www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Senin, 20 Augustus, 2007 11:57
Sepotong kisah dari Wadas Gumantung
oleh Admin

Untuk mengenali Gua Maria Wadas Gumantung, barangkali perlu mengenali konteks masyarakatnya. Berikut sebagian kisahnya yang saya catat sesudah perjalanan 11-12 Agustus 2007.

Badannya kecil, kulitnya gelap sebagaimana orang desa. Ada nuansa manis pada paras wajahnya. Santi namanya. "Saya sudah tujuh tahun," begitu ia berucap. Saat itu aku sedang bertanya pada segerombolan anak yang duduk-duduk bersama. Mereka membantu ibu Santi mengikat cipir yang ada dalam bakul dengan tali bambu, antara 13-15 buah masing-masing. Gelap alam telah lama menyelimuti halaman rumah dan kebun di kawasan Wadas Gumantung. Angin kencang dengan tega membiarkan daun-daun resah berkerisikan saat belaian tangannya tak mampu menangkap lewatnya sang bayu. Aku bertanya tentang berapa anak yang lulusan SD seumuran mereka. Ada beberapa anak, begitu jawabnya. Andre salah satunya. Dia lulus SD dua tahun lalu. Dan Santi yag tadi berujar, "Saya sudah tujuh tahun."

Esok harinya aku mendapati gadis dengan baju merah tua kusam di dapur sedang ngaru bakulan nasi. "Belajar memasak," katanya tanpa aku tanya. "Kamu mau menikah San?" tanyaku pelan. "Iya, tanggal 23 besok." Aku terdiam lama. Mengikuti dengan mata apa yang dilakukannya. Memindahkan nasi setengah matang dari kuali ke panci. Kemudian nanti akan menaikkannya kekukusan di atas dandang yang berada di atas tungku. "Kamu sudah mantap?" tanyaku kemudian. "Sudah", jawabnya tanpa sungkan.

Bahasa keseharian Santi dan keluarganya adalah Sunda. Bahasa Indonesia dipakai kalau ada tamu dari luar desa. Maka, ketika Santi mengatakan 'sudah', tanpa rasa sungkan, aku tidak bisa membaca nuansa di balik kata-nya itu. Kalau saja aku bisa ber-Sunda dengan segenap kekayaan bahasanya dan bertanya dalam Sunda, tentu aku akan bisa menangkap pergumulan atau desiran nuansa tanggapan atas pertanyaan kesiapannya menikah tadi. Tujuh tahun, sekali lagi tujuh tahun lalu ia lulus SD. Badannya yang kecil membuat aku dulu menduga ia baru lulus SD satu atau dua tahun lalu. Dan - seperti 8 (delapan!) anak lain yang kemudian menyusul, dan mungkin beberapa anak lain sebelumnya - Santi tidak melanjutkan ke SMP.

Keseharian Santi membantu ibunya. Memasak dan menunggui warung yang menyatu dengan dapur berlantai tanah itu. Bila pagi tiba, kalau ada barang yang bisa dibawa, Ibu Santi dijemput tukang ojek dengan cipir, kara buncis atau kacang panjang ke pasar. Sekitar pukul 8 ia sudah kembali dengan kerupuk, makanan anak dalam kemasan plastik, atau bawang merah atau bawang putih yang kemudian ditata di warung. Kadang dibelinya juga jajanan pasar. Pada saat ibunya ke pasar itulah, Santi masak untuk keluarga. Juga melayani tetangga yang berbelanja dan anak-anak yang membeli jajanan.

Dalam keluarga besar Yakobus Sumarna, kakek Santi, dengan enam anak dan cucu-cucu dari lima anaknya yang menikah, hanya ada satu orang yang yang kemudian berlanjut sekolah di SMP. Ia bernama Tomas, cucu Sumarna, kakak Santi. Tomas sekarang menjadi ketua Stasi Wadas Gumantung. Memimpin orang tua dan sanak saudaranya yang berjumlah sekitar 60 jiwa.

Santi hendak menikah, apakah aku harus bergembira ataukah bersusah. Calon suaminya Kartim - kalau tidak salah ingat, berbeda keyakinan. Ia juga tetangga dekat. "Mereka mau menikah di KUA," kata Sumarna dengan nada pasrah. Aku ingat dulu Sumarna pernah bercerita bagaimana ia berusaha agar anak dan cucunya tetap dalam "satu kandang" - istilah Sumarna. Salah satunya adalah, salah satu cucu Sumarna menikah dengan (kepernah) pamannya. Paman itu adalah adik dari salah satu menantu Sumarna. Jadi Sumarna dan salah satu anak Sumarna memiliki besan yang sama. Meski tidak ada pertemuan sedarah, tetapi Sumarna menyadari itu "tidak pantas" dalam pandangan Jawa. "Meski ada yang mengatakan tidak baik, tetapi bagaimana. Saya berusaha agar keluarga saya tetap dalam satu kandang," katanya kala itu. Sumarna 80 tahun, dan Santi, anak Sakub, sekarang berusia 18 tahun. Ada 19 KK Katolik dan satu simpatisan di sekitaran Stasi Wadas Gumantung. Sebagian besar diantaranya adalah keluarga besar Sumarna. Baik anak-anak, cucu, dan sedikit besan dan anak besannya.

