www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Rabu, 23 September, 2009 12:44
Taman Doa Bunda Kristus Tebar Kamulyan
oleh Admin

images1Pada mulanya sebagian kawasan Kota Subang terdiri dari hutan karet, tak terkecuali daerah yang saat ini menjadi kawasan Gereja Katolik Subang. Menurut cerita orang–orang kampung, semasa kawasan Gereja Katolik masih berupa hutan karet, terdapatlah jalan setapak yang di salah satu sisi ditumbuhi satu pohon beringin besar yang sering digunakan sebagai pusat pemujaan kepada Dewi Pohaci.

Upacara persembahannya dilakukan dengan cara membakar batang padi (merang) serta memberi sesembahan berupa kelapa muda, makanan serta rampe-rampe. Didaerah ini Dewi Pohaci dipercaya oleh penganutnya sebagai lambang kelembutan, kesuburan dan perlawanan terhadap kekerasan. Pemujaan terhadap dewa-dewi diyakini sebagai pewahyuan Tuhan kepada semua bangsa dengan tingkatan dalam bentuk yang paling sederhana dimana kemudian selanjutnya kebiasaan dan pemikiran seperti itu diwujudkan dalam berbagai ritus.

Awal keberadaan Gua Maria di Paroki Subang sekitar tahun 1985 atas prakarsa dari Perkumpulan Remaja Katolik Subang (PRKS) dan diresmikan oleh Uskup Bandung Mgr. A.S. Djaja Siswaja,Pr. yang pada waktu itu letaknya didepan Gereja disisi samping kanan Pasturan tidak jauh dari jalan raya. Kondisi demikian dirasa kurang memadai sebagai tempat untuk berdoa. Apalagi pada saat itu banyak kegiatan mudika/remaja yang memanfaatkan Gua Maria sebagai tempat berkumpul. Pada masa itu menjelang Pemilu ada aturan dari pemerintah yang membatasi orang untuk berkumpul, berkerumun maka Gua Maria dipindahkan ke sudut belakang Gereja (sekarang dimanfaatkan sebagai tempat Taman doa Pieta). Pemindahan ini diprakarsai oleh Frater Anton (saat ini telah menjadi Pastor) bersama Pastor Maman OSC. Gua Maria tetap digunakan sebagai pusat kegiatan terutama bagi remaja, mudika serta Legio Maria. Dan belum secara optimal digunakan sebagai tempat Devosi kepada Bunda Maria. Pada awal tahun 2001 banyak jemaat Subang yang melakukan Devosi kepada Bunda Maria dengan mendatangi beberapa tempat Ziarah, mulai dari Lampung sampai hampir semua tempat Ziarah di Jawa dan Nusa Kambangan, bahkan beberapa pemuka jemaat pernah suatu kali mengadakan novena dengan berziarah ke 9 Gua Maria secara maraton dalam satu kali ziarah. Ujud kegiatan lain berkaitan dengan Devosi kepada Bunda Maria yaitu setiap malam Jumat Legi beberapa pemuka Jemaat Subang mengikuti Misa yang diadakan pada tiap malam Jumat Legi Jam 12 malam di Gua Maria Lourdes Puh Sarang Kediri, Jatim selama hampir satu tahun.

