www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Senin, 6 Augustus, 2007 11:03
Ziarah ke gua Maria Lourdes puhsarang
oleh Admin

Dalam rangka hari peringatan HUT Lingkungan St. Maria Goretti yang jatuh pada tanggal 6 Juli 2005, maka segenap pengurus ingin mengajak umat sekalian untuk berziarah ke gua Maria Lourdes puhsarang - Kediri, Jawa timur.

Kami berangkat pada tanggal 8 Juli 2005, tepatnya pukul 08.05 pesawat mulai meninggalkan Jakarta menuju Surabaya. Sebelumnya kami sempat melakukan ibadat singkat untuk doa sebelum perjalanan di lobby bandara. Bahkan ada beberapa penumpang ikut bernyanyi bersama sama dengan kami.

Satu jam kemudian kami mendarat di bandara Juanda Surabaya. Kami di jemput oleh tour leader Bp. Alfian dari Renata Tour Surabaya. Setelah menyelesaikan urusan urusan bagasi dan confirm tiket untuk pulangnya, bis kamipun melaju menuju tempat untuk makan siang khas kota Surabaya. Sehabis makan siang kami menuju ke kota kediri. Dalam perjalanan kami banyak dikenalkan dengan tempat tempat yang kami lewati. Diantaranya yaitu Monkasel (Monumen kapal selam) milik Angkatan Laut Surabaya, kita bisa masuk didalamnya yang dilengkapi dengan AC. Terus kami lewat sungai terbesar di Jawa timur yaitu Kali Brantas, sungainya lebar sekali dan airnya mengalir sangat deras. Ada beberapa celetukan dan ceritera-ceritera dari bapak-bapak dan ibu-ibu bahkan dari anak-anak dari peserta. Sepanjang jalan selama empat jam menuju kota Kediri hampir tidak ada peserta yang tidur. Ada yang nyanyi, sharing iman dan juga nyamil-nyamil yang tidak pernah berhenti.

Kira-kira jam empat sore kami sampai di Puhsarang - Kediri. Dengan badan yang sedikit letih kami mulai menurunkan bagasi kami dan menuju lobby Griya Hening St. Chatarina Laboure (Susteran tempat kami menginap). Kami disambut hangat oleh Suster Veroni,yang langsung memberikan kunci kamar kami masing-masing. Nah karena kami diberi acara bebas selama dua jam maka dari peserta ada yang langsung mandi, ada yang jalan-jalan keliling penginapan, ada yang langsung belanja souvenir-souvenir dan ada yang pakai tidur tiduran melepaskan penat setelah perjalanan jauh.

Tepat pukul enam sore kami semua menuju ruang makan untuk santap malam. Menu special kota kediri adalah tahu kediri, tahu ini dibuat variasi seperti krupuk stik tahu yang gurih, tahu goreng sambal petis yang yahud. Oh ya yang menarik dari penginapan ini selain tempatnya yang asri juga didepan pintu-pintu kamar diberi nama kata-kata kebijaksanaan, misalnya ketaatan, kejujuran, kebaikan hati, kerendahan hati dll. Di sekitar penginapan banyak sekali pohon jambu mente, oleh suster-suster setempat jambu mente di olah menjadi anggur jambu mente yang bisa menyegarkan tubuh dan dijual bisa untuk oleh-oleh.

Pukul 19.00 tepat dengan dipandu oleh tour leader, kami berjalan menuju pondok rosario. Ada tiga pondok rosario yang melambangkan pristiwa sedih, gembira, mulia. Pada waktu pondok rosario dibuat, peristiwa terang belum dipakai. Jadi sampai sekarang baru ada tiga pondok peristiwa rosario. Karena hari itu hari Jumat maka kami berdoa rosario di pondok peristiwa sedih. Doa rosario dibimbing ibu Vera dengan khusuk dan sangat menyentuh hati karena suasana pondok yang sangat mendukung. Setelah menyelesaikan doa rosario, kami semua menuju Mousoleum Makam Uskup Hadiwikarta (Uskup Surabaya) dan para pastor lainya yang meninggal di Keuskupan Surabaya. Di tempat ini kami berdoa Litani untuk para orang kudus, kami daraskan secara bergantian dengan umat lainya.

