www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Jumat, 23 Nopember, 2007 10:36
Peziarah-perziarah yang rapuh imannya
oleh Admin

Pada suatu kesempatan, saya menghadiri perayaan ekaristi di sebuah tempat peziarahan Maria. Perayaan ekaristi berlangsung dengan khidmat. Sebelum doa dan berkat penutup, petugas membacakan sederet ujud-ujud, yang dimohon oleh umat kepada Bunda Maria atau lewat perantaraan Bunda Maria.

Demikian antara lain bunyi ujud-ujud itu. Mohon agar laris dalam berdagang. Mohon agar toko yang baru dibuka segera mendatangkan pelanggan. Mohon agar dipulihkan usaha dagang yang sedang bangkrut. Mohon agar bisnis komputer segera menemukan jalan. Mohon agar pabrik krupuk makin maju. Mohon agar sengketa tanah segera selesai dengan menguntungkan. Mohon agar segera bisa naik pangkat. Mohon agar segera dapat jodoh yang seiman. Mohon agar pacaran bisa lestari sampai ke perkawinan. Mohon agar anak naik kelas. Mohon agar anak lulus masuk perguruan tinggi. Mohon agar segera mendapat pekerjaan. Mohon agar anak tidak nakal. Mohon agar kakek segera sembuh.

images1Mohon, mohon, dan masih sederet mohon lagi. Litani ujud permohonan itu seakan tanpa henti. Di sana-sini pembacaan ujud itu sempat memancing tawa, karena kedengarannya sungguh konyol untuk diucapkan dalam perayaan ekaristi yang seharusnya khidmat. Sebagian orang kelihatan kesal terkantuk kantuk, menunggu dengan tidak sabar kapan selesainya pembacaan ujud itu. Sudah setengah jam lebih, toh ujud-ujud itu belum juga selesai dibacakan. Perayaan ekaristi yang tadinya berlangsung dengan khidmat tiba-tiba berakhir dengan begitu tidak mengesankan. Khotbah yang mengajak umat untuk menghayati iman dengan lebih dalam seakan akan tiada gaungnya lagi, jadi mentah karena umat tidak peduli lagi. Seakan orang datang bukan untuk merayakan ekaristi, tapi untuk merengekkan segala permohonan.

Peristiwa demikian ini sesungguhnya tidak hanya terjadi di tempat ziarah tersebut di atas. Praktik litani pembacaan ujud juga terjadi dikebanyakan tempat ziarah-ziarah Maria. Harus diakui, kejadian itu sungguh memprihatinkan. Dari praktik litani pembacaan ujud sebenarnya terbaca sejauh mana kedalaman penghayatan hidup beragama, iman, dan devosi kita. Terbaca bahwa hidup iman dan devosi kita masih sangat menyangkut kebutuhan yang cenderung material dan manusiawi semata-mata. Kebutuhan itu memang kita perlukan. Tapi bila "hanya" kebutuhan itu yang mendorong kita untuk berziarah, maka ziarah kita diam-diam telah mendangkalkan nilai dan hakikat hidup iman dan devosi kita.

Maksud ziarah sedemikian itu kiranya berlawanan dengan tujuan ziarah seperti diajarkan oleh Gereja kepada kita. Dengan ziarah ke gua Maria, hati dan budi kita seharusnya makin disadarkan untuk menghayati magnificat Maria. Seperti dikatakan oleh ensiklik Redemptoris Mater (37), magnificat, doa pujian Maria itulah yang membentuk dan menjadikan Gereja. Dari awalnya, dalam perjalanannya di dunia, gereja membentuk dirinya berdasarkan magnificat itu. Gereja menerima kebenaran bahwa Allah setia akan janjinya dari Maria ketika ia menerima kabar gembira dan ketika ia mengunjungi Elisabet, saudaranya.

Litani ujud di atas memperlihatkan betapa kita serakah akan segala kebutuhan kita, dan memaksa Allah untuk memenuhinya. Padahal, magnificat Maria mengajarkan yang sebaliknya, yakni bahwa kita harus "miskin di hadapan Allah". Spiritualitas "miskin di hadapan Allah" ini berlawanan dengan nafsu mereka yang kaya, berkuasa dan sombong. Dan dengan magnificat-nya, Maria percaya bahwa mereka yang kaya, sombong, dan berkuasa akan diusir dengan tangan hampa. Sebaliknya, yang miskin dan hina dina akan ditinggikan dan dimuliakan.

Litani ujud-ujud seperti dicontohkan di atas memperlihatkan betapa kita resah dan gelisah akan hidup dan kebutuhan kita. Padahal magnificat Maria mengajarkan agar kita tidak usah resah akan semuanya itu. Justru karena kita mau menjadi miskin di hadapan Allah dan tidak serakah akan segalanya, maka Allah akan melakukan perbuatan­perbuatan yang besar bagi kita.

