www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Senin, 21 April, 2008 09:27
Jumat Agung di Sendang Sriningsih
oleh Admin

Siang itu, matahari tak begitu garang bersinar. Semilir angin yang berembus terasa sejuk di kulit. Kehijauan pepohonan dari Bukit Ijo dan Bukit Mintorogo di Desa Gayamharjo, Prambanan, Klaten menambah kesejukan itu.

Serombongan mobil berhenti dan parkir di halaman Gereja Marganingsih Jali. Para penumpangnya turun dengan riuh sebelum memasuki gereja. Hanya sebentar di dalam gereja sebelum dalam beberapa kelompok mereka bergerak naik menuju Sendang Sriningsih, satu dari beberapa tempat peziarahan Katolik Gua Maria di Jawa Tengah.

Di ujung jalan di dekat panel diorama Jalan Salib Stasi I, rombongan itu bertemu dengan peziarah yang baru turun dari bukit menuju tempat parkir di sekitar gereja. Siang itu, 6 April 2007 adalah hari libur sebagai peringatan Wafatnya Yesus Kristus. Orang Katolik menyebut Jumat Agung. Dan pada hari yang mereka sucikan, banyak dari mereka yang melewatkan dengan berdoa di tempat ziarah Gua Maria seperti di situ. Maka wajar saja, kompleks peziarahan Katolik di wilayah Prambanan itu penuh peziarah, datang silih berganti.

Dalam tradisi Katolik, Gua Maria adalah tempat untuk ziarah dan devosi kepada Bunda Maria. Tempat-tempat tersebut ditetapkan sebagai lokasi ziarah karena pertimbangan penampakan supranatural Maria atau pun faktor sejarah sebagai devosi umat Katolik. Beberapa tempat terkenal di dunia yang dipercaya sebagai lokasi penampakan Maria adalah Lourdes (Perancis), Fatima (Portugal), Guadalupe (Meksiko) dan Medjugorje (Herzegovina).

Jadi hanya untuk orang beragama Katolik saja? Tentu saja tidak. Boleh dibilang, siapa pun dengan agama apa pun boleh datang berziarah dan memanjatkan doa di situ. Itu berlaku untuk seluruh Gua Maria yang ada di Indonesia, dan barangkali juga di Lourdes Prancis.

Di Sendang Sriningsih pun begitu. Rombongan yang baru datang dan langsung bergerak menuju panel diorama Jalan Salib stasi I itu berasal dari sebuah gereja Kristen Protestan di Yogyakarta. Saat saya berbincang santai di bawah pohon gayam besar di depan altar Gua Maria, dengan Tarsisius Budaya, pengelola tempat ziarah tersebut, lelaki itu bilang, "Peziarah di sini universal. Bahkan banyak pedagang dari Wedi (sebuah wilayah di Klaten-Red) yang sering nenepi (bertirakat) di sini, dan mereka umumnya bukan Katolik".

Secara umum, Peziarahan Gua Maria Sendang Sriningsih memang sangat pas untuk keperluan tetirah atau berdoa. Berada di areal 3,5 hektare, dalam pelukan Bukit Ijo dan Mintorogo, tempat itu sejuk dan asri. Yang barangkali cukup menguras energi hanyalah banyaknya trap tangga yang harus didaki sebelum sampai di depan altar patung Bunda Maria. Dan trap-trap itu jadi jalur Jalan Salib (14 stasi). Tapi jangan khawatir. Menurut Budaya, kini sudah dibuka jalan yang bisa langsung dituju peziarah yang datang dengan mobil atau sepeda motor. Jadi, peziarah yang tak ingin melewati Jalan Salib bisa langsung menuju sendang dan altar Gua Maria.

