www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Jumat, 14 Nopember, 2008 11:32
Ziarah ke lima gua Maria
oleh Admin

Misa yang dipersembahkan oleh Pastor Emanuel Kadang, Pr pada tgl 13 Oktober 2008 merupakan awal ibadat bersama warga lingkungan St.Ignatius dan St.Yohanes Pembaptis, Kopo Permai, Paroki St. Martinus, Bandung di bulan Oktober, bulan Rosario tahun 2008.

images1Pastor Noel mengajak kami untuk melihat video Tony Mendez, seorang tanpa tangan tetapi mampu bermain gitar dengan kaki, almarhum Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II berpesan kepadanya agar "jangan pernah berhenti memberi harapan kepada orang lain", tentunya ini sejalan dengan teladan Bunda Maria yang tanggap terhadap kesulitan sesamanya, demikian bacaan Injil tentang pesta nikah di Kana yang kami dengar dalam misa tersebut. Tanggal 14 s/d 22 Oktober 2008 merupakan 9 hari berturut-turut kami (40 orang) beribadat novena dan tanggal 24 s/d 26 Oktober 2008 kami (45 orang) berziarah ke 5 Gua Maria yang 4 diantaranya belum pernah kami kunjungi bersama, yaitu :

1. GM Kerep - Ambarawa, sejak Juni 2007 fasilitas perziarahan ini semakin lengkap dengan adanya Kapel Adorasi Sakramen Mahakudus sehingga kami bisa melakukan Ibadat Pujian Sakramen Mahakudus melengkapi ibadat devosi kepada Bunda Maria di depan Gua Maria dan ibadat devosi Salib Suci di bawah Salib Yesus. Alam semesta turut bersama kami memuji Tuhan, salah satunya binatang tonggeret yang berbunyi nyaring sejak di Salib Yesus dan baru berhenti setelah kami selesai Adorasi.
Kontak sekretariat : Minggu s/d Selasa Pkl. 08.00 s/d 14.00 dan Rabu s/d Sabtu Pkl. 08.00 s/d 18.00, Bpk. Septiyarso & Bpk. Wishnu, Telp. 0298 592085.

2. GM Mawar Maria, yang hening dan terpencil dilereng gunung Merbabu, tepatnya di dusun Tlangu, desa Kembangsari (penghasil bunga mawar tabur), kec. Musuk, kab. Boyolali ini merupakan aset yang berharga bagi 14 KK umat katolik di Stasi Musuk. Perjalanan menuju GM ini (dari pangkalan ojek Gapura Sombo - Musuk) ditempuh dengan mobil kecil dan dilanjutkan jalan kaki (jalan menuju GM menurun, pulangnya ya menanjak) ditengah ladang dan kebun mawar, pohon2 tinggi masih cukup banyak sehingga dapat menghalangi teriknya sinar matahari. Saat ini warga stasi Musuk sedang menanti proses sertifikasi tanah lokasi Gua Maria yang telah diresmikan sejak tahun 1982 ini, sudah ada donatur yang siap mengembangkan GM ini setelah adanya kepastian status tanahnya. Puji Tuhan kami juga diberi kesempatan memberikan persembahan yang menurut pengurus stasi sungguh sangat mendukung dan menyemangati mereka.
Bisa menghubungi Bpk. Winardi (Ketua Stasi) ~ HP 085647458965 dan/atau Bpk. Untung ~ HP 085642257990.

3. GM Ngaliyan, terletak di bukit sebelah barat kota Semarang, cukup jauh dari perumahan penduduk walaupun akses jalannya melalui pemukiman yang cukup padat. GM yang belakangan ini dijadikan salah satu rute oleh penyelenggara ziarah di Jakarta berada dikompleks (cukup jauh dibagian belakang bangunan) Panti Asuhan Wikrama Putra yang didirikan oleh Alm. Pastor Van Deinse SJ, +/- 30 tahun yang lalu diatas tanah yang luas. Saat ini sedang diasuh 86 orang putera usia balita sampai tingkat SMA, beberapa anak dari keluarga tidak mampu, tetapi hampir semua adalah anak terbuang. Sebelum beribadat, kami berkesempatan menyerahkan 20 dos bingkisan yang kami bawa dari Bandung titipan warga lingkungan yang ikut maupun yang tidak ikut ziarah, juga sejumlah uang yang terkumpul dari Ziarah 2007, Novena Mei & Oktober 2008 dan tentunya dari para peserta ziarah.
Alamat : Bpk. Untung, Jalan Wismasari Selatan No. 5, Ngaliyan - Semarang, Telp. 024 7600450.

