www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Jumat, 28 September, 2007 16:21
Ziarah: Misa Tirakatan Malam Jumat Legi
oleh Admin

Kamis Kliwon, malam Jumat Legi, 3 Mei 2007, tepat pk.24.00, misa tirakatan dimulai. Di mana? di Puhsarang! Agar tidak bingung, kita awali cerita ini dengan arti kata “tirakatan”. Bagi sebagian penduduk Indonesia terutama yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, tirakatan merupakan momen untuk merenung, refleksi, bersyukur, dan memadahkan permohonan kepada Sang Pencipta. Dilakukan di saat yang “tidak wajar”, misalnya pk.00.00, tuguran sampai fajar menjelang. Tidak di rumah, tetapi di lokasi tertentu yang harus dicapai dengan usaha dan waktu, sebagai wujud laku tapa dan prihatin.

Gereja Katolik meleburkan tradisi ini ke dalam Ekaristi Kudus. Agar lebih terarah dan dapat dilakukan bersama, maka di beberapa pusat ziarah dilakukan Misa Tirakatan. Di Gua Maria Kerep Ambarawa dan Gua Maria Puhsarang Kediri, misa tersebut diadakan setiap Kamis Kliwon (malam Jumat Legi). Legi yang berarti manis, adalah simbol agar semua harapan dan rencana berbuah manis. Di Gua Maria Sendang Waluya Jatiningsih Klepu, Ponorogo diselenggarakan setiap Kamis Wage (malam Jumat Kliwon), dan di Candi Hati Kudus Yesus Ganjuran, Bantul, berlangsung setiap malam Jumat Pertama.

Beberapa peziarah rela meninggalkan rutinitas, kesibukan kerja, kepentingan tugas dan jabatan, untuk menikmati indahnya misa tirakatan ini. Rombongan dipimpin oleh Bapak Budiyawan dan Ibu Hani, dengan pembimbing rohani Romo Sutiman OSC dan Suster Rita OSU. Peserta adalah warga paroki Katedral, ditambah beberapa warga dari luar paroki.

Ziarah batin (berdoa) melalui Bunda Maria tentu dapat dilakukan setiap saat, secara pribadi, dan dapat dilakukan di mana saja. Tidak harus bersama, dan tidak harus jauh-jauh, di Gereja Katedral pun ada gua Maria. Kenyataannya, banyak kelompok ziarah, bahkan dibimbing pastor, menuju ke berbagai pusat ziarah, sampai ke Jerusalem, Turki, Fatima, atau Lourdes. Apa sebab memilih yang merepotkan dan melelahkan?

Pengalaman batin dan kualitas rohani akan bertambah apabila ziarah dilakukan bersama ke suatu pusat ziarah. Selama perjalanan dalam rombongan ziarah, kita mengalami miniatur dunia kehidupan sehari-hari. Kalau berdoa sendiri, misalnya di Gua Maria Katedral, kita tidak merepotkan/direpotkan orang lain. Tapi dalam rombongan ziarah berbeda. Kita tidak hanya mempersiapkan batin untuk menjalin relasi vertikal, kita juga perlu mempersiapkan batin untuk jalinan relasi horisontal. Kita belajar untuk tenggang rasa, toleransi, tidak egois, tidak mudah mengeluh/marah, dan peka terhadap kebutuhan orang lain.

Melalui berziarah, kita pun menyalurkan rejeki (istilah kerennya, pemerataan ekonomi) kepada rumah makan yang kita singgahi, penjual oleh-oleh dan souvenir, pengelola penginapan, pengelola bus, dan kepada sesama yang menawarkan lilin, tempat air, dan menjual jasa, di sekitar tempat ziarah (anda pernah dipijat oleh si-mbok pemijat di area Puhsarang? wuih..., wuenak tenan....).

Hal positif kedua adalah, memperoleh anugerah pengalaman liturgis yang indah (misa yang “nges” kata orang Jawa). Bayangkan, Saudara! Sepuluh imam memimpin misa tirakatan malam Jumat Legi, di altar dekat Gua Maria, diikuti ribuan umat, duduk menghampar di tikar tersebar di sekitar altar di udara terbuka. Misa berlangsung 3 jam, sejak pk.00.00 diawali dengan ritus pembuka (dengan lagu wajib “Nderek Dewi Maria” dan Doa Rosario) di pendopo, kemudian sepuluh imam bersama umat, mengarak patung Bunda Maria, melewati lorong-lorong tempat penjualan souvenir, menuju ke lokasi altar (sekitar 700 m).