Disamping itu ada kalanya mengadakan doa rosario pada tiap malam Jumat Kliwon di Gua Maria Sawer Rahmat Cigugur Kuningan, Jabar. Dari Devosi yang dijalani itu banyaklah doa permohonan yang dikabulkan. Kegiatan demikian dilaksanakan hingga tahun 2004 dan ironisnya pada kesempatan yang sama beberapa peziarah dari luar kota Subang malahan datang ke Gua Maria yang ada di Paroki Subang untuk berdoa sebagai ujud devosi kepada Bunda Maria. Kesan dari para peziarah yang sudah beberapa kali datang ke Gua Maria Paroki Subang menyatakan bahwa umumnya doa-doa mereka banyak terkabul. Melihat perkembangan yang ada maka beberapa pemuka Jemaat Subang mulai berpikir untuk memanfaatkan Gua Maria yang ada sebagai tempat berdevosi kepada Bunda Maria, agar tidak perlu jauh-jauh sekaligus untuk menyemangati umat yang ada di Paroki Subang. Maka di Paroki Subang diadakan Doa Rosario tiap Malam Jumat Kliwon pukul 00.00, sambil sarasehan memperbincangkan perkembangan Paroki Subang. Dari hasil sarasehan itu para pemuka Jemaat yang didukung oleh Pastor Agustinus Made OSC yang pada saat itu sebagai pastor Paroki Subang mempunyai prakarsa untuk membenahi tempat ziarah Gua Maria Subang dan devosi kepada Bunda Maria semakin digiatkan. Hal itu ditandai dengan diadakannya Doa Rosario di Gua Maria satu minggu satu kali setiap hari Rabu pada jam 7 malam, dengan satu intensi khusus agar di Subang bisa membangun sarana Ziarah Gua Maria dan Jalan Salib yang representatif.

images2Demikian kuatnya pemuka jemaat untuk bisa mewujudkan tempat dimaksud, maka mereka kembali melakuan novena disembilan tempat ziarah yang dibimbing langsung oleh Pastur Agustinus Made OSC. Sambil penjajagan model dari beberapa tempat ziarah yang dikunjugi untuk bisa diterapkan di Paroki Subang, dengan tanpa mengurangi kegiatan doa yang telah berjalan di Subang. Pada akhirnya beberapa pemuka jemaat mengadakan konsultasi kepada salah seorang arsitek di Bandung (Bpk. Ir. Subagio). Dari beliau disarankan agar letak Gua Maria berada pada titik pusat diorama kisah sengsara Tuhan Yesus (Jalan Salib). Maka dengan itu Gua Maria yang sudah ada saat itu mesti dipindahkan ke tempat yang sekarang ada. Sebagai langkah lanjut agar rencana pembangunan Gua Maria dan Jalan Salib bisa lebih terarah maka di bentuklah Kepanitiaan yang diketuai oleh Bapak Yohanes Senadjaja. Panitia mulai menggalang dana, pada awalnya dihimpun dari jemaat Subang sendiri, namun dirasa masih jauh dari target yang telah direncanakan, atas saran dari anggota Panitia untuk menggalang dana dari jemaat di luar Paroki dengan mengirimkan beberapa proposal ke beberapa relasi dari pemuka Jemaat yang ada di Subang dan dari Ditjenbinmas Katolik, Depatemen Agama.

Menandai awal pembangunan Gua Maria dan Jalan Salib dilakukan peletakan Batu Pertama pada hari Kamis, 15 September 2005 oleh Pastor Agustinus Made OSC. Selama pembangunan berlangsung kegiatan doa Rosario/Novena dan tirakat tiap Rabu malam dan malam Jumat Kliwon tetap dilanjutkan dengan intensi utama: bagi kelancaran Pembangunan dan untuk mendapatkan nama yang tepat untuk tempat Ziarah di Subang. Khusus untuk kegiatan Malam Jumat Kliwon selalu disertai tradisi “Ngaliwet” (makan nasi liwet bersama) sambil sarasehan atau “ngariung”. Pada tanggal 23 Maret 2006 Malam Jumat Kliwon, dengan melewati debat panjang para pemuka Jemaat dan para jemaat akhirnya disepakati nama tempat ziarah di Subang adalah ”GUA MARIA BUNDA KRISTUS TEBAR KAMULYAN”. Latar belakang berkaitan dengan nama dimaksud adalah: pertama Patung Bunda Maria yang digunakan adalah Patung Bunda Kristus Paroki Subang nama pelindungnya Kristus Sang Penabur, Sebagai seorang Penabur mempunyai tugas untuk menebar, dan yang ditebar adalah sesuatu yang bersifat agung atau mulia. Kata “TEBAR” diartikan juga sebagai singkatan dari keTEnangan BARu dan “KAMULYAN” singkatan dari KArep MULus kalaYANan” yang artinya “Keinginan/kehendak dengan tanpa aral melintang akan terpenuhi atau terkabul” maka “TEBAR KAMULYAN” bermakna menebarkan atau melimpahkan Keagungan. Jadi kepada siapapun bisa berharap bahwa dengan berdoa di Gua Maria Bunda Kristus Tebar Kamulyan, akan mendapatkan Ketenangan atau Ketenteraman dan apa yang menjadi keinginannya atau permohonannya akan beroleh kemudahan atau dikabulkan.

