www.guamaria.com
sumber informasi tentang gua Maria di Indonesia

Halaman utama    
Senin, 2 Mei, 2005 11:31
Mengenang Yohanes Paulus II
oleh Admin

Karol Josef Wojtyla, dilahirkan di Wadowice, 120 km dan Krakow, Polandia pada tanggal 18 Mei 1920. Dia dipilih menjadi Paus pada tanggal 16 Oktober 1978.

Ia memilih nama baru Yohanes Paulus II karena tertarik dan ingin mengembangkan semangat hidup Paulus Yohanes XXIII (antara lain pembaharuan ke dalam dan perdamaian dengan dunia luar) dan semangat hidup Paus Paulus VI (antara lain berupaya yang keras untuk persatuan kembali umat Kristen serta pembaharuan Liturgi. Dia seorang pemimpin Gereja yang paling cemerlang dalam sejarah Tahta Suci yang memberikan banyak ajaran dan wejangan juga yang paling banyak mengadakan ziarah dan kunjungan ke negaraan dan pastoral ke berbagai Negara termasuk Indonesia.

Karol Josef Wojtyla melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi pada usia 18 tahun. Akibat perang dunia II, terpaksa menangguhkan kuliahnya, Karol bekerja di sebuah pertambangan dan pabrik kimia. Pada tahun 1942 ia masuk seminari, yang diselenggarakan di bawah tanah karena pendudukan Nazi. Setelah ditahbiskan menjadi imam (1946) ia segera disuruh ke Roma untuk belajar di Universitas Anglicum, sampai memperoleh gelar doktor dalam bidang etika. Setelah kembali ke Polandia (1948) ia bekerja sebagai pastor mahasiswa sambil meneruskan studinya pada Universitas Katolik Lublin untuk memperoleh gelar doktor dalam bidang teologi moral. Sejak itu ia mulal mengarang.

Ia berhasil menulis lebih dan seratus artikel dan beberapa buku, khususnya tentang Etika. Kemudian ia diangkat menjadi dosen (1953), lektor (1954) dan mahaguru etika pada Universitas Katolik Lublin, perguruan tinggi yang paling berprestasi di Polandia. Wojtyla ditahbiskan menjadi uskup (1958) pada usia 38 tahun. Ia mengikuti semua sidang konsili Vatikan Kedua (1962-1965) dan menyumbangkan buah pikirannya pada penyusunan Konsili Pastoral “Gereja dalam Dunia Modern”. Selain itu ia menyumbang pada Deklarasi tentang “Kebebasan Beragama” dan “Dektrit tentang alat- alat komunikasi sosial”. Untuk mewujudkan harapan-harapan Konsili, ia menulis buku “Dasar-Dasar Pembaharuan” (1972). Dengan gigih Uskup Krakow yang diangkat menjadi Kardinal (1967) ini membela hak asasi manusia, hak beragama, hak para buruh dan hak akan pendidikan agama di sekolah.

Sejak terpilihnya menjadi Paus, ia giat menjalankan tugasnya sebagai Uskup Roma dengan secara berkala mengadakan kunjungan ke paroki-paroki dan lembaga-lembaga keuskupannya. Jumlah orang yang mengikuti audensi umum setiap minggu di Vatikan atau Castel Gandolfo mencatat angka tertinggi dalam sejarah. Karismanya sangat menonjol. Program pribadinya tersirat dalam ensikliknya yang pertama “Redemptor Homini - Sang Penebus Manusia” (1979) dan masih banyak lagi ensiklik yang lain. Demikian pula Surat Apostolik Christifideles Laici — Orang Awam” (1989), merangkum hasil sinode para Uskup (1987).

Yohanes Paulus II ditembak dan jarak dekat pada tanggal 13 Mei 1981, ketika memasuki lapangan St. Petrus untuk menyampaikan pidato dalam sebuah audiensi umum. Si penembak, Mehmet Ali Agca, warga Negara Turki, mengaku bahwa dinas rahasia Bulgaria dan KGB Uni Soviet terlibat dalam usaha pembunuhan ini (1983). Pengakuannya itu cocok dengan dugaan kuat penyelidik kepolisian Italia.

Yohanes Paulus II sangat mendukung ekumene di antara Gereja- Gereja (pertemuan dengan permimpin gereja-gereja lain, perayaan ibadat bersama, khotbah dalam gereja Luteran di Roma dan kerukunan dengan umat-umat beragama bukan Kristen (kunjungan pertama seorang Paus pada sinagoga Yahudi, 1986, pesan-pesan pada Ramadhan, doa bersama denga wakil semua agama di Asisi, 1987 dan 1992). Paus Yohanes Paulus II sangat menjunjung kolegialitas para Uskup dan memprakasai sinode-sinode khusus (Belanda 1980, Eropa 1992, Ukrania 1991, Afrika 1994, Libanon 1995). Ia menginginkan pembaharuan Gereja dan re-evangelisasi Umat Kristen. Ia sangat berjasa pada Gereja.

Pada tahun 1989 Yohanes Paulus II mengunjungi Indonesia selama lima hari dan merayakan ibadat dengan umat di Jakarta tanggal 9 Oktober, Yogyakarta pada tanggal 10 Oktober, Maumere pada tanggal 11 Oktober, Dili pada tanggal 12 Oktober dan Medan Tuntungan pada tanggal 13 Oktober. Umat Katolik Indonesia dan rakyat serta pejabat Pemerintah Indonesia menerimanya dengan gembira dan antusias. Paus memberi kesan seorang rohaniwan yang pribadinya berakar dalam hubungan akrab dengan Tuhan dan mengusahakan damai dan kerukunan umat.

Pada tahun 1994 Yohanes Paulus II mengalami dua operasi berat dan agak lama karena kesehatannya kurang stabil, sehingga ia tidak dapat menghadiri semua sidang Sinode Afrika. Pada bulan Oktober 2002 Yohanes Paulus II mengeluarkan Ensiklik Rosarium Virginis yaitu tentang Rosario Bunda Perawan Maria dengan menambahkan Peristiwa Cahaya atau Peristiwa Terang dalam doa Rosario:
1. Yesus dibaptis di Sungai Yordan (Mat 3: 13-17).
2. Yesus menyatakan diriNya dalam pesta pernikahan di Kana (Yoh 2: 1-12)
3. Yesus memberitakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan (Mat 2,3,4; Mrk 1:15)
4. Yesus menampakkan kemuliaanNya (Mat 17: 1-9)
5. Yesus menetapkan Ekaristi (Mrk 14: 22-23; Luk 22. 19-29)

Dikutip dari Warta St. Kristoforus - edisi April 2005



copyright © April 2005 - www.guamaria.com