www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Jumat, 8 Mei, 2009 11:54
Gua Maria Ratu Rosari Juwana
oleh Admin

Sejarah berdirinya diawali pada tahun 1981 dimana Bapak Bedjo Ludiro seorang Katolik yang saleh dan tekun berdoa kepada Allah dengan perantaraan Bunda Maria ingin mengungkapkan rasa syukurnya kepada Bunda Maria sebagai perantara Ilahi karena terkabul permohonannya.

images2Dikisahkan keluarga Bedjo Ludiro mengalami cobaan yaitu Ibu Bedjo Ludiro mengalami kelumpuhan yang tak tersembuhkan dengan pengobatan biasa. Keluarga ini kemudian pergi berziarah ke Lourdes untuk memohon kesembuhan dari Tuhan melalui perantaraan Sang Bunda. Dan ajaibnya doa yang mereka panjatkan didengar oleh Tuhan, Ibu Bedjo Ludiro beruntung sembuh total dari sakit lumpuhnya.

Untuk mengungkapkan rasa syukurnya itu keluarga Bedjo Ludiro bermaksud membantu biaya renovasi tempat ziarah Gua Maria Kerep. Niat baik tersebut disambut oleh Romo Paroki Rm. FX. Pranata Widjaya, SJ dan Dewan Paroki Ambarawa yang ketika itu menjadi pengelola tempat ziarah itu. Tetapi kemudian niat itu menjadi berkembang untuk mewujudkan gua Maria di Juwana yang dibentuk mirip gua Maria Kerep.

Sebelum dijadikan tempat ziarah, di Gua Maria Ratu Rosari Juwana tidak terjadi peristiwa penampakan ataupun peristiwa mukjizat yang mengagumkan seperti yang terjadi di Lourdes. Namun demikian ada kisah-kisah penting dan menarik yang melatar belakangi pembuatan dan pembangunan gua Maria dimana hal itu semua dihayati sebagai penyelenggaraan Ilahi. Dalam pembuatan gua ini tidak ada gangguan apapun dalam proses pembuatan, rasanya tidak ada yang mengganggu dan sesuai dengan maksud serta cita-cita pembuatannya, seperti diungkapkan oleh para pekerja Gua Maria. Bapak Indro Ludiro bercerita bahwa dalam pembuatan gua ini, rasanya tidak pernah kekurangan dana. Padahal situasi saat itu sedang krisis akan tetapi proses pembuatannya berjalan sesuai dengan rencana awal sehingga rasanya Tuhan sendiri yang membimbingnya.

Jauh sebelum pembuatan gua terjadi, ada seorang ibu yang benama FD. Sutarni asal desa Krandan Kec. Trangkil bercerita bahwa dia bermimpi: "Di belakang rumah Bapak Indro Ludiro ada cahaya kemilau bersinar memenuhi halaman depan yang terlihat sekitar bangunan Gazebo Sosro yang porak poranda termasuk kandang buaya". Mimpi itu tepat satu minggu setelah hari Ulang Tahun Ibu Bedjo Ludiro ke 85. Prediksi dan analisanya waktu itu ialah apakah Ibu Bedjo Ludiro akan meninggal, ternyata tidak, yang terjadi justru sebaliknya. Harapan dan keyakinan para perintis dan pendiri serta pengelola kegiatan Gua Maria Ratu Rosari bahwa orang yang datang dan berdoa dalam devosi kepada Bunda Maria akan memperoleh pancaran sinar rahmat berlimpah dari Tuhan. Dan dengan berdevosi melalui Bunda Maria, doa seseorang akan sampai kepada Kristus dan kepada Bapa. "Per MARIAM ad YESUM, Per YESUM ad PATRUM". Itulah mukjizat yang terbesar.

Kini mimpi seorang ibu asal desa Krandan Kecamatan Trangkil terwujud sudah, bahwa kandang buaya sekitar Gazebo Sosro dibongkar untuk prosesi jalan Salib dan taman pendukung keindahan dan keserasian Gua Maria Ratu Rosari, serta ruang pertemuan terbuka yang berkapasitas 150 orang. Nama yang kemudian diberikan Rm. Mulyono, MSF, Sekretaris Keuskupan Agung Semarang, saat pemberkatan tanggal 22 Januari 2004 bertepatan tahun Baru Imlek ialah Stanza Aperta. Pada lokasi Gua Maria Ratu Rosari masih dipertahankan satu kandang buaya sebagai ciri khas Gua Maria Juwana, itu adalah sesuai harapan Romo Vikjen Keuskupan Agung Semarang, Rm. Pujosumarto PR saat bertemu dengan pengelola Gua Maria Ratu Rosari Juwana di Wisma Sanjaya Muntilan.