Pada awal April 2006 Pembangunan Gua Maria dan Jalan Salib sudah selesai 90%, maka tepat pada hari Jumat tgl. 7 April 2006 diadakan upacara Pemindahan Patung Bunda Maria dengan adat sunda termasuk seluruh petugas serta Pastor Made pada saat itu mengenakan pakaian adat Sunda. Melalui sebuah Prosesi Patung Bunda Maria dipindahkan dari Gua Maria lama ke Gua Maria yang sekarang digunakan. Pemindahan dilakukan dengan ditandu secara estafet oleh beberapa regu yang terdiri dari para pengurus dan pemuka jemaat Gereja Katolik Subang. Sepanjang dilangsungkannya prosesi pemindahan patung sempat diwarnai hujan gerimis. Upacara ditutup dengan Misa Agung didepan Gua Maria yang dipimpin oleh Pastor Agustinus Made OSC. Pada kesempatan itu secara resmi diumumkan nama Gua Maria Subang adalah “GUA MARIA BUNDA KRISTUS TEBAR KAMULYAN”. Mengawali penggunaan Gua Maria dan Jalan salib ditandai dengan dilaksanakannya Upacara Ibadat Jalan Salib mengenang Kisah Sengsara Tuhan Yesus ditempat ini bertepatan dengan Jumat Agung tahun 2006. Sejak saat itu Devosi kepada Bunda Maria di Paroki Subang semakin marak. Tiap Kamis malam jam 19.00 malam diadakan Doa Rosario, khusus untuk hari Kamis malam Jumat Kliwon jam 23.00 malam diadakam Misa Tirakatan yang biasanya usai Misa seluruh jemaat yang hadir diundang untuk bersama-sama menikmati nasi liwet menerapkan kebiasaan tradisi ngaliwet di Paroki Subang.

Kenapa dipilih waktu penyelenggaraan Misa pada malam Jumat Kliwon? Apa berbau klenik? bukankah waktu tersebut dipercaya banyak orang sebagai waktu yang rawan/ditakuti untuk melakukan aktifitas diluar rumah? Kenapa umat Subang memilih hari itu? Sudah barang tentu Pengurus Dewan dan Pemuka Jemaat disini bukan sekedar mengikuti tradisi atau adat tapi ada pemikiran logis yang melatar belakanginya. Kalau kita tilik lebih lanjut “Malam Jumat Kliwon” adalah perpaduan antara penghitungan waktu menurut Surya Sengkala dan Candra Sengkala. Surya sengkala merupakan perhitungan waktu menurut Bumi mengelilingi Matahari sedangkan Candra Sengkala adalah penghitungan waktu menurut Bulan mengelilingi Bumi. Nama-nama hari menurut bahasa sansekerta adalah 1. Dite, 2. Soma, 3. Anggara,4. Budha, 5. Respati, 6. Sukra dan 7. Tumapak atau dalam bahasa Nasional Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis Jumat dan Sabtu sedangkan menurut Candra Sengkala nama hari ada lima yaitu Legi(Manis), Pahing, Pohon (Pon), Wage dan Kaliwon( Kliwon). Malam Jumat mengingatkan kita akan malam sebelum Yesus menderita dan disiksa, malam itu Yesus merasakan penderitaan yang luar biasa, malam itu juga kita sudah selayaknya turut berjaga-jaga bersama Yesus dan murid-muridNya, (Yesaya 53, 3-5) menyebutkan dengan bilur-bilur Yesus engkau ditebus dan disembuhkan, hingga wafatnya Yesus pada hari Jumat. Sedang Kliwon atau Kaliwon terdiri dari dua kata yaitu Kali dan Awuan, Kali artinya kala atau saat dan Awuan artinya peleburan, penghancuran atau penghapusan. Dengan demikian bilamana kita melakukan suatu kegiatan ritual pada malam Jumat Kliwon artinya kita perlu memeriksa diri, dan berharap kita beroleh peleburan/penghapusan dari segala dosa dan kesalahan, sehingga dengan demikian suasana hati kita menjadi lebih siap dan pantas menerima segala rahmat dari Allah. Karena itu dengan penjelasan ini, kita kemudian tidak berpikiran negatif terhadap kegiatan yang dilakukan pada setiap Malam Jumat ataupun malam Jumat Kliwon.