Selanjutnya kami berdoa pada Bunda Maria Lourdes Puhsarang, ada beberapa Gua Maria versi Jawa yang lokasinya bersebelahan dengan gereja puhsarang. Banyak umat berdoa secara pribadi dengan khusuk dalam ujud doanya masing-masing. Oh ya sepanjang perjalanan mulai dari pondok rosario hingga ke gua maria gereja puhsarang kami semua berjalan sambil menyanyikan lagu-lagu pujian Maria. Setelah selesai dengan doa-doa pribadi, kami berkumpul di halaman gereja Puhsarang untuk mengikuti renungan malam, Ibarat baterai yang sedang di charge, haruslah sampai penuh. Nah begitu pula dengan malam itu, kamipun ingin meng-charge baterai rohani kami sampai penuh dengan mengikuti renungan malam yang intinya adalah supaya kita mampu sebagai pelaksana sabda Tuhan dan tekun melaksanakanya (dengan membaca firman setiap hari sebagai makanan rohani kita setiap pagi hari) dan juga ditambahkan renungan mengenai bunda Maria yang harus kita pakai sebagai teladan iman kita dengan kesabaran, ketabahan, kerendahan hati dan ketekunannya dalam mengikuti setiap karya-karya Tuhan Yesus putranya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, kamipun kembali ke penginapan untuk merangkai mimpi yang indah setelah beribadat seharian. Di lobby depan kamar kami, masih tampak para panitia inti masih berdiskusi untuk acara besok pagi.

Pagi hari pukul enam kami mengikuti misa pagi di gereja Puhsarang, dengan khotbahnya mengenai peziarahan. Dimana setiap umat beriman adalah peziarah dalam kehidupan kita sendiri dengan melakoni "jalan-salib" kehidupan kita masing-masing. Yang setiap kali kita harus jatuh, bangun, jatuh dan bangun kembali untuk menapaki setiap masalah dalam kehiduupan kita. Selain dari peserta ziarah dari Jakarta, ada juga peserta dari kota lainnya ikut dalam misa yang kami adakan pagi hari itu.

Selesai misa kamipun menikmati sarapan pagi dengan menu special khas jawa Timur yaitu nasi bakmoi ayam dengan sambal petis. Setelah makan pagi kami melakukan acara puncak ziarah yaitu jalan salib. Setiap pemberhentian dibacakan oleh setiap keluarga, kebetulan ada lebih kurang 15 keluarga. Dengan dipandu tour leader, kamipun memulai ibadat jalan salib dengan khidmat dan khusuk. Stasi demi stasi kami lalui walaupun panas pagi mulai merambat menjelang siang. Tetapi semangat para ziarah tak lekang oleh panas pagi tersebut yang memang agak sedikit menyengat. Yang istimewa dari setiap pemberhentian adalah bentuk ornament kisah sengsara Yesus dibuat sebesar ukuran tubuh manusia seutuhnya dan semuanya dibuat berlapis warna keemasan. Dan semuanya digambarkan begitu detail sampai dengan ekspresi wajahnyapun dapat tersirat kekejaman maupun kesedihan. Jadi kalau kita amati dengan seksama seakan akan ornament patung-patung itu dapat berbicara kesengsaraan Tuhan Yesus kepada kita sekalian. Setelah selesai pada pemberhentian terakhir, kamipun berkumpul didepan gua maria puhsarang yang terbesar untuk diambil foto bersama sebagai kenang-kenangan. Disini peserta juga dipersilahkan untuk mengambil air suci sebagai oleh-oleh atau untuk basuh muka, tangan dan kaki dan bahkan boleh diminum secara langsung untuk kesembuhan. Kamipun kembali kepenginapan untuk persiapan chek out.

