www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Rabu, 18 Februari, 2009 16:52
Berdevosi secara sehat kepada Bunda Maria
oleh Admin

Pak Markus, Bu Tuti, Mbak Nina, Tata, Ines adalah sebagian orang beriman yang rajin mengikuti misa Novena di Gua Maria Kerep, Ambarawa. Mereka suka duduk di bagian depan altar. Begitu misa selesai, mereka lari cepat­cepat dan berebutan untuk mengambil bunga-bunga yang ada di sekitar altar untuk dibawa pulang. Mereka percaya bahwa bunga-bunga itu sudah terberkati. Apalagi si Tata, ia suka membawa bunga itu untuk dipajang di kamar ibunya yang sedang sakit. Ia yakin, berkat dari bunga itu akan ikut menyembuhkan ibunya.

images1Sementara itu Pak Idrus, Bu Woro, si kembar Dewi dan Santi, Kurniawan, lebih suka mengambil dan membawa air untuk dimohonkan berkat saat misa novena. Air itu diminum di rumah agar mereka sembuh dari sakitnya. Lain lagi si Badrun, ia lebih suka tirakatan sejak hari Jumat dan ditutup dengan misa Novena di Gua Kerep pada hari Minggu kedua itu. Ia mengurangi tidur dan makan, namun banyak berdoa. Ia punya satu ujud permohonan, yakni agar cepat mendapatkan pekerjaan karena sudah 2 tahun menganggur!

Bolehkah kita berebut bunga sesudah misa novena dan membawanya pulang sebagai tanda berkat? Bolehkah memohonkan berkat pada air di depan patung Maria atau saat misa kudus di tempat peziarahan seperti di Kerep? Bolehkah orang mengadakan tirakatan dengan berpuasa, matiraga di kompleks peziarahan? Jawabannya jelas: boleh-boleh saja, tetapi ada syaratnya. Praktik memohonkan berkat untuk air di depan patung Maria, didepan altar sewaktu misa kudus, apalagi tirakatan dengan berpuasa atau bermatiraga dengan banyak berdoa merupakan praktik-praktik religius dan devosi yang umum terjadi. Ini praktik devosi umat yang tidak dipermasalahkan dalam Gereja. Bahkan, kita masih bisa menambah banyak praktik lainnya seperti orang berjalan kaki dari rumahnya ke tempat peziarahan, misalnya di Kerep, Sendangsono, Sendang Ratu Kenya di Danan, Wonogiri, dan lain-lain. Atau mengikuti misa novena di manapun diselenggarakan, camping rohani di sekitar tempat peziarahan, dan sebagainya.

Beberapa pegangan untuk berdevosi

Praktik devosi yang disertai dengan doa dan matiraga merupakan praktik keagamaan yang baik dan didukung oleh Gereja. Tetapi, praktik devosi ini harus memperhatikan beberapa syarat, antara lain:

1.Devosi hendaknya ditempatkan dalam keseluruhan iman Gereja yang benar.
Praktik devosi yang begitu mengagungkan Bunda Maria sampai-sampai menggeser Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus, dan Roh Kudus tentu bukan praktik devosi yang sehat. Ada orang yang begitu mantapnya berdoa kepada Bunda Maria, hingga sama sekali tidak menyebut nama Allah atau Tuhan. Doa kepada Bunda Maria seperti ini tentu kurang tepat, misalnya: "Ya, Bunda Maria, engkaulah sumber segala rahmat, kabulkanlah doa kami. Engkaulah yang kudus dari yang terkudus, engkau tanpa dosa, maka ampunilah dosa kami dan kasihandah kami, para putra-putrimu ini". Di situ Maria sudah setara dengan Tuhan, dan bahkan memposisikan Maria sebagai Tuhan karena ia disebut sebagai sumber segala rahmat, yang kudus dari yang terkudus, berkuasa untuk mengampuni dosa, dan seterusnya. Penghormatan kita kepada orang-orang kudus, termasuk Maria, haruslah ada dalam jalur iman Gereja yang benar, yakni iman sebagaimana diimani para rasul seperti tampak dalam Kitab Suci dan ajaran Gereja.

2.Devosi hendaknya juga harus ditempatkan dalam liturgi Gereja.
Devosi itu bukan liturgi resmi. Devosi atau olah kesalehan ini tidak setara tingkatnya dengan liturgi, tetapi sangat dianjurkan karena mempersiapkan dan membantu orang untuk dapat berliturgi dengan hati dan perasaannya. Keunggulan devosi dibandingkan liturgi resmi ialah, tekanannya pada segi afeksi yang menyentuh perasaan dan hati orang. Sementara itu rumusan doa devosi itu sederhana dan mudah. Lihat saja misalnya doa rosario. Praktis, doa ini hanya mengulang-ulang doa Bapa Kami dan terutama Salam Maria. Tetapi, banyak orang suka karena mudah, tetapi juga menyentuh perasaan. Namun, ada orang yang lebih mengutamakan devosi daripada liturgi. Misalnya saat misa kudus, termasuk di Kerep, orang berdoa rosario, lalu diteruskan litani, tanpa mau ikut berpartisipasi aktif dalam misa kudus itu. Lalu pada saat komuni, ia ikut maju menerima komuni. Nah, ini tidak tepat. Janganlah berdoa rosario selama misa kudus. Nilai misa kudus bagaimanapun juga lebih tinggi daripada doa rosario.

