www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Selasa, 13 Januari, 2009 11:32
Ziarah ke tiga gua Maria di Jakarta
oleh Admin

Ziarah ke tiga lokasi gua Maria dalam satu hari di Jakarta yang dilakukan pada tanggal 7 Desember 2008 merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi sebagian warga lingkungan St.Ignatius dan St.Yohanes Pembaptis - Kopo Permai, Paroki St.Martinus - Bandung yang ingin berdevosi kepada Bunda Maria dengan pergi berziarah ke lebih dari satu Gua Maria, yang karena sesuatu hal belum memungkinkan untuk pergi meninggalkan rumah lebih dari satu hari.

Puji dan Syukur kepada Tuhan serta terima kasih kepada Bunda Maria, yang telah membimbing dan memperkenankan kami 50 orang pergi berziarah bersama ke tiga Paroki di Keuskupan Agung Jakarta yang berlindung kepada Bunda Maria, yaitu: Paroki St.Maria de Fatima Toasebio, Paroki St.Maria Diangkat Ke Surga Katedral, dan Paroki Regina Caeli (Ratu Surgawi) Pantai Indah Kapuk.

images1Setiba di Jakarta, kami mengikuti Perayaan Ekaristi Hari Minggu Adven ke-2 pada jam 09.00 yang dipimpin oleh Pastor Guido,SX di Gereja St.Maria de Fatima, Toasebio yang bangunannya bergaya oriental, bersama umat setempat dan kebetulan juga bersamaan dengan pelantikan pengurus WKRI setempat. Kami sampaikan terima kasih kepada para tokoh paroki setempat, khususnya Bapak Yayang, Bapak Teddy dan Bapak Gozali, untuk segala perhatian yang diberikan kepada rombongan kami. Selanjutnya, kami berdevosi pribadi dan beribadat bersama di Bukit Maria Fatima Toasebio.

Gereja Toasebio menempati bekas rumah Kapitan Cina (orang Tionghoa yang diangkat sebagai kapten lalu dijadikan penguasa setempat oleh kolonial Belanda) dan cuma dikenal dengan nama Tjioe saja. Rumah itu sudah ada sejak tahun 1850 sehingga tidak heran kalau bangunannya memang antik. Awal tahun 1950an sudah mulai ada kegiatan gereja Katolik dirumah itu. Kemudian tahun 1953, rumah dan tanah disekitarnya dibeli oleh pater Belanda yang lalu memperluas gereja yang tadinya cuma menempati bagian depan rumah lama Tjioe. Tahun 1950an nama jalan didepannya masih disebut Toasebio karena disitu ada kelenteng tua yang bernama Toa-sai Bio akan tetapi kemudian dilafalkan sebagai Toasebio. Jalan tersebut sekarang dikenal sebagai Jln. Kemenangan III/47 yang letaknya tidak jauh dari pusat perdagangan Glodok (daerah pecinan sejak jaman VOC), bisa dicapai lewat jalan Kemurnian. Ini adalah gereja dilingkungan pecinan yang masih sering memakai bahasa mandarin didalam Misanya.

images2Perjalanan kami lanjutkan ke Paroki St.Maria Diangkat ke Surga Katedral. Merupakan fenomena yang baik bahwa ternyata umat di perkotaan mengisi masa liburannya dengan beribadat, tidak semata-mata hanya berwisata saja, demikian diungkapkan oleh Pastor Bratakartana,SJ yang sempat menyapa kami setelah selesai memimpin perayaan ekaristi. Selain berdevosi pribadi dan beribadat bersama di Gua Maria Katedral dimana disalah satu dindingnya terdapat batu asli dari Lourdes, kami juga berkesempatan berdoa pribadi didalam gereja Katedral.

Gereja Katedral adalah salah satu gereja tua di Jakarta yang mulai dibangun tahun 1901 bahkan kalau dirunut kebelakangan lagi dilokasi tersebut sudah ada gereja pendahulunya yang dibangun sejak tahun 1810 tetapi kemudian rusak dan terbakar. Karenanya tidak heran gereja tersebut menyimpan banyak sejarah dalam perkembangannya. Bangunannya bergaya neogotik yang sangat megah bahkan untuk ukuran jaman sekarang dengan detil arsitektur menawan serta berbagai peralatan antik yang masih terpelihara dengan baik didalam gerejanya. Selain keunikan pada gua Maria-nya, di gereja ini juga terdapat musium berisi barang-barang antik gereja, yang juga populer barangkali adalah patung Pieta yang terdapat didalam gedungnya dimana diyakini bahwa banyak doa terkabul jika berdoa disitu. Banyak juga yang berdoa sambil memegang kaki Yesus yang terkulai dipangkuan ibundaNya Maria setelah diturunkan dari salib (patung Pieta). Terletak dipusat kota Jakarta tidak jauh dari Monas, lokasi gereja ini juga berhadapan langsung dengan Masjid terbesar di Jakarta yakni Masjid Istiqlal. Suatu hal yang menggambarkan kerukunan umat beragama di Indonesia.

Akhirnya kami menuju Paroki Regina Caeli di Pantai Indah Kapuk. Pastor Felix Supranto,SSCC yang baru selesai mempimpin upacara penikahan juga sempat menyapa kami, "Jauh-jauh dari Bandung tentu ingin berziarah kepada Bunda Maria, silahkan, karena memang dari Bunda Maria-lah kita bisa menimba kekuatan", demikian disampaikan sambil menunjuk ke arah gua Maria. Kami sungguh mendapat kemudahan berupa cuaca yang sangat teduh bukan mendung pada saat berdevosi pribadi dan beribadat bersama di gua Maria Regina Caeli ini yang dilanjutkan dengan doa pribadi di dalam gereja. Matahari yang semula bersinar terik sejak kami di Toasebio, juga di Katedral, dan selama perjalanan menuju Pantai Indah Kapuk, lalu berubah sangat teduh selama kami berdoa di Paroki Regina Caeli, kemudian rupanya kembali bersinar saat kami berfoto bersama di depan Patung Regina Caeli sesaat sebelum kami pergi meninggalkan kompleks Paroki termuda (ke-60) di Jakarta tersebut.

Daerah Pantai Indah Kapuk (PIK) yang terletak diutara Jakarta merupakan daerah pemukiman kaum elite yang belum begitu lama dibuka (tahun 90an) karena tahun 80'an daerah tersebut sebagian besar masih rawa-rawa dan persawahan. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika menjadi paroki termuda di Jakarta saat ini. Dalam sejarahnya paroki Regina Caeli merupakan perkembangan dari Paroki Stella Maris - Pluit yang lokasinya berdampingan dimana daerah pemukiman Pluit lebih dulu dikembangkan dari PIK. Karena limpahan umat yang tidak tertampung lagi maka diperlukanlah gereja baru untuk menampung pelayanan umat di lokasi tetangganya (PIK). Seperti yang anda ketahui Gereja Stella Maris adalah tempat berkarya pastur Somar yang sangat terkenal dilingkungan umat Katolik Jakarta karena punya kemampuan khusus. Gereja Regina Caeli (ratu surgawi) diresmikan pada 11 Juni 2006 setelah melalui melalui banyak peristiwa "mengejutkan" dalam pembangunannya seperti ditulis dalam sejarahnya pada situs web-nya (www.reginacaeli.org), akan tetapi tentu saja itu bukan kebetulan semata melainkan karya ajaib tangan Tuhan.

Per Mariam Ad Yesum
Maureen



copyright April 2005 - www.guamaria.com