Pukul sepuluh tepat kami mulai bergerak meniggalkan kota kediri dan menuju kota pariwisata Batu - Malang. Di sini kami pergi ke taman agro wisata petik buah apel. Nah disinilah kami mendapat berkat dari Tuhan yaitu berupa curahan air hujan yang secara mendadak turun dengan derasnya, sehingga baju kamipun jadi basah kuyup semua. Sehabis dari sini kami menuju rumah makan untuk santap siang. Setelah bersantap kami melanjutkan perjalanan menuju kota Malang. Sampai di hotel Santika - Malang langsung acara bebas. Ada yang pergi jalan-jalan di kota malang sambil makan malam. Ada yang bersilaturahmi dengan famili yang ada di malang dll.

Pagi harinya pukul setengah enam kami sudah mengikuti misa di gereja Kathedral Malang. Misanya sangat khusuk sekali karena semua petugas liturginya membawakan dengan baik. Nah sehabis misa, ada acara kejutan yang bagi kami sangat luar biasa sekali karena uskup malang, Romo kanjeng Herman Yosep berkenan untuk menerima kami sebagai tamu selama kurang lebih satu jam. Kami melakukan Tanya jawab yang intinya kami mendapat wawasan mengenai ordo-ordo yang di dunia ini, dimana ordo yang baru muncul karena kebutuhan yang ada sudah tidak bisa memenuhi lagi. Kami juga bertanya bagaimana menghadapi teman-teman yang dalam persimpangan jalan hendak menyeberangi sungai Yordan (pindah keyakinan).

Setelah sarapan pagi dihotel, kami berencana ingin mampir ke Tumpang, rumah retret Romo Yohanes di Malang dengan konsekuensi jadwal rekreasi belanja dikurangi. Tetapi rupanya Tuhan belum berkenan karena ternyata pada pagi hari itu juga bertepatan dengan penutupan Youth Camp kaum muda se Jawa Timur. Karena banyak pertimbangan kamipun mengurungkan niat kesana. Namun Tuhan berencana lain terhadap kami, ibu Lusi, berniat baik mengantar rombongan ke rumah Pastor Jompo Bukit Dieng. Nah disinilah pelayanan dadakan kami wujudkan secara luar biasa. Disana kami disambut dengan sangat ramah dan kami di sambut sebagai anak-anak dan cucu-cucu dari romo-romo yang tinggal disana. Kami berdoa, saling memberikan kata sambutan dan menyayikan pujian bersama sama dengan semangat. Disaat saat hendak meninggalkan rumah tua tersebut kami merasa sangat terharu karena roh kudus menggerakkan hati kami masing-masing sehingga mata beberapa peserta nampak merah berkaca kaca. Yah rencana Tuhan begitu luar biasa, Tuhan itu amat baik kepada umatnya, segalanya begitu baik dan luar biasa. Saat saat seperti inilah kami semua mendapat jawaban darinya bahwa melayani itu dapat kita lakukan setiap saat kalau memang Tuhan menghendaki dan kita harus pasrah serta aktif dalam menghadapinya.

Setelah dari rumah panti jompo kami menuju restoran untuk santap siang. Acara ziarah ditutup dengan rekreasi belanja oleh-oleh khas jawa timur, diantaranya ote-ote (bala-bala isi tiram), kerupuk udang, bandeng asep/presto dll. Dengan segala oleh-oleh yang kami bawa, kamipun tiba di bandara Juanda Surabaya pukul enam sore (tepat sesuai rencana). Kamipun mengucapkan terima kasih kepada tour leader yang telah begitu sabar membimbing perziarahan ini dari awal hingga akhir dengan selamat. Kami semua sampai di Jakarta dengan sehat dan selamat. Setelah para panitia memastikan semua peserta sudah ada yang menjemput, lalu kamipun berpisah untuk bertemu kembali dilain waktu. Yah semoga apa yang kami dapatkan selama ziarah dapat me-refleksi kembali hati nurani kami untuk selalu bersandar kepada-Nya. Amin.

artikel kiriman:
bp. Alfian, Renata Tour Surabaya (www.renatatours.com)



copyright April 2005 - www.guamaria.com