Semua pengembangan tersebut atas rahmat Allah dikerjakan dan dibuat atas biaya Bp. Indro Ludiro sendiri. Setelah Panti Stanza Aperta diresmikan pada tanggal 22 Januari 2004, Gua Maria Ratu Rosari semakin berkembang sebagai tempat berdevosi kepada Bunda Maria. Kiranya doa setiap orang yang datang semakin membuat pengurus, khususnya Bp. Indro Ludiro sebagai pemilik tempat berpikir untuk mengadakan kelengkapan sarana lain, sehingga devosi terhadap Bunda Maria akan semakin terdukung.

images1Panti Samadi, adalah tempat umat untuk merenung perkembangan imannya terhadap Yesus Kristus Sang Putera Bunda Maria supaya semakin mendalam. Tempat yang hening, menyatukan umat kepada Sang Sumber Rahmat. Jalan Salib yang hanya sepanjang 15 meter, sungguh kurang relevan untuk mewujudkan penghayatan karya penyelamatan Allah. Bunda Maria sebagai tokoh “via dolorosa" semakin mendengungkan harapannya dan menginspirasikannya kepada Bp. Indro Ludiro bersama pengelola untuk mewujudkan Jalan Salib yang lebih layak dan memadai untuk melengkapi devosi kita kepada Sang Bunda. Taman-taman yang asri, Taman Getsemani tempat Yesus berdoa menjelang sengsaranya, Bukit Golgota tempat Yesus disalibkan, Taman Bukit Batu tempat Yesus dimakamkan, itu semua perlu diadakan sebagai kelengkapan devosi kita kepada Sang Bunda. Semua ini secara bertahap telah dibangun dan diwujudkan.

Dana perlu diadakan dan dikumpulkan dari para donatur tetap maupun dari para penderma umat yang berkunjung. Tentu saja Bp. Indro Ludiro sebagai "soko guru" pendanaan perlu dicatat sebagai pribadi yang dirahmati Tuhan. Sungguh Allah Bapa dan juga sapaan Sang Bunda pada Yesus Sang Putra pada pesta di Kana rupanya juga terlaksana di rumah Bp. Indro Ludiro ini. Sehingga Roh Kudus menggerakkan semua pihak untuk segera mewujudkan impian itu. Kesan-kesan para pengunjung, baik itu para Romo, Suster, yang berkenan menggunakan tempat ini, baik itu untuk berkonferensi, retret, dan berdevosi sungguh memberi dukungan. Demikian juga rombongan-rombongan umat dari berbagai kota yang memberi kesan dan saran, menjadikan Bp. Indro Ludiro bersama pengelola melangkah pasti untuk mewujudkan sarana-sarana tersebut di atas.

Mendengar dan membaca kesan, saran, maupun kritik para pengunjung, maka Bp. Indro Ludiro bersama pengelola segera berbenah diri. Tempat Samadi harus segera dibuat. Buaya-buaya kecil dipindahkan ke sebelah utara didekatkan pada kolam-kolam induknya di sebelah utara Gua. Di depan Panti Stanza Aperta berdekatan dengan Panti Gazebo dibangunlah Panti Samadi itu. Relatif dalam waktu singkat Panti Samadi itu dibangun dan selesai. Tepat pada ulang tahun Gua Maria yang ke-3, tanggal 13 Mei 2006, juga bertepatan dengan Perayaan Ekaristi Syukur Hari Pendidikan Nasional Rayon Sidiana, Mgr. Ignatius Suharyo PR, Uskup Agung Semarang berkenan sebagai Selebran Utama dan sekaligus meresmikan dan memberkati Panti Samadi yang sudah siap digunakan tersebut.

Sarana Gua Maria Ratu Rosari sudah mendekati lengkap. Panti konferensi sudah ada yaitu Stanza Aperta, tempat doa sudah ada yaitu Panti Samadi, tempat melepas dahaga dan lapar telah tersedia yaitu ruang Gazebo. Sarana-sarana ini sudah terbukti manfaatnya karena beberapa kelompok Romo, Tarekat Suster sudah mengunakan tempat ini untuk keperluan retret dan konferensi.

Data:
Lokasi: Jl. WR Supratman 1, kira2 200m dari terminal Juwana
Administrasi: St. Maria la Salette Juwana.
Sekretariat: Jln. Silugonggo 1, Juwana.
Ketua pengelola kegiatan gua Maria: Bp. Bambang Poernomo
Kontak Pelayanan: Ibu Rosa Inneke (08123540336), Ibu Dwi Wahyuni (08122532163)
Website: www.guamariajuwana.com
Email: diansts@yahoo.com



copyright © April 2005 - www.guamaria.com