Oya, meskipun berada di wilayah "pedalaman", untuk sampai ke tempat peziarahan itu sebenarnya cukup mudah. Pengendara mobil atau sepeda motor harus berbelok ketika sampai di perempatan kecil Dukuh Pradan Desa Geneng, Prambanan. Yang dari arah Yogya berbeloklah ke kanan, adapun yang dari arah Klaten berbeloklah ke kiri. Ada papan petunjuk di sekitar situ. Tapi karena sangat kecil, tak selalu bisa dilihat orang yang naik kendaraan. Kalau bingung, begitu masuk wilayah Prambanan, bertanyalah pada orang tentang Sendang Sriningsih, yakinlah mereka akan menunjukkan arah yang tak membingungkan. Sebab, setelah berbelok dari jalur jalan Solo-Yogya, jalan yang harus dilalui lurus-lurus saja hingga di Pasar Menggah. Dari pasar itu, lokasi hanya tinggal satu kilometer saja. Kalau Anda menggunakan jasa angkutan umum, turunlah di Terminal Prambanan dan carilah angkutan ke Pasar Menggah. Hanya saja, kalau hari libur, angkutan itu tak beroperasi. Tapi banyak ojek siap mengantar Anda ke lokasi, cukup dengan merogoh kocek Rp 15 ribuan.

Setiap Jumat Agung dan Paskah, peziarah ke Gua Maria umumnya melakukan doa di sepanjang Jalan Salib. Mereka berhenti pada setiap stasi, berdoa secara khusyuk sembari berdiri. Begitu mereka menyelesaikan doa di semua stasi Jalan Salib, mereka akan menuju ke altar utama, yaitu Gua Maria. Aktivitas seperti itu juga yang terlihat di Sendang Sriningsih, Jumat pagi hingga sore lalu. Tema doa yang umumnya mereka panjatkan lewat bacaan di lembaran liturgi adalah "Via Dolorosa" (Jalan Penderitaan) bertujuan untuk mengingat dan meresapi penderitaan Yesus Kristus ketika memanggul salib ke Bukit Golgota. Meskipun jauh berbeda, ratusan trap tangga di Sendang Sriningsih bolehlah dibayangkan sebagai jejak jalan berliku dan menanjak menuju Golgota. Sebab, perlu energi ekstra bagi seseorang untuk bisa menyelesaikan doa di semua stasi. Meskipun sebenarnya, kata seorang peziarah dari Yogyakarta, jalur seperti di Sendang Sriningsih tentu saja tak sesulit jalur pendakian Yesus ketika memanggul salib. Jalan Salib di Sendang Sriningsih dipungkasi dengan sebuah bangunan disebut Bukit Golgota. Di situ ada patung Yesus Tersalib di bawah kakinya terdapat sebuah prasasti dengan sesanti sangat bagus. "Yang dapat kita bawa hanyalah yang telah kita berikan".

Di tempat itu, saya bertemu seorang pemuka gereja Katolik Atambua, NTT yang tengah berkunjung ke beberapa gereja di Yogyakarta. Namanya Romo Yosef Taebria. Beberapa informasi menarik dia paparkan. Misalnya, dia bilang Gua Maria di mana saja, juga di tempat dia tinggal, menawarkan konsep peziarahan yang sama.

Nah, dari miniatur Bukit Golgota itu, peziarah bisa langsung menuju altar Gua Maria untuk berdoa. Tentu tak cuma ritus doa saja yang berlangsung di situ. Kerindangan beberapa beringin dan gayam yang memayungi patung Bunda Maria dalam ceruk gua itu membuat peziarah bisa rehat sembari menikmati kenyamanan suasana. Peziarah juga boleh menikmati kesegaran air sendang untuk minum atau membasuh muka.

Dan ketika hari memasuki senja di Hari Jumat Agung, Sendang Sriningsih semakin mempertegas diri mengusung universalitas tanpa sekat-sekat agama, seperti di Gua Maria mana pun. Lihat saja, di bawah beringin, duduk berdempetan di atas tikar, puluhan orang beragama Kristen Protestan sedang melakukan doa bersama. Genjrengan gitar mengiringi nyanyian doa memecah keheningan di situ. Dan lihat di sisi kiri, sangat dekat dari orang-orang yang sedang berdoa, serombongan orang dari sebuah gereja Katolik di Yogyakarta lagi khusyuk berdoa di depan Gua Maria. Kalau lihat cara dua kelompok itu berdoa, secara kasat mata memang berbeda. Tapi bukan bualan, tak ada yang merasa terganggu dalam doanya.

Jadi bolehlah dibilang, Sendang Sriningsih (juga di semua Gua Maria) tak semata tempat orang berziarah memanjatkan doa, tapi bisa juga sebuah wahana berinteraksi semua orang tanpa harus dibatasi perbedaan.

Saroni Asikin
dari: http://gaya.suaramerdeka.com/index.php?id=74



copyright April 2005 - www.guamaria.com