Wadas Gumantung, begitu nama stasi yang memiliki sejarah yang melelahkan. Secara geografis terletak di Kabupaten Brebes. Fina, anak pasangan tentara dan guru, seorang peserta live in asal Paroki Brebes mengatakan, "Kami malah semula tidak tahu, ini masuk (Kabupaten) Brebes." Secara teritori gereja masuk Paroki Slawi. Dari jalan Tegal-Bumiayu, di titik Desa Gardu-depan (SD) Inpres, stasi berjarak sekitar 2,5 kilometer. Sebuah jalan kebulan (maksudnya penuh dengan kebul debu - kepulan debu), menghubungkan jalan besar itu dengan sungai Glagah. Truk pengangkut batu kerosok, petani, pencari kayu dan juga kerbau sama-sama menggunakan jalan itu. Dulu akses masuk hanya bisa ditempuh bila kemarau dengan sungai berarus kecil. Sekitar tiga tahun lalu dibuat jembatan gantung yang dikerjakan oleh orang-orang Wadas. Jembatan hanya bisa dilalui sepeda motor. Secara singkat bisa dikatakan daerah itu terisolir. Tak ada tiang listrik masuk. Jalanan di kampung Wadas dari tanah yang akan melumpur bila hujan tiba. Seorang umat yang tinggal di Gardu mengatakan, ia perlu waktu 45 menit untuk sampai gereja bila musim hujan, sementara kalau kering hanya 30 menit jalan kaki.

Yakobus Sumarna adalah perintis stasi di balik hutan jati ini. Bila sudah akrab, ia akan bercerita mengenangkan masa-masa berat dalam hidupnya. "Kalau mau tanya, tanya saja pada penguasa lama itu," begitu katanya dengan nada getir, ketika membuka kenangan lamanya. Sumarna dituduh terlibat G30S yang diakuinya sama sekali tidak ia ketahui. Bersama sekitar 100 orang lainnya ia di-"Pulau Buru"-kan di Wadas Gumantung. "Waktu itu Mas, sini glagah semua," katanya. Ia menjadi tukang kayu, membangun barak tempat bermalam, "gedung" kesenian, "aula" untuk pertemuan dsb. Menanam jati, kelapa, membuka sawah dst. Hingga pada tahun 70-an ia bertemu dengan Sr Rossa OP dan Pak Wem Efendi, dua bersaudara yang selalu ia sebut dengan hormat.

Bersama beberapa tahanan politik lainnya ia menjadi Katolik. Hanya dirinya yang bertahan di situ ketika kemudian masa "pembebasan" itu tiba. "Saya mendapat petunjuk kalau bertahan akan bisa menikmati apa yang saya tanam", katanya. Dan memang demikian. Pada saatnya ia bisa memperoleh sebagian tanah di Wadas Gumantung, tempat ia menanam kelapa, membuka sawah dengan keringat dan darah. Anak-anaknya ia tarik masuk daerah yang terisolir itu. Dan isolasi itu terus berlangsung hingga baru tiga tahun lalu sebuah jembatan dibangun, sementara listrik tidak ada jatah ke sana, menyeberangi persawahan dan sungai, hutan jati sampai ke pemukiman.

Di rumahnya yang mungil, ia yang baru ditinggal mati istri dan anaknya yang serumah, ia berteman sebuah radio yang bisa menangkap siaran Elshinta Jakarta. "Saya mengikuti Mas. Wah Adang Dorojatun (peserta pilkada DKI 2007) ternyata luar biasa. PKS di Jakarta ternyata luar biasa". Sekitar 60 meter sebelah selatan rumahnya berdiri gereja St Yakobus Wadas Gumantung. Gereja berukuran 7x12 meter itu kini menjadi manis dengan pendopo 7x7 meter di depannya. Sebuah patung Maria bertahta di gua belakang pendopo. Beberapa penziarah dari Jakarta, Bandung, Yogya pernah ke situ. Uskup Mgr Julianus SJ Sunarka menemukan sumber air persis di belakang patung Maria. Tetapi umat masih menggunakan timba kerekan dari dua sumur di belakang dan samping gereja. "Kemarin datang Romo dari Cigugur Kuningan. Masih muda, seplantaran (se-umuran) Romo Ari. Katanya akan datang lagi dengan umat ke sini," kata Sumarna.