Delapan imam khusus datang dari Kediri, Surabaya, dan Madiun (Rektor dan Wakil Rektor STKIP Widya Yuwana Madiun), ditambah seorang romo pendamping rombongan peziarah dari Cilacap, dan Romo Sutiman dari Katedral Bandung. Khotbah dibawakan secara menarik dan menyentuh (sehingga umat terus terjaga dan tidak mengantuk), tentang “Keluarga menjadi Tanda Kehadiran Cinta Kasih Kristus”. Seluruh lagu (dengan langgam tradisional) dipandu oleh paduan suara mahasiswa STKIP Widya Yuwana Madiun. Setiap misa tirakatan memang dikelola oleh satu kelompok tertentu, dan kali ini mahasiswa STKIP yang bertugas, mulai dari petugas liturgi, among tamu, koor, penerima intensi misa, dll. Mungkin para pemerhati Liturgi dapat memperoleh tambahan wawasan dari upacara ini.

Tidak terasa, pk.03.00, misa usai, tapi semangatnya masih terus terbawa sampai saat anda membaca cerita ini. Semangat ini sudah nampak sejak hari Kamis siang, gelombang umat berdatangan, memenuhi area Puhsarang, sekeluarga, sendiri, dengan pacar, atau berkelompok. Rombongan Katedral mengawali ziarah 2007 ini dengan ibadat jalan salib pada Kamis pk.16.00. Setiap peristiwa jalan salib divisualisasikan dengan patung-patung berukuran yang sebenarnya, bahkan ukuran orang Eropa. Dan seorang bapak di dalam bus memberi kesaksian, dia amat trenyuh saat melihat Yesus jatuh dan tertimpa salib ketiga kalinya, dan secara spontan ingin mengangkat palang salib tsb agar tidak menimpa tubuh Tuhan.

Di sinilah hal positif ketiga muncul, yaitu pewartaan iman. Saat di Candi Hati Kudus Yesus Ganjuran, Romo dan Suster bergantian memimpin ibadat, wah.. kompak deh! Di Gua Maria Kaliori Purwokerto, romo memimpin misa, sebagai wujud syukur atas semua yang dialami sepanjang peziarahan, atas doa restu keluarga, komunitas, dan rekan kerja di Bandung yang mendukung kepergian ini, atas tersedianya sarana ziarah yang telah dikunjungi, serta atas terkabulnya berbagai permohonan.

Peserta pun bergantian memimpin doa sepanjang perjalanan dalam bus. Di perjalanan kembali ke Bandung, Sabtu sore-malam di dalam bus, satu persatu para peserta memperkenalkan diri dan menyampaikan pengalaman rohani yang didapat, mukjizat yang diperoleh, selama mengikuti peziarahan ini. Suatu pewartaan iman yang hidup! Semua peserta menyatakan sangat menikmati ziarah ini, bersyukur atas bimbingan suster dan pastor, dan bersyukur akhirnya sampai dengan selamat di halaman gereja Katedral Sabtu, 5 Mei pk.22.00. Bahkan, bus belum sampai di Bandung, seorang peserta sudah bertanya: “Kapan program ziarah berikutnya?“

Jadi, kegiatan berziarah ternyata memuat unsur Liturgi, Pewartaan, dan Persaudaraan, bahkan memuat pula unsur Sosial Ekonomi dan Hubungan antar Umat Beragama. Selayaknya direstui dan didukung, dengan pola pikir yang positif dan tidak sempit, agar umat bertambah semangat pelayanannya dan bertambah pemahamannya terhadap arti hidup menggereja. Akhir cerita, mari kita tutup dengan doa: Tuhan, biarkanlah peziarahan ini menjadi pijakan yang kuat bagi kami, untuk bekal melangkah, menjalani kehidupan di hari-hari mendatang dengan hati selalu penuh syukur, sampai kelak tiba di tempat peziarahan abadi-Mu, di Surga, Amin.

diceritakan oleh seorang peziarah
di tulis oleh admin, 2007/6/15
dari:
http://www.katedralbandung.org/new/modules/news/article.php?storyid=46



copyright © April 2005 - www.guamaria.com