4. GM Wadas Gumantung, juga sunyi terpencil ditengah hutan jati, dapat ditempuh berjalan kaki +/- 30 menit dari jalan raya Tegal - Purwokerto, jalan masuknya tepat diseberang SD Negeri Kutamendala 02, Tonjong. Sungguh beruntung akses jalan tidak becek karena sehari sebelumnya tidak turun hujan sehingga kami dapat menggunakan ojek sepeda motor untuk menghemat waktu (dan tenaga ??), tetapi masih ada jalan kakinya melewati pematang sawah, asyik! Adrenalin kami sempat meningkat karena selain harus melewati jembatan gantung yang cukup panjang, juga tanjakan dan turunan yang cukup terjal dijalan setapak dalam kawasan hutan tersebut. Umat di Stasi St.Yakobus, paroki St.Maria Immaculata-Slawi ini berjumlah 60 jiwa (20 diantaranya adalah anak-anak) dan sebagian besar berbahasa Sunda walaupun berada di Jawa Tengah. Bersama dengan 40an warga Wadas Gumantung, kami berdoa Rosario, mendaraskan Litani Santa Perawan Maria dan menyambut komuni dalam Perayaan Sabda Hari Minggu Biasa ke-30 dipimpin oleh Frater Yanto MSC yang diutus oleh Pastor Wisnu Agung MSC karena tidak dapat bersama kami sehubungan dengan acara yang padat di paroki Slawi. Acara dilanjutkan dengan santap siang bersama semua umat Wadas Gumantung, menunya sederhana ala kampung, begitu ungkap para ibu setempat yang menyiapkan santapan itu, tetapi bagi kami ~ nuiikmaaaat.
Kontak: Bpk. Thomas Hartoyo (Ketua Stasi)~ HP 08156443769.

5. GM Sendang Beji, yang diberkati oleh Uskup Purwokerto dan pernah dikunjungi oleh Dubes Vatikan Mei 2007 ini dibangun diatas tanah warga setempat dibagian belakang gereja stasi St.Paskalis, Wangon. Selama doa, kami ditemani oleh Suster Corry, BKK yang sehari-hari mengurus gereja dan GM ini. Memang sedang diperlukan sejumlah bambu untuk memperbaiki pagar lokasi GM, demikian diungkapkan Sr.Corry sewaktu kami menitipkan persembahan kami.
Kontak: Rumah Suster telpon: 0281-7620100.

images2Sebuah permenungan, apakah kebetulan itu ada? Ataukah semua hanya bisa terjadi bila dikehendakiNya? Lalu apa makna terdalam dari seluruh rangkaian ibadat bersama kami selama 13 hari ini? Pastor Noel sempatnya tgl. 13 Oktober 08 sementara tgl. 13 Oktober 1917 adalah Penampakan Bunda Maria di Fatima. Apakah kesempatan kami mempersembahkan sesuatu (sebagai ungkapan syukur) di tiap lokasi perziarahan dan terlebih kesempatan kami hadir (kehadiran sesama/umat) dari kota ke tempat terpencil adalah gereja masa kini, demikian diungkapkan oleh Pastor Chr.Tri Harsono, Pr kepada kami pada suatu kesempatan. Disana boleh dikatakan merupakan (walau baru sedikit saja) perwujudan dari apa yang kami dengar di Misa 13 Okt 08 (Yoh 2:1-11 & Pesan Alm.Paus Yohanes Paulus II kepada Tony Mendez) dan juga Injil Minggu Biasa 30 ~ Mat 22:34-40? Semoga………

