www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Rabu, 20 Desember, 2006 12:15
Gua Maria Sendang Sono
oleh Admin

Penulis ingin berbagi kisah pengalaman mengenai tempat perziarahan umat Katolik yang pertama di Indonesia yaitu Gua Maria Sendang Sono, khususnya dalam rangka memperingati 100 tahun Sendang Sono sebagai tempat perziarahan yang acara puncaknya jatuh pada tanggal 17 Oktober 2004 dengan diadakan suatu prosesi dan misa ekaristi kudus pada jam 10 oleh Mgr. Ign. Surhayo Pr.

Jika dihitung dari diresmikannya Sendang Sono pada tanggal 8 Desember 1929 oleh Pastor Rp. Prennthaler, SJ, Sendang Sono sesungguhnya baru didirikan selama 75 tahun, tetapi Sendang Sono telah diperingati selama 100 tahun sejak peristiwa baptisan pertama umat dari Desa Kalibawang di Sendang Sono pada waktu itu oleh Pastor Van Lith, SJ tahun 1904.

images1Sendang Sono mempunyai arti yang khusus di hati penulis dimana pertama kali berziarah ke Sendang Sono tahun 1982 masih harus berjalan kaki dari tempat kita naik mobil Colt sekarang yaitu Desa Sentolo ke Gereja Promasan sebelum beribadat jalan salib untuk menuju ke Gua Maria. Sendang Sono berasal dari kata sendang yaitu sumber air dan sono yaitu pohon sono yang besar seperti pohon beringin hanya berbeda daunnya. Aslinya dulu sumber airnya terletak di pohon sono. Sedangkan patung Bunda Maria di Sendang Sono dipersembahkan oleh Ratu Spanyol yang begitu susahnya digotong naik dari bawah Desa Sentolo oleh umat Kalibawang, seperti diceritakan oleh Ibu Karno yang berasal dari Sendang Sono.

Sendang Sono sangat berarti bagi umat Katolik karena Sendang Sono yang boleh dikatakan dahulu dikenal sebagai tempat angker dari masyarakat sekitar kemudian telah berubah total berkat karya Pastor Van Lith, SJ, yang mengemban misi dalam pengajaran agama Katolik di tanah Jawa, khususnya di Muntilan. Sebanyak 178 umat Desa Kalibawang dibaptis oleh Pastor Van Lith, SJ, kala itu termasuk juga Bapak Barnabas sebagai katekumen pertama di Sendang Sono.

Seiring jaman revolusi pemuda Katolik Indonesia berkesempatan berziarah ke Lourdes tahun 1945 dimana mereka membawa batu tempat penampakan Bunda Maria untuk ditanamkan di bawah kaki Bunda Maria Sendang Sono sebagai reliqui sehingga Sendang Sono juga sering disebut sebagai Gua Maria Lourdes Sendang Sono. Kemudian lingkungan di Sendang Sono pun ditata dengan begitu asrinya oleh Romo Mangun sehingga beliau mendapatkan penghargaan di bidang arsitektur yaitu piagam Aga Khan Award.

images2Bagi peziarah yang ingin ke Sendang Sono dapat menempuh arah dari Yogyakarta menuju ke Muntilan. Sesampainya pasar Muntilan belok ke kiri ke arah Sentolo, lalu bila membawa kendaraan pribadi bisa langsung menuju ke Gua Maria Sendang Sono, total jarak tempuh kurang lebih 45 km (kurang lebih satu setengah jam dari Yogyakarta).Dapat juga ditempuh dari Yogyakarta ke arah Godean setelah jembatan Kali Progo ada perempatan jalan ambil arah ke kanan ke arah Muntilan sampai di Sentolo. Setelah itu naik menuju ke Gua Maria Sendang Sono.

Gua Maria Lourdes Sendang Sono yang tak terasa telah diperingati satu abad semoga terus mengimani umat Katolik agar tetap tekun mengasihi Bunda Maria melalui devosi-devosi cinta terhadap keluarga, sesama, dan Yesus Kristus Putera-Nya. Amin.

Jakarta, 27 Juli 2004
Si Tukang Ziarah, Diceritakan dari berbagai sumber dan pengalaman
diambil dari: http://www.st-yohanesbosco.org/bosconian-detail.php?id=297&sub_id=91



copyright April 2005 - www.guamaria.com