3.Devosi juga harus dijauhkan dari sikap magis.
Sikap magis ini tampak apabila orang begitu memutlakkan barangnya, tandanya, rumusan doanya, jumlah angkanya, kegiatan-kegiatan lain yang menyertainya, namun lalu malah menggeser Tuhan sebagai yang tidak pokok. Mestinya terkabulnya doa itu tergantung pada Tuhan saja. Tetapi, orang malah lebih meyakini bahwa doanya akan terkabul apabila ia mendoakan rumusannya secara persis, dengan titik dan komanya, atau mendoakannya pada jam-jam tertentu atau di tempat-tempat tertentu. Pada contoh di atas, praktik orang yang berebut mengambil bunga di sekitar altar bukanlah praktik yang baik. Kata berebut sendiri sudah tidak bagus, karena tindakan berebut pasti berakibat: ada yang dapat alias menang, tetapi ada yang tidak dapat alias kalah (kalah cepat, kalah tenaga, dan seterusnya). Yang tidak bagus ialah semangat magis di baliknya bahwa kalau bunga itu bisa kita ambil dan bawa pulang pasti membawa berkat atau tuah, sehingga orang sakit dapat disembuhkan. Yang menyembuhkan adalah Tuhan dan bukan bunga atau airnya! Maka, kebiasaan berebut bunga semestinya dihindari!

4.Devosi dan praktik religius seperti di tempat peziarahan Gua Maria atau tempat lainnya harus dijauhkan dari mentalitas do ut des.
Artinya, aku memberi agar aku diberi atau mendapat sesuatu. Inilah mentalitas pamrih, mentalitas bisnis atau pedagang. Bertirakat, berpuasa, bermatiraga, atau berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer ke tempat peziarahan merupakan praktik laku matiraga yang boleh dan baik. Menjadi tidak baik apabila itu kita lakukan dengan motivasi untuk memaksa Tuhan agar Tuhan seolah-olah berutang budi kepada kita. Atau Tuhan baru mau mengabulkan doa permohonan kita apabila kita mau membayarnya dengan laku matiraga kita. Ini pandangan yang keliru. Laku matiraga itu baik dan perlu untuk kehidupan rohani kita, tetapi jangan dilakukan dalam semangat do ut des. Laku matiraga kita lakukan lebih untuk mendisiplinkan diri kita pada pengolahan diri dan hidup kita agar kita terbantu dan disiapkan untuk menyerahkan diri kepada Tuhan dan kehendak-Nya.

Menghayati devosi yang sehat

Gua Maria Kerep hanyalah salah satu tempat devosi yang ada. Kini makin banyak tempat-tempat peziarahan baru yang bermunculan. Dan menurut hemat kami, itu baik-baik saja dan boleh-boleh saja. Para pengelola tempat peziarahan juga tidak perlu saling bersaing, karena Tuhan yang kita sembah hanyalah satu, Bunda Maria dan orang-orang kudusnya juga sama. Bahaya persaingan itu bisa muncul bila tidak diwaspadai. Misalnya saja, orang lalu membanding-bandingkan: tempat ziarah mana yang bisa mendatangkan uskup, mana yang bisa menghasilkan kolekte terbanyak, mana yang jumlah umatnya paling banyak. Bukankah ini semua sekunder?

Kita sebaiknya kembali ke pengertian dasar devosi. Devosi berasal dari bahasa Latin devotio yang artinya penyerahan diri, penghormatan, pengabdian. Maka devosi itu pertama-tama soal batin, soal hati yang mau menyerahkan diri kepada Tuhan, mau mengabdi-Nya dan mau menghormati-Nya melalui para kudus-Nya, seperti Bunda Maria. Bentuk devosi kepada Bunda Maria sendiri bermacam-macam. Ada rosario, litani ziarah, novena, doa di depan altar atau gambarnya dan sebagainya. Maka untuk berdevosi, orang bisa di rumah saja dan tidak pergi ke Gua Maria Kerep atau Sendangsono, ia bisa berdoa rosario di depan patung Maria, tetapi seluruh hatinya diarahkan kepada Bunda Maria agar membantunya dalam memohon kepada Tuhan.

Marilah kita rajin berdevosi kepada Bunda Maria, namun dalam semangat devosi yang sehat dan benar.

dikutip dari:
http://nyanyianziarah.multiply.com/journal
sumber asli:
artikel majalah UTUSAN No 08 Tahun ke 54, Agustus 2004 (KANISIUS MEDIA)



copyright © April 2005 - www.guamaria.com