Dengan magnificat-nya, Maria mengajari kita untuk bersyukur. Dan sesungguhnya inti hidup beriman adalah bersyukur, bukan memohon atau meminta karena merasa khawatir dan berkekurangan. Litani ujud-ujud di atas memperlihatkan betapa kita pandai memohon dan kurang bersyukur. Padahal, seperti diperlihatkan oleh Maria, hanya dengan bersyukur, kita bisa mengalami betapa Allah sungguh tidak pernah menelantarkan kita. Memang, syukur mem­uat hidup kita tidak terasa terancam dan meresahkan, karena serba berkekurangan. Syukur mencelikkan mata kita bahwa Allah telah menganugerahkan banyak hal yang kita butuhkan. Dan bila semuanya itu kita syukuri, akan datang lagi hal-hal lebih besar yang tidak kita bayangkan sebelumnya.

Syukur juga akan mengajari kita untuk melihat hidup dan diri kita dengan lebih positif. Sudah menjadi kecenderungan kita bahwa kita lebih suka melihat kekurangan diri, bukan kelebihannya, kekurangan hidup, bukan kelimpahannya. Pendeknya, kita lebih suka melihat yang negatif daripada yang positif. Itulah yang membuat kita cemas dan resah, baik terhadap diri kita maupun terhadap kebutuhan hidup kita. Kita juga sering menjadi sedih dan susah karena pandangan dan keyakinan hidup yang negatif itu. Syukur bisa menjebol itu semuanya. Dengan syukur, segala jalan akan terbuka, dan hidup ini terasa penuh kelimpahan, lebih daripada yang kita duga. Syukur inilah yang memungkinkan Maria untuk menerima Tuhan dalam kandungannya, dan kemudian melahirkanNya guna pelaksanaan karya besar Tuhan di dunia.

Miskin di hadapan Allah, percaya akan perbuatan besar Allah, dan bersyukur kepada Allah, itulah yang membuat Maria, gadis yang lemah ini kuat, optimis, dan berani menghadapi hidup dengan segala tantangannya. Memang, Maria yang lemah itu telah berubah menjadi perempuan yang kokoh, tabah, dan percaya diri. Ia yakin bahwa Allah menghendakinya untuk menyatakan diri­Nya, dan memberikan diri-Nya pada dunia. Dan karena keyakinan itu semua, Maria pun percaya akan diri dan kemuliaan yang tersembunyi pada dirinya, seperti dilukiskan oleh sajak Maria karangan Pedro Casaldaliga dari Brasil ini:

Sabda tidak ingin tinggal hanya sebagai Allah
Karena itu ia mengambil bagian dalam dagingku
Untuk menjadi manusia
Dan aku mengatakan
Ya, aku tidak ingin tinggal hanya menjadi gadis belaka
Sabda tidak ingin hanya menjadi kehidupan saja
Karena itu ia mengambil bagian dalam dagingku
Untuk ikut dalam kematian
Dan aku mengatakan
Ya, aku tidak ingin tinggal menjadi ibu belaka.
Tetapi untuk hidup abadi selama­lamanya
Sabda mengambil bagian dalam dagingku
Agar Ia bangkit
Dan aku mengatakan
Ya, aku tidak ingin tinggal dalam kefanaan
Aku ingin bangkit dalam keabadian-Nya.

Begitulah yang terjadi pada Maria. Rahmat yang diterimanya juga akan kita terima, lebih-lebih pada saat kita berziarah ke gua-gua Maria, asal dalam ziarah itu kita berani menghayati magnificat, doa pujiannya. Sayang, bukan itu yang terjadi ketika kita berziarah. Di tempat ziarah, kita seperti orang yang kehilangan kepercayaan diri, resah akan segala hal ikhwal hidup kita. Kita lupa, justru pada kesempatan ziarah itu kita seharusnya memperdalam dan menghayati spiritualitas Maria yang merasa miskin di hadapan Allah, percaya akan perbuatan besar Allah, dan bersyukur pada Allah. Hanya dengan spiritualitas itu kita menjadi teguh, kuat, dan percaya diri. Litani ujud-ujud yang merengek-rengek hanya akan membuat kita lemah, tak percaya, dan tak bisa bersyukur: kita menjadi orang yang tidak percaya diri.

dari:
http://nyanyianziarah.multiply.com/journal
sumber asli:
artikel oleh: Pastor GP Sindhubata SJ, dimuat di majalah UTUSAN no.08 tahun ke 54, Agustus 2007 (KANISIUS media)



copyright © April 2005 - www.guamaria.com