Semula ziarah ini direncanakan tanggal 17 s/d 19 Okt 08, tetapi kami tidak berhasil mendapat bis, sehingga ditunda 1 minggu, ternyata sekitar tanggal 17 s/d 19 Okt itu area Wadasgumantung turun hujan terus, sehingga pasti lebih sulit dijangkau, tgl 24 malampun masih turun hujan, tapi tgl 25 sama sekali tidak hujan sehingga tgl 26 ada kemudahan bagi kami. Lalu sekali lagi, beberapa meter saja bis kami meninggalkan Wadasgumantung hujan sudah turun dan baru berhenti menjelang Wangon, Nah ada kemudahan lagi kan, dan hujan kembali turun tidak jauh setelah kami meninggalkan Wangon, bagi kami kemudahan dan kesempatan ini adalah Penyelenggaraan Ilahi. Masih kebetulankah kalau di GM Kerep tidak ada orang lain selain rombongan kami (tidak pernah kejadian demikian sebelumnya) sewaktu beribadat di depan Gua sampai prosesi lilin ke salib suci dan setelah kami selesai adorasi barulah nampak cukup banyak peziarah yang sudah datang, demikian juga sewaktu kami harus agak kesasar di kota Boyolali, karena Bpk. Untung yang menjemput dan mengurus mobil kecil kami harus menjemput anaknya disekolah (TK) dulu sehingga tiba di pangkalan ojek Gapura Sombo beberapa menit sebelum rombongan kami.

Renungan masih kami lanjutkan karena tujuan lokasi perziarahan kami agak banyak disamping jadwal ibadat setiap kali kami berziarah kami selalu cukup padat sehingga waktu rekreasinya sedikit saja, setelah kami diskusikan menghasilkan beberapa kesimpulan sebagai berikut :

a.Konsep awal ziarah paling menentukan, yaitu "ziarah sambil rekreasi kalau sempat" atau "rekreasi sambil ziarah kalau lewat", tidak ada yang salah dari keduanya, asal konsekuen dalam pelaksanaannya, dan supaya mantap memang perlu dianut falsafah "Niat - Ucap - Lampah", kami memang memilih ziarah sebagai prioritas utama, akibatnya kami memang harus ketat mengatur jadwal sehingga rute yang direncanakan dapat terlaksana.

b.Apakah perlu ibadat bersama diperziarahan atau cukup doa pribadi saja? Apa perlu kita berdoa Rosario beberapa kali setiap hari ataukah doa Rosario itu cukup sehari sekali? Pola kami adalah setiap tiba disuatu lokasi perziarahan adalah berdoa pribadi dulu, lalu ibadat bersama sebagai lambang kita saling mendoakan. Ternyata kami menemukan jawaban yang indah yaitu di buku terbitan Obor berjudul "Rahasia Rosario" yang ditulis oleh Santo Louis de Monfort. Dijelaskan bahwa doa rosario bersama banyak manfaatnya, salah satunya saja adalah: Kita hanya mendapat satu berkat doa rosario kalau mendoakannya sendiri, tetapi kita akan mendapat 30 berkat doa rosario kalau didoakan bersama oleh 30 orang. Nah, kami tentu tidak akan melewatkan kesempatan yang berharga dalam berziarah tersebut (koq malah hitung-hitungan ya?), belum lagi Alm. Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa renungan peristiwa doa rosario adalah ringkasan Injil.

c.Sebetulnya Tuhan tidak memerlukan doa kita, tetapi kita-lah yang perlu berdoa kepada Tuhan karena Tuhan adalah maha … dan maha … dan maha …, hanya 1 saja dari Tuhan yang mutlak diberikanNya kepada manusia yaitu kehendak bebas manusia. Jadi kita bebas2 saja mau memilih berdoa sedikit, berdoa banyak atau tidak berdoa sekalipun. Kalaupun kami memilih mencoba berkunjung ke lebih banyak perziarahan dan beribadat/berdoa lebih banyak adalah semata-mata adalah sebagai upaya kami untuk dapat berdoa dengan baik. Bukankah St.Paulus berkata, kita tidak dapat berdoa, tetapi roh kudus akan berdoa bagi kita. Itulah sebabnya lagu "Datanglah Roh Pencipta" selalu kami jadikan lagu pembuka disetiap perziarahan, dan akhirnya lagu "Salam Ya Ratu Surgawi" sebagai lagu penutupnya mengikuti tradisi mendoakan Salve Regina sehabis doa Rosario.

Kiriman: Maureen - Bandung



copyright © April 2005 - www.guamaria.com