Peziarah dari luar Subang sejak saat itu mulai berdatangan, terlebih setelah kebaradaan tempat ziarah di Subang ini dimuat di majalah Komunikasi terbitan Keuskupan Bandung. Informasi cepat sekali tersebar keluar baik di Jakarta, Jawa Tengah maupun Keuskupan Bandung sendiri. Seiring dengan berjalannya waktu, 1 minggu setelah peresmian Gedung Gereja Katolik Subang pada kesempatan dimana Bpk. Uskup Bandung, Mgr. Johannes Pujasumarta mengadakan kunjungan Pastoralnya ke Subang. Disela-sela diskusi dengan para pengurus Gereja dan Pemuka Jemaat Paroki Subang, Bapak Uskup menyarankan agar nama Gua Maria Subang diubah dengan nama yang lebih berkonotasi luwes tapi tanpa mengurangi makna sebagai suatu tempat ziarah, maka namanya diusulkan untuk diubah menjadi “Taman Doa” sehingga menjadi “Taman Doa Bunda Kristus TEBAR KAMULYAN”, hingga sekarang. Dengan diberinya istilah Taman Doa maka tidak akan timbul kerancuan makna dikalangan masyarakat disekitar Gereja maupun para pemangku kebijakan di Kabupaten Subang umumnya dimana jika menggunakan istilah "Gua Maria" kadang dikonotasikan sebagai tempat wisata. Terlebih saat ini begitu banyak rombongan peziarah dari luar kota Subang yang berkunjung ketempat ini. Kota kecil seperti Subang, dengan banyaknya bus rombongan peziarah yang lalu lalang sudah barang tentu cukup menarik perhatian banyak pihak, termasuk masyarakat dan aparat setempat. Untuk itu pihak Gereja selalu berusaha menjalin komunikasi dengan aparat dan masyarakat sekitar agar tidak menimbulkan pemahaman keliru yang berpontensi memicu kerawanan. Hal positif harus tetap kami upayakan dengan mengakomodasi para pedagang kecil yang mencoba untuk ikut mengadu peruntungan menyambung hidupnya dengan berjualan di area taman doa, setidaknya kehadiran Taman Doa "Tebar Kamulyan" membawa manfaat juga bagi masyarakat sekitarnya. Dengan jalan itu pada gilirannya masyarakat sekitar akan ikut andil untuk selalu memelihara iklim yang kondusif dan harmonis.

Saat ini kami semakin kewalahan dalam melayani peziarah yang kian hari kian bertambah. Semoga Gua Maria Bunda Kristus Tebar Kamulyan yang kini bukan milik umat Subang saja tapi milik kita bersama. Semoga "Tebar Kamulyan" selalu menebarkan Keagungan, memberikan ketenangan baru dan bermanfaat bagi para peziarah yang datang.
"SELAMAT BERZIARAH.....!

alamat:
Berada di Kawasan Gereja Katolik Kristus Sang Penabur Subang (kurang lebih 60 Km sebelah barat Kota Bandung)
Jl. A. Nata Sukarya No.18 Cikalapa, Subang - JAWA BARAT Tlp. (0260) 421805

dari:
http://tebarkamulyansubang.blogspot.com/2009/09/sejarah-taman-doa-tebar-kamulyan.html



copyright © April 2005 - www.guamaria.com