www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Jumat, 2 Mei, 2008 09:07
Gua Maria Wadasgumantung
oleh Admin

Aku mengunjunginya pada suatu hari yang lelah. Selepas turun di Gardu Tonjong, Brebes aku disambut jalanan tanah berbatu yang berdebu. Kawanan kerbau melintas melawan arahku. Gua Maria masih berada sekitar 2 kilometer dari pinggir jalan Purwokerto-Tegal tempat aku turun tadi.

images1Beruntung ada sawah yang dalam masa ditumbuhi padi, hijau. Itu ketika melewati pemukiman penduduk dan lepas dari jalan yang menurun. Dan, itulah yang selalu membuatku rindu, jembatan gantung yang terlihat elok. Jembatan itu berada di atas sungai Glagah. Menggantung dari seberang ke seberang sungai. Panjangnya mencapai sekitar 15 meter. Dengan lebar tidak sampai dua meter, jembatan ini terlihat ramping. Hanya sepeda motor bisa lewat. Kalau sekali waktu mendapati kendaraan roda empat ada di dusun Wadasgumantung, itu artinya Sungai Glagah sedang surut. Dan tentu saja ada juga truk-truk yang menggaruk kerikil dari permukaan dasar sungai. Lalu ada hutan jati. Hutan ini seakan menyembunyikan pemukiman penduduk di dusun Wadasgumantung. Bahkan mungkin menyembunyikan kemiskinan dan keterpencilannya.

"Jembatan itu kami ikut membangun. Ya baru dua tahun ini," kata satu penduduk yang pernah aku jumpai. Itu tahun 2007. Nah, lo, bertahun-tahun sejak tahun 1975-an dusun itu terisolir. Mereka harus menggunakan rakit kalau mau ke kota desa induk. Atau ke pasar. Dan ketika aku sampai di situ tahun 2007, listrik belum juga masuk. Masyarakat menggunakan lampu minyak. Tetapi betapa nyamannya malam yang menjadi gelap. Aku seperti kembali ke masa lalu. Saat ketika aku mendapat kesempatan memuja bintang dan bulan. Saat ketika listrik belum mengusir tembang-tembang dolanan malam.

Di balik segerombolan pohon jati yang sedang menghijau daunnya, rumah-rumah masyarakat Wadasgumantung mulai terlihat. Tanah memang sedang hijau. Didepan rumah Pak Marna tergelar tanaman jagung yang mulai kembang. Seperti hamparan karpet hijau. Di seberang itu semua terlihatlah gereja St. Yakobus Wadasgumantung. Gereja yang menjadi saksi kehidupan umat yang terstigma. Gua Maria ini berada di depan kapel stasi itu.

”Satu Desember 1968 saya masuk ke Wadas Gantung, ya Wadasgumantung ini,” kata Sumarna. Ia menjadi bagian dari 40 orang – yang kemudian bertambah lagi 100 orang - tahanan politik (tapol) pemerintahan Orde Baru di Kabupaten Brebes. Hal itu menyusul huru-hara G30S di Jakarta. Ia yang tinggal di Brebes mengaku tidak tahu menahu soal huru-hara itu. Wadas Gantung, ya Wadasgumantung kala itu adalah hutan gelagah di atas bukit gersang dengan tanah lempung. Sebuah sungai melingkupinya, menahannya menjadi terisolir dari perkampungan desa. Lalu ada bentangan sawah yang luas menimpalinya.

Sumarna dan teman-teman menjalani kerja merintis perkebunan kelapa, merintis lahan sawah. Hingga kemudian bebas tahun 1972. Sementara para tapol yang lain kembali ke daerah masing-masing, Sumarna bertahan di sekitar situ. Ia mendapat "wangsit" bila ia mau bertahan, ia akan menikmati jerih payah dan perih darahnya menggarap lahan Wadas Gantung. "Wangsit" itu mewujud. Ia mendapat lahan garap di situ. Meskipun demikian, dusun itu dibiarkan ada tapi tiada sekian lama.

Aku terduduk di depan patung Maria di situ. Patung itu menghadap ke arah kapel. Tetapi kalau ditelusuri lebih panjang, pandangannya mengarah ke pemukiman umat Katolik yang berada di bukit sebelah atas kapel. Maria memandang dalam keteduhan, pemahaman, bahkan kukira juga pembelaan.

Thomas Hartoyo menjadi ketua stasi menggantikan Sumarna, kakeknya, pada tahun 2000. Gua Maria itu dibangun tahun 2004, di depan kapel Stasi St Yakobus yang diresmikan 6 Juli 1997. Bersama umat setempat, Romo Yohanes Sujono MSC, Pastor Paroki Slawi saat itu berperan dalam pembangunan Gua Maria yang mendapat bantuan dari umat Katolik baik di wilayah Keuskupan Purwokerto maupun dari luar Keuskupan Purwokerto. Umat Katolik di situ adalah keturunan Sumarna. Seorang pria tua yang masih menyisakan keteguhan hati. Usianya pada tahun 2007 itu 80 tahun.

Ketika terkantuk didepan gua, aku tiba-tiba ingat. Bukankah ini malam minggu, saatnya menonton sepak bola. Ada televisi di salah satu rumah anak Sumarna, energinya pakai aki, Sumarna pasti menontonnya, ia penggemar berat bola.

diambil dari:
http://satubulanberseri.multiply.com/journal/item/4/Ziarah



copyright © April 2005 - www.guamaria.com