar Surya, dimana "Sinar Surya" ini untuk mengenang sinar yang menyorot tempat tersebut waktu penglihatan saat tirakat dulu.

Dua jalan masuk

Jalan masuk ke lokasi gua Maria bisa ditempuh dua cara. Satu memakai kendaraan langsung menuju gua Maria lewat jalan-jalan desa yang sempit (cuma muat 1 mobil) dan tanjakannya berat. Jangan coba-coba melewati jalan ini jika kendaraan anda tidak sehat kondisinya atau bermuatan berlebihan. Beberapa puluh meter sebelum masuk terminal Tawangmangu, disebelah kanan, ada jalan menurun menuju desa Sepanjang, susuri jalan sampai pertigaan shelter pangkalan ojek, lalu naik keatas. Di pertigaan bertuliskan desa Sepanjang - dusun Tapan naik lagi keatas untuk sampai di pos kecil tempat perhentian yang didekatnya ada tanda tulisan desa Sepanjang - dusun Sendang. Di samping pos kecil yang juga difungsikan sebagai tempat istirahat itulah terletak tangga batu untuk turun kebawah ke lokasi gua Maria. Didepan pos terbentang lapangan bola luas yang biasa dipakai sebagai tempat parkir, disampingnya ada jalan yang meskipun bisa untuk kendaraan roda empat kecil tetapi tidak beraspal, nah dijalan yang curam menurun itulah dikiri jalannya diletakan perhentian jalan salib, tetapi jangan salah itu adalah perhentian bagian akhir. Jalan desa Sepanjang meskipun bukan aspal hotmix, lumayan mulus untuk ukuran desa tetapi cukup sempit. Meskipun tanjakannya berat, ojek charteran yang kami tumpangi cukup mudah mendakinya, hanya ngeri juga diboncengi melewati jalan naik turun seperti itu.

images1Jalan masuk kedua merupakan jalan salib bagian awal, jalan masuknya terletak tidak jauh dari bagian belakang terminal bus. Jika memakai mobil atau bus rombongan dapat parkir di jalan raya, pasar atau bagian belakang terminal jika terminal sepi. Dari bagian belakang terminal ada jalan tembus ke jalan-jalan desa, ada juga jalan kecil disamping terminal yang bisa dilalui kendaraan kecil. Cari petujuk kecil ditiang listrik yang menunjukan jalan ke gua Maria, disamping rumah tempat penyewaan perlengkapan pesta "gaul" atau tanya saja penduduk karena semua sudah mengenal arah jalan masuk ini. Jalannya sebagian beraspal sederhana lalu disambung tanah, jalan ini naik keatas tembus sampai gua Maria yang letaknya dipuncak bukit yang juga bisa dicapai lewat dusun Sendang seperti diuraikan sebelumnya. Jalan ini medannya terasa sangat berat, terutama bagi orang kota yang tidak terbiasa jalan kaki. Perlu persiapan matang untuk melakukan jalan salib lewat jalur ini, pertimbangkan baik-baik jika membawa anak-anak atau orang tua. Jangan coba-coba jika kondisi fisik anda tidak prima, juga perlu perlengkapan memadai jika hari hujan karena jalan tanah akan menjadi sangat licin. Waktu ideal mendaki adalah pagi atau sore hari. Jangan lupakan juga membawa bekal cukup karena tidak ada penjaja makanan atau minuman disekitar lokasi gua Maria ini.

Jaraknya memang cuma sekitar 3km dari tetapi medannya turun naik sangat berat yang membuatnya bisa ditempuh sampai 2 jam lebih dari perhentian pertama ke terakhir didekat lapangan bola diatas bukit. Jika ingin merasakan jalan salib sesungguhnya inilah barangkali jalan salib yang sesuai untuk menghayati makna penderitaan Yesus Kristus. Ini boleh dibilang jalan salib terberat dari semua lokasi gua Maria yang pernah kami kunjungi. Disepanjang jalan anda disuguhi pemandangan khas pedesaan di pegunungan berbalut udara sejuk yang nyaman. Sayang sekali bukit-bukit yang tampak dikejauhan yang mengelilingi Tawangmangu banyak yang gundul dirambah akibatnya pemandangan menjadi kurang indah, boleh dikatakan bahwa hutan-hutan dilingkungan sekitarnya sudah rusak.

Gua Maria sederhana

Diorama pada perhentian jalan salib kebanyakan tidak ada alias kosong hanya ada penyangganya saja yang dihiasi model "gunungan" wayang. Waktu itu kami ditemani oleh penjaga lokasi berserta istrinya (lupa namanya), mereka mengatakan kekurangan biaya untuk membuat diorama jalan salib yang memadai. Bahkan beberapa nomor jalan salib juga hilang mungkin karena ulah tangan iseng juga.

images2Gua Marianya terletak dibagian bawah dari pos istirahat yang ada ditepi jalan, perlu tangga cukup jauh untuk turun kebawah. Gua Marianya kecil dan terlihat sederhana, dengan patung Bunda Maria yang juga sangat sederhana. Kesederhanaan dan kesunyian tempat ini sangat cocok bagi umat yang datang berziarah untuk melakukan perenungan mendekatkan diri pada Allah Pencipta. Tidak ada disediakan air bagi umat yang ingin memakai air sebagai lambang penyucian diri. Dari buku tamu yang disodorkan oleh si ibu penjaga untuk diisi, terbaca banyak juga orang dari berbagai daerah yang datang berziarah. Akan tetapi mungkin karena jumlahnya tidak begitu banyak sehingga tidak ada acara rutin semacam doa Novena atau misa rutin bagi para penziarah pada saat-saat tertentu.

Jika turun kebawah lagi maka terdapat semacam rumah terbuka (pendopo) yang bisa dipakai untuk istirahat atau mengadakan prosesi misa. Turun kebawah lagi terdapat toilet yang bisa dipakai untuk umum. Pemandangan disekeliling gua Maria ini sebenarnya sangat indah karena letaknya yang dipuncak bukit, akan tetapi seperti yang disebutkan sebelumnya bukit-bukit gundul disekitarnya sangat mengganggu pemandangan.

Pengelola gua Maria (stasi Tawangmangu) berencana membangun jalan salib pendek untuk penziarah yang tidak kuat melewati jalan salib panjang yang berat. Tetapi sekali lagi kendalanya adalah biaya, sehingga diperlukan dukungan umat secara luas. Potensi gua Maria ini sebenarnya sangat besar karena mudah dicapai dan berada dalam lingkup area wisata ternama. Para penziarah dapat melakukan ziarah sambil berekrasi yang belakang ini menjadi trend. Jika anda berkesempatan ke Tawangmangu jangan lupakan berziarah ke gua Maria ini yang akan memberikan pengalaman melakukan jalan salib yang lain dari pada yang lain.

sejarah dari:
Buku Ziarah Gua Maria Di Jawa karangan R.L. Soemijantoro



copyright April 2005 - www.guamaria.com