Kata ibunya, Andre sejak lulus SD dua tahun lalu, setiap hari mencari kayu bakar di hutan. "Kadang tiga pikul, kadang empat pikul. Satu pikul tujuh ribu di sini, kalau sampai depan (Gardu) sembilan ribu. Sore pasti dia tidur, kecapaian barangkali. Sebenarnya kasihan, tapi gimana lagi, namanya anak", papar ibunda Andre. Ketika Andre lulus pernah ada seorang gadis dari Slawi menawari untuk sekolah di Slawi. Andre menolaknya. Itu menjadi cerita dari ibunya, juga sanak saudara yang lain, juga ketua stasi. "Saya tidak mau, jauh, soalnya tidak ada teman", kata Andre ketika berjalan bersama dari rumahnya menuju gereja. "Sebenarnya kalau ada satu teman dari sini saya mau," tambahnya.

Aku sudah mencatat dalam hati, ada delapan anak seplantaran Andre yang lulus SD dan tidak melanjutkan ke SMP. "Yang perempuan paling menjadi pembantu, yang laki-laki mencari kayu bakar", kata ibunda Andre. Tia, seorang peserta live in tertegun mendengarnya. Aku dalam capai dan kondisi hati tidak berminat ketika Rusdi duduk mendekatiku. Aku baru saja melepas seorang anak peserta live in untuk kembali ke dalam gereja setelah usai wawancara. Rusdi duduk di bangku samping kananku. Sementara di dalam gereja anak-anak berlatih lagu untuk misa. Rusdi kelas empat. Dia adalah satu dari sepuluh bersaudara. "Itu adikku, itu yang pakai rompi adikku", katanya menunjuk dua anak kecil di samping kanannya dan di depan kami. Aku ingat cerita seorang ibu dengan sepuluh anaknya. Sang ibu kuingat menggendong satu bayi. Jadi Rusdi salah satu anaknya, batinku.

Dengan segan aku bertanya sekedar memberi perhatian, "Jam berapa kamu berangkat sekolah?" Rusdi menjawab datar tapi panjang lebar. Katanya ia berangkat jam enam, "Masuk jam tujuh. Pulang jam satu. Ngaso (istirahat) jam sembilan." Aku sedikit terkesan, tampaknya ia pencerita yang baik. Ketika kami terlibat pembicaraan, beberapa kali ia merentang dua tangan lurus ke depan dan menggigilkan tubuhnya. Aku baru menanyakan setelah ke dua atau ketiga ia lakukan itu. "Kenapa?" Dingin, katanya. Dalam duduk di bawah matahari yang sedikit terhalang daun-daun, dan aku sedikit berkeringat, Rusdi kedinginan. Aku mencoba memegang tangan dan dahinya, dingin.

Belakangan ia bercerita, semalam tidur jam satu. "Belajar," katanya datar. "Belajar apa?" "Belajar puji syukur. Membaca Kitab Suci sama kakak," begitu ia memberi keterangan dengan nada tetap datar. Aku terhenyak. Dan Rusdi kelas empat SD. Dan sampai jam satu. Dan apakah ada lampu terang di rumahnya? "Kamu bisa membaca not, do re, mi...?", "Tidak." Aku kembali ingat Santi yang akan menikah tanggal 23, dan lulus SD tujuh tahun lalu. "Sekarang kamu kelas empat, besok kelas lima, lalu enam, apakah kamu akan meneruskan ke SMP?" tanyaku. "Tidak." Rusdi menjawab singkat. "Kenapa?" tanyaku. Rusdi menjawab tetapi tidak jelas kudengar. Mungkin juga seharusnya aku tidak bertanya
'kenapa'.

Aku terdiam beberapa saat. Anak-anak di dalam gereja masih berlatih bernyanyi, suaranya keras. "Lihatlah Anak Domba Allah, penebus dunia, penebus dunia, kasihanilah kami..." lagu anak Domba Allah dilatih ulang beberapa kali. "Misalnya ada orang yang mau membiayaimu sekolah SMP dan mungkin tidak tinggal di sini, apakah kamu mau melanjutkan ke SMP?" tanyaku lagi. "Tidak," jawabnya singkat. "Kenapa?" tanyaku lanjut. "Dimarahi." Rusdi pernah dimarahi ibunya karena meninggalkan rumah. Suatu hari sepulang sekolah ia pergi ke rumah salah satu kakaknya yang sudah menikah. Ia bermalam di situ. Ketika pulang ia dimarahi ibunya. "Dipukuli," katanya. Rupanya Rusdi tidak pamit. Aku menerangkan dengan parau, "Tentu saja ibumu marah karena kamu tidak pamit." Aku tidak yakin dengan kata-kataku. Karena yang aku tahu, aku sama sekali tidak tahu siapa dan bagaimana keluarga Rusdi. Juga Santi, juga Andre, juga yang lainnya.

Jika Santi, yang lulus SD tujuh tahun lalu, hendak menikah, dan Andre bersama delapan temannya lulus SD dan tidak melanjutkan sekolah, mencari dan memikuli kayu belah, lalu akan menyusul Rusdi, dan kulihat juga beberapa kakak kelasnya, apakah aku harus gembira ataukah gundah. Sementara itu dari dalam gereja masih terdengar anak muda berlatih bernyanyi, "Lihatlah Anak Domba Allah, penebus dunia, penebus dunia, berilah kami damai".

--tri



copyright April 2005 - www.guamaria.com